Moskow

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Oleh Azyumardi Azra

Moskow hari-hari ini dan agaknya juga ke depan adalah sebuah kontras dan ironi sejarah. Ibukota Rusia ini, sekarang hampir tidak lagi menyisakan banyak pertanda sebagai kota yang pernah menjadi pusat dunia sosialis-komunis, yang mampu menyaingi blok kapitalis di bawah pimpinan Amerika Serikat; inilah realitas Perang Dingin yang sebenarnya tak bisa terhapus begitu saja dalam buku-buku sejarah.

Ironis. Kini Moskow tidak ubah seperti kota-kota kapitalis, di manapun di bagian dunia lain. Moskow adalah lanskap perkotaan yang hiruk pikuk, penuh kemacetan di jalanan, lalu lintas yang semrawut saling serobot di antara mobil-mobil. Dalam hal lalu lintas, Moskow tidak lebih baik daripada Jakarta kecuali tidak ada motor yang meliuk-liuk di jalanan, seperti lazim di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Saya tanya kepada beberapa orang Rusia, kenapa lalu lintas di Moskow begitu semrawut. Mereka jawab, karena umumnya mereka baru pertama kali punya mobil; dan karena itu ada kecenderungan mau pamer (show off) dan mau menang sendiri di jalanan.

Jalanan Moskow dipenuhi banyak mobil impor baru-baru dan mewah, buatan Jerman, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan. Mobil “Lada” mobil buatan Soviet atau Rusia sendiri, dengan bentuknya yang “primitif” sulit terlihat di jalanan, tersingkir dalam persaingan survival of the fittests.

Semua itu memperlihatkan Moskow hari ini sebagai “kota kapitalis”; kota dengan biaya hidup sangat mahal. Dan tidak kurang simboliknya, berbagai restoran waralaba, dan mal-mal yang menjual barang-barang branded yang mencirikan dunia kapitalis secara mencolok hadir di Moskow, bahkan di depan Kremlin tempat mayat Stalin yang diawetkan tersimpan; tokoh yang pernah menjadi salah satu simbol kedigjayaan Uni Soviet.

Moskow, inilah kota yang pada masa Perang Dunia II dan Perang Dingin merupakan pusat dari dua poros dunia; satunya lagi adalah Washington DC. Dari sinilah Blok Timur, Dunia sosialis-komunis dikendalikan dalam persaingan dan pertarungan menghadapi Blok Barat di bawah pimpinan AS. Dua blok kekuatan adikuasa, yang berebutan pengaruh di berbagai wilayah dunia, yang untungnya tidak sampai menjerumuskan dunia ke dalam perang nuklir yang memusnahkan.

Persepsi banyak kalangan dunia luar termasuk saya tentang Moskow masih banyak diwarnai fenomena Perang Dingin tersebut. Dalam persepsi ini, Moskow adalah sebuah kota yang “angker”, kaku dan “dingin”, yang kurang bersahabat. Ketika orang mendengar nama Kremlin atau Lapangan Merah (Red Square), dalam bayangannya, kedua tempat ini tak lain adalah simbol otorianisme rejim-rejim komunis Uni Soviet yang pernah begitu dominan dalam sejarah moderen negara ini.

Citra seperti itu tetap bertahan, meski Soviet telah runtuh di tengah gegap gempita reformasi yang dikenal dengan istilah perestroika dan glasnost yang diperkenalkan Presiden Mikhail Gorbachev sepanjang masa pemerintahannya (1985-1991). Reformasi ini tidak hanya membawa keterbukaan negeri “beruang es”, yang juga sekaligus membuat bubarnya Uni Soviet pada 25 Desember 1991 sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Presiden Boris Yeltsin yang menggantikan Gorbachev tidak mampu membendung arus sejarah; akhirnya pada 1 Februari 1992 Yeltsin menandatangani Deklarasi Rusia-AS tentang berakhirnya Perang Dingin.

Datang pertama kali ke Moskow atas undangan Dutabesar RI Hamid Awaluddin dan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Deplu RI pada awal Juni 2009 lalu untuk serangkaian konperensi dan ceramah, saya terkaget-kaget menemukan Moskow yang lain dengan bayangan saya selama ini. Moskow begitu cepat dan radikal berubah, meski sisa-sisa mentalitas masa lalu tetap bertahan.

Salah satu contohnya adalah sikap kaku petugas imigrasi yang sentralistik. Satu pagi, ketika mau check in di Bandara menuju St Petersburg, petugas imigrasi menolak karena saya sudah lebih tiga hari di Rusia dan sesuai ketentuan harus sudah ada bukti “wajib lapor”. Tapi, saya memang tidak melapor, karena menginap di Wisma Duta, KBRI London.

Tetapi sang petugas ngotot dan meminta ikut bersamanya ke kantor petugas lain, yang lokasinya cukup jauh. Hal yang mirip juga terjadi ketika check-in mau kembali ke Moskow. Kita seolah dipimpong dari satu ke meja, sebelum masalah bisa diselesaikan sebuah sentralisme yang kaku dan menyiksa.

Tapi itulah Moskow. Di tengah dunia yang uni-polar seusai runtuhnya Uni Soviet khususnya pada masa Pasca 11 September 2001, banyak masyarakat dunia berharap agar Rusia dapat kembali muncul sebagai kekuatan pengimbang. Tetapi harapan ini nampaknya masih sulit terwujud, karena Rusia kini masih berjuang mengatasi berbagai masalah domestik yang membuatnya harus lebih fokus ke dalam daripada ke luar.

 
 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 25 Juni 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

 

 
 

Moskow

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Oleh Azyumardi Azra

Moskow hari-hari ini dan agaknya juga ke depan adalah sebuah kontras dan ironi sejarah. Ibukota Rusia ini, sekarang hampir tidak lagi menyisakan banyak pertanda sebagai kota yang pernah menjadi pusat dunia sosialis-komunis, yang mampu menyaingi blok kapitalis di bawah pimpinan Amerika Serikat; inilah realitas Perang Dingin yang sebenarnya tak bisa terhapus begitu saja dalam buku-buku sejarah.

Ironis. Kini Moskow tidak ubah seperti kota-kota kapitalis, di manapun di bagian dunia lain. Moskow adalah lanskap perkotaan yang hiruk pikuk, penuh kemacetan di jalanan, lalu lintas yang semrawut saling serobot di antara mobil-mobil. Dalam hal lalu lintas, Moskow tidak lebih baik daripada Jakarta kecuali tidak ada motor yang meliuk-liuk di jalanan, seperti lazim di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Saya tanya kepada beberapa orang Rusia, kenapa lalu lintas di Moskow begitu semrawut. Mereka jawab, karena umumnya mereka baru pertama kali punya mobil; dan karena itu ada kecenderungan mau pamer (show off) dan mau menang sendiri di jalanan.

Jalanan Moskow dipenuhi banyak mobil impor baru-baru dan mewah, buatan Jerman, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan. Mobil “Lada” mobil buatan Soviet atau Rusia sendiri, dengan bentuknya yang “primitif” sulit terlihat di jalanan, tersingkir dalam persaingan survival of the fittests.

Semua itu memperlihatkan Moskow hari ini sebagai “kota kapitalis”; kota dengan biaya hidup sangat mahal. Dan tidak kurang simboliknya, berbagai restoran waralaba, dan mal-mal yang menjual barang-barang branded yang mencirikan dunia kapitalis secara mencolok hadir di Moskow, bahkan di depan Kremlin tempat mayat Stalin yang diawetkan tersimpan; tokoh yang pernah menjadi salah satu simbol kedigjayaan Uni Soviet.

Moskow, inilah kota yang pada masa Perang Dunia II dan Perang Dingin merupakan pusat dari dua poros dunia; satunya lagi adalah Washington DC. Dari sinilah Blok Timur, Dunia sosialis-komunis dikendalikan dalam persaingan dan pertarungan menghadapi Blok Barat di bawah pimpinan AS. Dua blok kekuatan adikuasa, yang berebutan pengaruh di berbagai wilayah dunia, yang untungnya tidak sampai menjerumuskan dunia ke dalam perang nuklir yang memusnahkan.

Persepsi banyak kalangan dunia luar termasuk saya tentang Moskow masih banyak diwarnai fenomena Perang Dingin tersebut. Dalam persepsi ini, Moskow adalah sebuah kota yang “angker”, kaku dan “dingin”, yang kurang bersahabat. Ketika orang mendengar nama Kremlin atau Lapangan Merah (Red Square), dalam bayangannya, kedua tempat ini tak lain adalah simbol otorianisme rejim-rejim komunis Uni Soviet yang pernah begitu dominan dalam sejarah moderen negara ini.

Citra seperti itu tetap bertahan, meski Soviet telah runtuh di tengah gegap gempita reformasi yang dikenal dengan istilah perestroika dan glasnost yang diperkenalkan Presiden Mikhail Gorbachev sepanjang masa pemerintahannya (1985-1991). Reformasi ini tidak hanya membawa keterbukaan negeri “beruang es”, yang juga sekaligus membuat bubarnya Uni Soviet pada 25 Desember 1991 sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Presiden Boris Yeltsin yang menggantikan Gorbachev tidak mampu membendung arus sejarah; akhirnya pada 1 Februari 1992 Yeltsin menandatangani Deklarasi Rusia-AS tentang berakhirnya Perang Dingin.

Datang pertama kali ke Moskow atas undangan Dutabesar RI Hamid Awaluddin dan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Deplu RI pada awal Juni 2009 lalu untuk serangkaian konperensi dan ceramah, saya terkaget-kaget menemukan Moskow yang lain dengan bayangan saya selama ini. Moskow begitu cepat dan radikal berubah, meski sisa-sisa mentalitas masa lalu tetap bertahan.

Salah satu contohnya adalah sikap kaku petugas imigrasi yang sentralistik. Satu pagi, ketika mau check in di Bandara menuju St Petersburg, petugas imigrasi menolak karena saya sudah lebih tiga hari di Rusia dan sesuai ketentuan harus sudah ada bukti “wajib lapor”. Tapi, saya memang tidak melapor, karena menginap di Wisma Duta, KBRI London.

Tetapi sang petugas ngotot dan meminta ikut bersamanya ke kantor petugas lain, yang lokasinya cukup jauh. Hal yang mirip juga terjadi ketika check-in mau kembali ke Moskow. Kita seolah dipimpong dari satu ke meja, sebelum masalah bisa diselesaikan sebuah sentralisme yang kaku dan menyiksa.

Tapi itulah Moskow. Di tengah dunia yang uni-polar seusai runtuhnya Uni Soviet khususnya pada masa Pasca 11 September 2001, banyak masyarakat dunia berharap agar Rusia dapat kembali muncul sebagai kekuatan pengimbang. Tetapi harapan ini nampaknya masih sulit terwujud, karena Rusia kini masih berjuang mengatasi berbagai masalah domestik yang membuatnya harus lebih fokus ke dalam daripada ke luar.

 
 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 25 Juni 2009

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta