Model Pendidikan Fethullah Gulen Layak Diapresiasi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Apristia Krisna Dewi

Auditorium, UIN Online – Model pendidikan yang digagas pemikir dan pendidik asal Turki, Fethullah Gulen, layak diapresiasi masyarakat Muslim Indonesia dan dunia. Terlebih di tengah merosotnya akhlak generasi muda Muslim di berbagai negara akibat pengaruh globalisasi. Hal itu mengemuka dalam konferensi internasional bertajuk “The Significance of Education for The Future, The Gulen Model of Education”, di Auditorium Prof Harun Nasution, Rabu (20/10).

Konferensi yang diselenggarakan Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta itu menghadirkan 30 tokoh pendidikan dari berbagai negara di antaranya Amerika Serikat, Australia, Rusia, Jepang, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Korea. Turut hadir Rektor UIN Jakarta Prof Komaruddin Hidayat dan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Amin Abdullah.

Sebagaimana diketahui, Fethullah Gulen merupakan pemikir asal Turki yang mengembangkan konsep pendidikan berbasis moral. Model pendidikan yang digagas Fethullah Gulen mengintegrasikan antara hati dan pikiran yang mewakili martabat manusia sebagaimana tercermin dalam konsep moral, kebajikan, cinta, keadilan, dan kebaikan.
Kontribusi Fethullah Gulen tak hanya dalam pemikiran, ia juga mengembangkanya dalam bentuk lembaga pendidikan. Hingga kini sedikitnya terdapat 500 institusi pendidikan yang menggunakan model pendidikan Fethullah Gulen. Lembaga-lembaga tersebut tersebar di 90 negara, dari benua Eropa, Asia, Afrika, hingga Amerika. Salah satu institusi pendidikan yang didirikan di Indonesia yaitu Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta.

Menyoroti masalah pendidikan, Rektor UIN Jakarta, Prof Komaruddin Hidayat, mengatakan, ada tiga permasalahan dalam pendidikan keagamaan. Pertama, dikotomi terhadap pengetahuan islami maupun non-islami. Kedua, lemahnya peran pemerintah dalam mengembangkan institusi pendidikan agama.

Dan ketiga, lanjut Rektor, sumber daya manusia pendidikan agama sebagian besar tidak dilengkapi dengan perspektif global karena mempertahankan kearifan lokal. “Karena itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat untuk menanggulangi masalah di atas,” katanya.

Sementara itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Amin Abdullah, mengatakan pergerakan Gulen banyak mengadopsi pemikiran cendekiawan Muslim Turki, Said Nursi. Konsep itu, selain harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi supaya bisa bersaing dengan masyarakat Barat, juga mengembangkan karakter pendidikan. Hal ini dapat berguna sebagai model pendidikan khususnya di Indonesia.

Adapun pembicara dari Universitas Monash, Australia, Dr Salih Yucel mengungkapkan, Gulen mengimplementasikan gagasan pemikiran Ruh Hasani. Hasani merupakan cucu Nabi Muhammad SAW yang memiliki sosok pemimpin yang dipercaya, rela berkorban, dan menciptakan perdamaian. “Oleh sebab itul, karakter Ruh Hasani banyak dijadikan acuan dalam pendidikan kontemporer karena dinilai memiliki energi positif,” ucap Salih.

Direktur Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta, Ali Unsal Ph.D, juga turut berpartisipasi dalam konferensi internasional ini. Dalam presentasinya, Ali memuji ide Fethullah Gulen yang sangat mengedepankan pendidikan. Karena menurut Gulen, pendidikan merupakan  cara yang paling baik untuk merangkul seluruh kehidupan dan memiliki peran paling penting dalam menyebarkan keselarasan, keseimbangan, disiplin, dan tatanan dalam kehidupan individu dan sosial.

“Tak hanya menyumbangkan ide, Gulen juga melakukan berbagai kegiatan dalam memajukan pendidikan seperti menulis beberapa buku dan aktif  mengajar di beberapa sekolah,” ujarnya. []