Kultum Ba’da Zhuhur II: Puasa Berbasis Riset

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Kultum MuhbibMasjid al-Jamiah, BERITA UIN Online– Ada tiga hal yang menarik di dalam ayat puasa Surat al-Baqoroh ayat 183. Demikian ungkap Dr Muhbib A Wahab, Dosen Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) mengawali materi Kultum ba’da Zhuhur di Masjid al-Jamiah Student Center UIN Jakarta, Senin (22/6/2015).

Muhbib yang mewakili Dekan FITK menguraikan, pertama di awal ayat puasa yang dipanggil adalah orang-orang yang beriman. “Ini berarti puasa harus didasari keimanan,” ujar Muhbib sambil menyebutkan hadis Rasulullah saw tentang orang yang berpuasa berdasarkan keimanan dan perhitungan akan diampuni dosa-dosanya.

Kedua, sambungnya, berisi perintah kalimat berita biasa dilengkapi kewajiban yang sama pada umat terdahulu. “Artinya usia puasa sudah sangat lama, lintas generasi dan agama,” terang Muhbib sambil melanjutkan, “Pada ayat terakhir dengan berpuasa diharapkan akan lahir ketakwaan, la’allakum tattaquun.

Menurut pria kelahiran Lamongan ini, ada dua kali kata “Khoir” diulang dalam ayat puasa. Khoir pertama mengindikasikan orientasi puasa adalah khoiriyah, kepribadian baik yang melimpah dan khoir kedua menandakan puasa itu lebih baik dari tidak berpuasa.

“Puasa itu harus dengan ilmu agar kita betul-betul mengetahui manfaat yang banyak dari puasa,” papar Mubib.

Dalam ayat puasa tersebut, doktor bidang Bahasa Arab ini menyimpulkan bahwa puasa harus berbasis iman dan riset dengan ilmu-ilmu yang dimiliki agar puasa dapat bermakna.

Muhbib menyebutkan banyaknya manfaat yang didapat dengan berpuasa. Dicontohkannya, puasa itu menyehatkan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan mengurangi aktifitas makan dan minum bisa meningkatkan imunitas terhadap penyakit.

“Satu hari puasa, daya imunitas meningkat 10 kali lipat. Itu artinya kotoran-kotoran dan racun itu bisa dibersihkan untuk 10 hari ke depan dengan satu hari puasa,” terang Muhbib sambil mengutip hadis berpuasa Ramadhan ditambah enam hari setelahnya (Syawal) sama dengan proses detok selama satu tahun.

“Ini sangat logis dari segi kesehatan. Sedangkan dari segi pahala, puasa sebulan ditambah enam hari Syawal dikalikan 10, hasilnya adalah satu tahun (360 hari) sebagaimana dikemukakan Imam Nawawi,” kutip Muhbib.

Dalam Kitab as-Shiyam Mu’jizah Ilmiyah Abu Jawad ash-Shofi, lanjut Muhbib, hanya di Ramadhan jantung bisa beristirahat. Di luar Ramadhan, satu menit jantung berdetak 72 kali, sedangkan di Ramadhan satu menit berdetak 60 kali. Berarti ada selisih 12 detik.

“Ini sesuai dengan ilmu kesehatan, puasa dapat meningkatkan kesehatan jantung kita 12 persen ketimbang di luar Ramadhan,” tandas dosen teladan FITK tahun 2015 ini.

Manajemen dan Medis dalam Puasa

Selain dari segi kesehatan dan pahala, Muhbib menyebut puasa sebagai TQM (Total Quality Management) dalam banyak hal terutama dalam urusan mengatur perut, yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafas, sehingga termenej secara proporsianal dan tidak berlebihan.

Muhbib menegaskan tantangan terberat bagi orang puasa adalah saat berbuka. Sukses puasa seharian belum tentu sukses ketika azan Maghrib, “Banyak puasanya balas dendam, apa saja masuk,” canda Muhbib.

Sebagaimana hadis Rasul saw yang as-saumu junnah (puasa itu benteng), menurut Muhbib itu sesuai dengan hasil penelitian medis yang berkesimpulan puasa sebagai penangkal dan terapi penyakit.

Riset di Amerika membuktikan seseorang sembuh dari migrain berkepanjangan setelah menjalani puasa. Di Inggris pengidap diabetes yang membiasakan diri berpuasa, perlahan tapi pasti diabetesnya dapat sembuh.

“Setelah sembuh dari penyakitnya itu, orang tersebut masuk Islam,” tandas Muhbib.

Menurut Muhbib, banyak orang sakit itu disebabkan ulahnya sendiri. Untuk itu, dia memberikan empat tips agar terhindar dari penyakit, yaitu menghindari banyak bicara (al-kalaamul katsir), banyak tidur (an-naumul katsir), banyak makan (al-aklul katsir) dan banyak berhubungan suami istri (al-jima’ul katsir).

Di akhir kultumnya, Muhbib mengajak untuk memaknai puasa dengan semakin mempelajari dan menambah wawasan ilmu puasa, sehingga puasanya meningkat dari level puasa awam (kelas ekonomi) ke level khusus (kelas bisnis) sampai level tertinggi, yaitu khushusul khusus (kelas eksekutif).

Puasa syamil, totalitas, komprehensif, semua panca indera puasa sehingga tujuan puasa tercapai,” tutup Muhbib. (Muhammad Furqon)