Mohon Perhatian

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





 

DALAM berkomunikasi kita melibatkan telinga, mulut, pikiran, mata, dan tangan. Tetapi coba renungkan, mengapa yang diminta adalah ”hati”? Per-hati-kan judul di atas: mohon per-hati-an! Mengapa bukan ”mohon per-telinga-an? Atau cermati ungkapan berikut ini: Harap diper-hati-kan! Kalau mengendarai mobil yang ”hati-hati”.


Kalau menyeberang jalan mesti ”hati-hati”. Dia ditangkap KPK dan sekarang masuk tahanan karena tidak ”hati-hati” ketika jadi pimpinan. Sungguh luar biasa dan mengagumkan siapa yang menciptakan dan menggunakan istilah ”hati” ini menjadi khazanah bahasa Indonesia dan dalam komunikasi keseharian.

 

Dalam bahasa Inggris dan Arab, terdapat beragam kata yang serumpun dengan kata ”hati”,yang semuanya berkaitan dengan sikap batin yang selalu ingin mendapatkan rasa damai, kasih, sadar, tulus, dan peduli serta cinta. Ketika kita bingung memutuskan suatu perkara, dianjurkan agar mendengarkan ”hati nurani” atau ”suara hati”.

Ketika hendak memilih pasangan hidup,orang tua selalu pesan, ”Sing ati-ati, milih konco urip kanggo sak lawase (yang hati-hati memilih teman hidup untuk selamanya).” Demikian vitalnya peran hati, sehingga Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, siapa pun yang hatinya baik, baiklah semua perilakunya.

 

Siapa yang hatinya sakit, sakitlah semua amalnya. Jadi, betapa sentralnya peran ”hati” dalam kehidupan sehari-hari, karena dari situlah terpancar energi kebaikan dan keburukan, dorongan ke arah kemuliaan atau kenistaan. Karena suara hati selalu mengajak pada kebaikan, orang bijak mesti mendengarkan kata hatinya sebelum berbicara dan bertindak.

 

Hati nurani adalah guru, pembimbing, dan konsultan yang tidak mau berbohong. Terlebih jika hati ini selalu diterangi dan ditambah energi Ilahi, maka akan semakin kuat dan jelas petuahnya agar kita berada di jalan yang benar, yang baik, dan ingin menggembirakan sesama.

 

Salah satu fungsi ibadah dan puasa adalah untuk membersihkan kotoran-kotoran agar tidak mengeras dan berkarat sehingga menutupi (to cover, kafara, kafir) masuknya cahaya Ilahi untuk menerangi relung hati. Kalau sudah tertutup (has been covered), maka suara hati nurani bisa kalah, suaranya lemah, perintahnya tidak wibawa.

 

Yang cenderung terjadi, seseorang lalu begitu rentan dipengaruhi dan dikendalikan oleh nafsu rendahan yang hanya mengejar kenikmatan fisik (physical pleasure) dengan mengorbankan kebahagiaan moral-spiritual (moral spiritual happiness). Kenikmatan fisik durasinya pendek, dan semakin tua usia seseorang, semakin kecil kenikmatan fisik yang bisa diraih.

 

Ketika kesehatan kian menurun, berbagai macam penyakit berdatangan, satu per satu kenikmatan fisik menyatakan ”selamat jalan”. Dulu ketika masih berstatus mahasiswa, ingin makan enak tidak punya uang; setelah tua, punya jabatan tinggi dan uang berlebih, tidak boleh makan enak. Sungguh, kalau saja direnungkan, betapa singkatnya kenikmatan dunia melayani dan memanjakan kita.

 

Tetapi mereka yang hatinya selalu berjaga, selalu aktif,dan senantiasa disirami dengan energi cahaya Ilahi, semakin tua usia seseorang, hatinya justru semakin sehat, semakin lapang,dan semakin bijak sehingga kebahagiaan yang akan diraih justru lebih tinggi kualitasnya, yaitu kebahagiaan moral-spiritual.

 

Jika kebahagiaan fisik (physical happiness) didapat dengan mengumpulkan dan menumpuk materi, kebahagiaan moral-spiritual didapat justru dengan banyak memberi dan berbagi kepada sesama. The more You give, the more You recieve. Tak ada dermawan jatuh miskin, justru rezekinya semakin berkah dan bertambah.

 

Ketika memberi dengan penuh ikhlas, sesungguhnya seseorang tengah menabung dengan bunga berlipat ganda sebagaimana dijanjikan Tuhan. Jadi, menjalani hidup mesti ”hati-hati”. Mesti didengarkan suara hati yang selalu membisikkan kebenaran, kebaikan dan kedamaian. Tentu saja pikiran harus juga digunakan, namun mesti didampingi dengan hati.

 

Tanpa didampingi hati nurani, kecerdasan yang berdampingan dengan nafsu serakah bisa berbuat sangat kejam, tidak mengenal belas kasih. Pikiran bertugas memecahkan problem teknis, sedangkan hati yang memberikan makna dan arah kehidupan. Misalnya bagaimana menciptakan mobil, itu tugas pikiran yang kemudian dibantu keterampilan tangan.

 

Bagaimana menciptakan telepon, itu prestasi kecerdasan nalar.Tetapi jika ditanyakan, untuk apa mobil dan telepon diciptakan, hati nurani yang mestinya menjawab. Mobil diciptakan bukan untuk berperang, bukan untuk pamer, bukan untuk menaikkan gengsi, tetapi mempermudah silaturahmi, mempermudah cari nafkah, mempermudah anak-anak berangkat sekolah yang semua itu bermuara agar hidup ini semakin berkualitas dan bermakna baik di hadapan manusia maupun Tuhan.

 

Sadar bahwa yang dimohon adalah per-hati-an, maka mestinya yang diberikan adalah hati. Menyadari agar semua tugas harus dilaksanakan dengan hati-hati– ingat kata ”hati” sampai diulang dua kali—maka ketika melaksanakan tugas juga harus sepenuh hati. Lagi-lagi, betapa dalam dan bijaknya orangtua yang menyelipkan kata ”hati” dalam bahasa Indonesia.

 

Saya belum tahu apakah bahasa lain memiliki wisdomseindah itu? Bagaimana bekerja dengan menghadirkan hati? Contoh paling mudah dan nyata adalah sewaktu berdoa. Ketika berdoa, yang mesti hadir dan berbicara adalah hatinya. Peran mulut hanyalah membantu agar hati fokus dalam berdoa.

 

Jadi, ketika yang berdoa hanya mulut, meski hafal dan keras, tetapi hatinya absen, maka itu bukanlah berdoa, melainkan hanya melafalkan kalimat doa. Ketika sembahyang hatinya tidak hadir dan fokus pada Tuhan, secara ekstrem itu bukanlah sembahyang, melainkan olahraga menyerupai gerak sembahyang.

 

Saya sendiri sering merenung, mengapa ada buku yang usianya sudah puluhan dan ratusan masih terasa segar dan menyegarkan ketika dibaca? Tapi ada buku yang terasa hambar ketika dibaca? Konon katanya, ada orang yang ketika menulis buku disertai kehadiran, ketulusan, dan kecerdasan hati.

 

Dari lubuk hati terdalam mereka ingin berbagi cinta dan ilmu dengan pembacanya. Bahkan ada yang menyucikan diri ketika dalam proses penulisan. Mungkin karya-karya tulis semacam itu yang memang ditulis dari hati dan akan memperoleh respons dari hati pembacanya. Sebagai penutup, dengan rendah hati, saya mohon per-hati-an agar tulisan ini juga diper-hati-kan.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 7 Nopember 2008

Mohon Perhatian

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





 

DALAM berkomunikasi kita melibatkan telinga, mulut, pikiran, mata, dan tangan. Tetapi coba renungkan, mengapa yang diminta adalah ”hati”? Per-hati-kan judul di atas: mohon per-hati-an! Mengapa bukan ”mohon per-telinga-an? Atau cermati ungkapan berikut ini: Harap diper-hati-kan! Kalau mengendarai mobil yang ”hati-hati”.


Kalau menyeberang jalan mesti ”hati-hati”. Dia ditangkap KPK dan sekarang masuk tahanan karena tidak ”hati-hati” ketika jadi pimpinan. Sungguh luar biasa dan mengagumkan siapa yang menciptakan dan menggunakan istilah ”hati” ini menjadi khazanah bahasa Indonesia dan dalam komunikasi keseharian.

 

Dalam bahasa Inggris dan Arab, terdapat beragam kata yang serumpun dengan kata ”hati”,yang semuanya berkaitan dengan sikap batin yang selalu ingin mendapatkan rasa damai, kasih, sadar, tulus, dan peduli serta cinta. Ketika kita bingung memutuskan suatu perkara, dianjurkan agar mendengarkan ”hati nurani” atau ”suara hati”.

Ketika hendak memilih pasangan hidup,orang tua selalu pesan, ”Sing ati-ati, milih konco urip kanggo sak lawase (yang hati-hati memilih teman hidup untuk selamanya).” Demikian vitalnya peran hati, sehingga Kanjeng Nabi Muhammad bersabda, siapa pun yang hatinya baik, baiklah semua perilakunya.

 

Siapa yang hatinya sakit, sakitlah semua amalnya. Jadi, betapa sentralnya peran ”hati” dalam kehidupan sehari-hari, karena dari situlah terpancar energi kebaikan dan keburukan, dorongan ke arah kemuliaan atau kenistaan. Karena suara hati selalu mengajak pada kebaikan, orang bijak mesti mendengarkan kata hatinya sebelum berbicara dan bertindak.

 

Hati nurani adalah guru, pembimbing, dan konsultan yang tidak mau berbohong. Terlebih jika hati ini selalu diterangi dan ditambah energi Ilahi, maka akan semakin kuat dan jelas petuahnya agar kita berada di jalan yang benar, yang baik, dan ingin menggembirakan sesama.

 

Salah satu fungsi ibadah dan puasa adalah untuk membersihkan kotoran-kotoran agar tidak mengeras dan berkarat sehingga menutupi (to cover, kafara, kafir) masuknya cahaya Ilahi untuk menerangi relung hati. Kalau sudah tertutup (has been covered), maka suara hati nurani bisa kalah, suaranya lemah, perintahnya tidak wibawa.

 

Yang cenderung terjadi, seseorang lalu begitu rentan dipengaruhi dan dikendalikan oleh nafsu rendahan yang hanya mengejar kenikmatan fisik (physical pleasure) dengan mengorbankan kebahagiaan moral-spiritual (moral spiritual happiness). Kenikmatan fisik durasinya pendek, dan semakin tua usia seseorang, semakin kecil kenikmatan fisik yang bisa diraih.

 

Ketika kesehatan kian menurun, berbagai macam penyakit berdatangan, satu per satu kenikmatan fisik menyatakan ”selamat jalan”. Dulu ketika masih berstatus mahasiswa, ingin makan enak tidak punya uang; setelah tua, punya jabatan tinggi dan uang berlebih, tidak boleh makan enak. Sungguh, kalau saja direnungkan, betapa singkatnya kenikmatan dunia melayani dan memanjakan kita.

 

Tetapi mereka yang hatinya selalu berjaga, selalu aktif,dan senantiasa disirami dengan energi cahaya Ilahi, semakin tua usia seseorang, hatinya justru semakin sehat, semakin lapang,dan semakin bijak sehingga kebahagiaan yang akan diraih justru lebih tinggi kualitasnya, yaitu kebahagiaan moral-spiritual.

 

Jika kebahagiaan fisik (physical happiness) didapat dengan mengumpulkan dan menumpuk materi, kebahagiaan moral-spiritual didapat justru dengan banyak memberi dan berbagi kepada sesama. The more You give, the more You recieve. Tak ada dermawan jatuh miskin, justru rezekinya semakin berkah dan bertambah.

 

Ketika memberi dengan penuh ikhlas, sesungguhnya seseorang tengah menabung dengan bunga berlipat ganda sebagaimana dijanjikan Tuhan. Jadi, menjalani hidup mesti ”hati-hati”. Mesti didengarkan suara hati yang selalu membisikkan kebenaran, kebaikan dan kedamaian. Tentu saja pikiran harus juga digunakan, namun mesti didampingi dengan hati.

 

Tanpa didampingi hati nurani, kecerdasan yang berdampingan dengan nafsu serakah bisa berbuat sangat kejam, tidak mengenal belas kasih. Pikiran bertugas memecahkan problem teknis, sedangkan hati yang memberikan makna dan arah kehidupan. Misalnya bagaimana menciptakan mobil, itu tugas pikiran yang kemudian dibantu keterampilan tangan.

 

Bagaimana menciptakan telepon, itu prestasi kecerdasan nalar.Tetapi jika ditanyakan, untuk apa mobil dan telepon diciptakan, hati nurani yang mestinya menjawab. Mobil diciptakan bukan untuk berperang, bukan untuk pamer, bukan untuk menaikkan gengsi, tetapi mempermudah silaturahmi, mempermudah cari nafkah, mempermudah anak-anak berangkat sekolah yang semua itu bermuara agar hidup ini semakin berkualitas dan bermakna baik di hadapan manusia maupun Tuhan.

 

Sadar bahwa yang dimohon adalah per-hati-an, maka mestinya yang diberikan adalah hati. Menyadari agar semua tugas harus dilaksanakan dengan hati-hati– ingat kata ”hati” sampai diulang dua kali—maka ketika melaksanakan tugas juga harus sepenuh hati. Lagi-lagi, betapa dalam dan bijaknya orangtua yang menyelipkan kata ”hati” dalam bahasa Indonesia.

 

Saya belum tahu apakah bahasa lain memiliki wisdomseindah itu? Bagaimana bekerja dengan menghadirkan hati? Contoh paling mudah dan nyata adalah sewaktu berdoa. Ketika berdoa, yang mesti hadir dan berbicara adalah hatinya. Peran mulut hanyalah membantu agar hati fokus dalam berdoa.

 

Jadi, ketika yang berdoa hanya mulut, meski hafal dan keras, tetapi hatinya absen, maka itu bukanlah berdoa, melainkan hanya melafalkan kalimat doa. Ketika sembahyang hatinya tidak hadir dan fokus pada Tuhan, secara ekstrem itu bukanlah sembahyang, melainkan olahraga menyerupai gerak sembahyang.

 

Saya sendiri sering merenung, mengapa ada buku yang usianya sudah puluhan dan ratusan masih terasa segar dan menyegarkan ketika dibaca? Tapi ada buku yang terasa hambar ketika dibaca? Konon katanya, ada orang yang ketika menulis buku disertai kehadiran, ketulusan, dan kecerdasan hati.

 

Dari lubuk hati terdalam mereka ingin berbagi cinta dan ilmu dengan pembacanya. Bahkan ada yang menyucikan diri ketika dalam proses penulisan. Mungkin karya-karya tulis semacam itu yang memang ditulis dari hati dan akan memperoleh respons dari hati pembacanya. Sebagai penutup, dengan rendah hati, saya mohon per-hati-an agar tulisan ini juga diper-hati-kan.*

 

Tulisan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 7 Nopember 2008