Mudik yang Mencerahkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Dr Ahmad Tholabi Kharlie

Di negeri kita, mudik untuk berlebaran di kampung halaman tidak hanya telah menjadi tradisi tahunan. Tapi, lebih dari itu, ia menjadi alternatif pemenuhan hasrat dan kerinduan akan asal muasal. Inilah sebab mengapa orang demikian menggebu untuk berlebaran di kampung halaman.

 

Dalam pelbagai sumber otoritatif keagamaan, Lebaran atau Idul Fitri digambarkan sebagai puncak kebahagiaan umat Islam setelah melampaui tempaan selama sebulan suntuk dalam madrasah puasa sehingga disebut sebagai hari kemenangan. Maka, Lebaran dalam konteks yang lebih relevan hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah memenangi ‘pertempuran’ melawan hawa nafsu, yang oleh Rasulullah dinilai lebih dahsyat dibanding Perang Badar. Namun demikian, jika kita cermati lebih mendalam, momentum Lebaran tidak sekadar memicu kegembiraan usai Ramadhan (farhatun inda al-ifthar), tapi juga menggambarkan bagaimana manusia menemukan kembali hakikat dirinya (man as a such) sehingga melahirkan gairah spiritualitas yang murni sebagaimana manusia kala pertama dilahirkan. Tentu, keceriaan lahir dan batin ini akan kian terasa bermakna jika dirayakan di tempat asal bersama orang-orang terdekat.

 

Kecenderungan positif

Dalam diri manusia telah dibekali dua potensi yang berbeda secara diametral, yakni keburukan (fujur) dan kebaikan (takwa). Demikian Allah menginformasikan secara gamblang dalam Alquran (QS [91]:8). Kedua, potensi tersebut demikian inheren dalam diri manusia, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada manusia yang pure dalam keburukannya. Begitu pun sebaliknya, tak seorang manusia pun yang senantiasa konsisten dalam kebenaran. Akan terus terjadi pasang surut sesuai dengan kodrat manusia yang sering kali berubah (al-iman yazid wa yanqush).

 

Dalam kondisi semacam inilah, Allah memuji orang-orang yang senantiasa menyucikan atau mengasah potensi kebaikannya (QS [91]:8). Orang-orang semacam ini digambarkan Alquran akan meraih kebahagiaan karena senantiasa memerhatikan kebutuhan jiwanya yang haus terhadap spiritualitas yang sejati. Inilah yang diharapkan dari ibadah puasa yang diwajibkan kepada umat Islam sebagai wujud pengabdian hamba kepada Tuhan dan sarana riyadhah ruhaniyyah atau pelatihan spiritual dalam rangka membentuk manusia paripurna, yang oleh Alquran disebut dengan takwa (muttaqin).

 

Menjadikan puasa sebagai wahana pembentukan jati diri yang paripurna tak lepas dari ketetapan Tuhan bahwa pada dasarnya manusia lebih cenderung pada aspek kebaikannya (QS [2]: 286). Dalam diri manusia, terdapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk berbuat kebajikan. Inilah yang disebut sebagai fitrah, yakni potensi sejati yang melekat pada diri setiap manusia. Tinggal seberapa besar upaya manusia untuk meraihnya. Maka, dalam konteks inilah, Islam menuntun umatnya melalui madrasah puasa di bulan Ramadhan.

 

Pada gilirannya, Ramadhan akan mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Orang-orang yang sukses menjalani ibadah puasa akan menjadi manusia yang salih secara spiritual dan sosial. Pada kondisi semacam inilah, akan lahir sebuah universal harmony, yakni suatu kesadaran yang telah membawa banyak manusia era ini pada konspirasi baru dalam melihat dunia. Oleh karena itulah, Idul Fitri menjadi lembaran baru untuk menatap dan menjalani hidup selanjutnya.

 

Tradisi mudik tidak hanya melahirkan nuansa kebudayaan. Karena, sebagai sebuah tradisi menyambut hari raya atau momentum penting lainnya, mudik juga dikenal di belahan dunia lain. Misalnya, tradisi Thanks Giving Days ala Amerika, di mana terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran menuju kampung halamannya, tak ubahnya mudik Lebaran di Indonesia. Inilah kecenderungan universal yang menandai datangnya peristiwa penting dan membahagiakan bersama sanak famili di kampung halaman. Sebagai gejala sosial, mudik telah melahirkan ekses-ekses yang meluas, mulai dari kerawanan sosial, keamanan, hingga politik. Tak heran jika pemerintah dan segenap aparat keamanan menyikapi fenomena mudik secara khusus dan terprogram. Di pihak lain, keinginan untuk merayakan Lebaran di kampung halaman dan kerinduan akan indahnya romantika masa lalu ternyata tidak sedikit pun menyurutkan langkah orang untuk melakoni mudik meski sarat dengan rintangan dan bahkan risiko yang tidak ringan.

 

Dari titik ini, tampak bahwa mudik bukanlah proses mudah, tapi sarat risiko. Orang yang akan mudik tentu memerlukan persiapan-persiapan yang memadai, mulai dari transportasi, stamina tubuh, bekal di perjalanan, dan buah tangan untuk famili di kampung halaman. Intinya, untuk dapat mudik, seseorang harus menyediakan modal yang besar dan pengorbanan.

 

Namun, demi sebuah penemuan kembali akar kehidupan yang esensial serta asal muasal yang melahirkan cita kebahagiaan, seluruh pengorbanan dan rintangan tak lagi menjadi hambatan yang berarti. Inilah makna dan tujuan eksoterik yang dikandung dalam fenomena mudik.

 

Tentu, fenomena visual ini akan kian bermakna dan melengkapi etos spiritualitas Ramadhan jika ditransformasikan dalam konsep yang esoterik. Kerinduan terhadap kampung halaman dan asal muasal lewat tradisi mudik dijadikan simbol atau ditindaklanjuti dalam bentuk kerinduan dan kebutuhan spiritualitas kita akan Tuhan dan potensi kebenaran yang inheren dalam setiap diri manusia. Mudik dalam konteks inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh agama kita sebagai manifestasi pelatihan spiritual yang telah digelar di bulan Ramadhan. Jika kita semua menyadari hakikat mudik dalam konteks spiritualitas tersebut, energi yang demikian besar yang kita keluarkan untuk sekadar berlebaran dengan sanak famili di kampung halaman tentu akan juga dengan mudah kita keluarkan demi meraih kembali atau mudik ke fitrah kita masing-masing.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 16 September 2009

Penulis adalah Lektor Kepala pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Mudik yang Mencerahkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Dr Ahmad Tholabi Kharlie

Di negeri kita, mudik untuk berlebaran di kampung halaman tidak hanya telah menjadi tradisi tahunan. Tapi, lebih dari itu, ia menjadi alternatif pemenuhan hasrat dan kerinduan akan asal muasal. Inilah sebab mengapa orang demikian menggebu untuk berlebaran di kampung halaman.

 

Dalam pelbagai sumber otoritatif keagamaan, Lebaran atau Idul Fitri digambarkan sebagai puncak kebahagiaan umat Islam setelah melampaui tempaan selama sebulan suntuk dalam madrasah puasa sehingga disebut sebagai hari kemenangan. Maka, Lebaran dalam konteks yang lebih relevan hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah memenangi ‘pertempuran’ melawan hawa nafsu, yang oleh Rasulullah dinilai lebih dahsyat dibanding Perang Badar. Namun demikian, jika kita cermati lebih mendalam, momentum Lebaran tidak sekadar memicu kegembiraan usai Ramadhan (farhatun inda al-ifthar), tapi juga menggambarkan bagaimana manusia menemukan kembali hakikat dirinya (man as a such) sehingga melahirkan gairah spiritualitas yang murni sebagaimana manusia kala pertama dilahirkan. Tentu, keceriaan lahir dan batin ini akan kian terasa bermakna jika dirayakan di tempat asal bersama orang-orang terdekat.

 

Kecenderungan positif

Dalam diri manusia telah dibekali dua potensi yang berbeda secara diametral, yakni keburukan (fujur) dan kebaikan (takwa). Demikian Allah menginformasikan secara gamblang dalam Alquran (QS [91]:8). Kedua, potensi tersebut demikian inheren dalam diri manusia, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada manusia yang pure dalam keburukannya. Begitu pun sebaliknya, tak seorang manusia pun yang senantiasa konsisten dalam kebenaran. Akan terus terjadi pasang surut sesuai dengan kodrat manusia yang sering kali berubah (al-iman yazid wa yanqush).

 

Dalam kondisi semacam inilah, Allah memuji orang-orang yang senantiasa menyucikan atau mengasah potensi kebaikannya (QS [91]:8). Orang-orang semacam ini digambarkan Alquran akan meraih kebahagiaan karena senantiasa memerhatikan kebutuhan jiwanya yang haus terhadap spiritualitas yang sejati. Inilah yang diharapkan dari ibadah puasa yang diwajibkan kepada umat Islam sebagai wujud pengabdian hamba kepada Tuhan dan sarana riyadhah ruhaniyyah atau pelatihan spiritual dalam rangka membentuk manusia paripurna, yang oleh Alquran disebut dengan takwa (muttaqin).

 

Menjadikan puasa sebagai wahana pembentukan jati diri yang paripurna tak lepas dari ketetapan Tuhan bahwa pada dasarnya manusia lebih cenderung pada aspek kebaikannya (QS [2]: 286). Dalam diri manusia, terdapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk berbuat kebajikan. Inilah yang disebut sebagai fitrah, yakni potensi sejati yang melekat pada diri setiap manusia. Tinggal seberapa besar upaya manusia untuk meraihnya. Maka, dalam konteks inilah, Islam menuntun umatnya melalui madrasah puasa di bulan Ramadhan.

 

Pada gilirannya, Ramadhan akan mentransformasikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Orang-orang yang sukses menjalani ibadah puasa akan menjadi manusia yang salih secara spiritual dan sosial. Pada kondisi semacam inilah, akan lahir sebuah universal harmony, yakni suatu kesadaran yang telah membawa banyak manusia era ini pada konspirasi baru dalam melihat dunia. Oleh karena itulah, Idul Fitri menjadi lembaran baru untuk menatap dan menjalani hidup selanjutnya.

 

Tradisi mudik tidak hanya melahirkan nuansa kebudayaan. Karena, sebagai sebuah tradisi menyambut hari raya atau momentum penting lainnya, mudik juga dikenal di belahan dunia lain. Misalnya, tradisi Thanks Giving Days ala Amerika, di mana terjadi eksodus masyarakat secara besar-besaran menuju kampung halamannya, tak ubahnya mudik Lebaran di Indonesia. Inilah kecenderungan universal yang menandai datangnya peristiwa penting dan membahagiakan bersama sanak famili di kampung halaman. Sebagai gejala sosial, mudik telah melahirkan ekses-ekses yang meluas, mulai dari kerawanan sosial, keamanan, hingga politik. Tak heran jika pemerintah dan segenap aparat keamanan menyikapi fenomena mudik secara khusus dan terprogram. Di pihak lain, keinginan untuk merayakan Lebaran di kampung halaman dan kerinduan akan indahnya romantika masa lalu ternyata tidak sedikit pun menyurutkan langkah orang untuk melakoni mudik meski sarat dengan rintangan dan bahkan risiko yang tidak ringan.

 

Dari titik ini, tampak bahwa mudik bukanlah proses mudah, tapi sarat risiko. Orang yang akan mudik tentu memerlukan persiapan-persiapan yang memadai, mulai dari transportasi, stamina tubuh, bekal di perjalanan, dan buah tangan untuk famili di kampung halaman. Intinya, untuk dapat mudik, seseorang harus menyediakan modal yang besar dan pengorbanan.

 

Namun, demi sebuah penemuan kembali akar kehidupan yang esensial serta asal muasal yang melahirkan cita kebahagiaan, seluruh pengorbanan dan rintangan tak lagi menjadi hambatan yang berarti. Inilah makna dan tujuan eksoterik yang dikandung dalam fenomena mudik.

 

Tentu, fenomena visual ini akan kian bermakna dan melengkapi etos spiritualitas Ramadhan jika ditransformasikan dalam konsep yang esoterik. Kerinduan terhadap kampung halaman dan asal muasal lewat tradisi mudik dijadikan simbol atau ditindaklanjuti dalam bentuk kerinduan dan kebutuhan spiritualitas kita akan Tuhan dan potensi kebenaran yang inheren dalam setiap diri manusia. Mudik dalam konteks inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh agama kita sebagai manifestasi pelatihan spiritual yang telah digelar di bulan Ramadhan. Jika kita semua menyadari hakikat mudik dalam konteks spiritualitas tersebut, energi yang demikian besar yang kita keluarkan untuk sekadar berlebaran dengan sanak famili di kampung halaman tentu akan juga dengan mudah kita keluarkan demi meraih kembali atau mudik ke fitrah kita masing-masing.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 16 September 2009

Penulis adalah Lektor Kepala pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta