MPR Apresiasi Program Kerukunan Umat Beragama CSRC UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung MPR, BERITA UIN Online–Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengapresiasi program pengembangan kerukunan antarumat beragama yang dilakukan Center for the Stdy og Religion and Culter (CSRC) UIN Jakarta. Usaha tersebut merupakan langkah tepat untuk menjaga keutuhan berbanga dan bernegara.

“Kami mendukung apa yang dilakukan teman-teman di CSRC. Ini sejalan dengan empat pilar MPR yang telah dan sedang  disosialisasikan kepada masyarakat, yaitu, Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar itu harus kita jaga bersama,” ujar Wakil Ketua MPR Drs Lukman Hakim Saefuddin, MSi kepada peserta “Follow Up Traning Penguatan Moderatisme Keagamaan Bagi Tokoh Muda Lintas Agama” di Gedung MPR , Kamis (29/3).

Menurut Lukman, sosialisasi gagasan hidup saling menghormati antarumat beragama harus disebarkan kepada para tokoh agama. Dengan demikian, konflik-konflik sosial yang terjadi di masyarakat bisa dikendalikan, bahkan dicegah. “Konflik itu terjadi karena kurangnya pemahaman antarumat. Kalau kita saling memahami perbedaan, maka konflik itu bisa dihindari,”katanya.

Kehadiran dan keikutsertaan para tokoh muda lintas agama ini dalam kegiatan tersebut, kata politisi PPP, menjadi penting dan sangat dibutuhkan. “Kalau bisa nanti ada di antara peserta ikut serta traning kita untuk sosialisasi empat pilar itu,”imbuh Lukman menawarkan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur CSRC UIN Jakarta, Irfan Abu Bakar MA, menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memberikan pemahamaan hidup saling toleransi kepada para tokoh muda lintas agama. “Keikutsertaan mereka ini untuk membantu bagaimana kehidupan umat beragama  dapat dibangun atas dasar saling menghormati, bukannya saling curiga,”tegas Irfan.

Ia menambahkan, pihaknya sengaja mendesain kegiatan tersebut, karena belakngan ini konflik sosial berlatar belakang agama masih terjadi di akar rumput. “Dengan memberikan pemahaman kepada tokoh muda lintas agama tentang moderatisme beragama, diharapkan mereka mampu menetralisir berbagai perbedaan,”tandasnya.

Kegiatan Follow Up Traning yang digelar selama empat hari itu diikuti 30 peserta dari berbagai lembaga swadaya (LSM)  dan organisasi pemuda keagamaan.  “10 peserta dari mereka berasal dari Provinsi Papua. Mereka ada yang Muslim, Katholik, dan Kristen,”sambung Irfan.

Atas kegiatan tersebut, Hamka, peserta dari Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) Jayapura, mengakui manfaat kegiatan tersebut. “Kita jadi saling kenal dan memahami masalah-masalah pada masing-masing agama,”katanya.

Kegiatan CSRC itu, sambung dia, juga menambah wawasan kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga antara satu kelompok dengan kelompok yang lain dapat saling menghargai. (zaenal m)