Model Integrated Curriculum untuk Program Pembelajaran Terintegrasi Antara Sains dan Agama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Melahirkan seorang sarjana profesional sekaligus santri bukan sesuatu yang mudah, dan tidak akan terjadi secara instan tanpa sebuah perencanaan yang cerdas, pelaksanaan yang serius serta dukungan lingkungan kampus yang supportif terhadap kepentingan pencapaian tujuan. Perancangan disain pembelajaran subject centered yang terpisah antara satu dengan lainnya, sangat baik untuk pembinaan keahlian para mahasiswa, sehingga mereka matang dalam keahliannya, tapi seringkali kurang memperhatikan koneksitas antar subject, padahal tujuan pembelajaran pada tingkat sarjana adalah menghasilkan profesional worker, dan UIN sangat mengidealkan profesional worker yang santri. Kesantrian sangat terlihat pada sikap dan tindakan yang merupakan refleksi dari sebuah keyakinan. Dengan demikian, pembelajaran agama pada program studi umum, yang diberikan untuk membina dan memperkuat kesantrian, diorientasikan untuk membina sikap, tindakan dan prilaku profesional dan sosial mereka, bukan untuk menjadi ahli agama. Oleh sebab itu, tidak perlu bagi para mahasiswa mendalami subject matter keagamaan, tapi harus lebih bisa mengkoneksikan doktrin agama pada keilmuan dan profesi yang mereka kembangkan, sehingga mampu lekat dalam tindakan sosial dan profesional mereka.

Interkoneksitas sains dengan agama harus dirancang dengan baik, sejak perencanaan dan perancangan kurikulum, disain pembelajaran, praktik dan pelatihan dan bahkan evaluasi pencapaian hasil belajar. Sejauh ini, teori integrasi antar subject matter dalam disain kurikulum yang sudah dikenal di kalangan komunitas ilmu pendidikan adalah “integrated curriculum” atau kurikulum terintegrasi, yakni “menyatukan beberapa disiplin keilmuan dalam sebuah disain pembelajaran untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan kemampuan siswa mengkoneksikan antara satu subyek dengan lainnya” (Perry,2010: 2), agar bisa difahami secara holistik, realistik dan bisa dilaksanakan secara aksiologis. Seorang guru bilogi dari programm studi pendidikan biologi, umpamanya, dia harus faham benar ilmu biologi, mampu mengajarkan ilmu biologi, sehingga mampu menghantarkan para siswanya menjadi siswa yang cerdas, mengajar untuk melaksanakan amanah yang diberikan Allah kepadanya, berdedikasi tinggi, penuh integritas, berdisiplin, mencintai para mahasiswanya, dan senantiasa memperhatikan rambu-rambu syari’ah dalam pelaksanaan tugas profesinya. Pelaksanaan tugas profesi keguruan, melibatkan pengetahuan tentang bilogi, pedagogik dan untuk menjadi guru yang memiliki integritas keberagamaan, dia harus melibatkan nilai-nilai keagamaan dalam pelaksanaan tugas mulianya itu, sebagai kekuatan dasar motivasi dari sebuah perbuatan, alat kontrol dalam pelaksanaan pekerjaan dan menjadi tujuan akhir dari seluruh dedikasi karya dan amal kebajikan. Begitu pula dalam profesi-profesi lainnya, yang peluang dan kesempatan melakukan pelalaian terhadap nilai-nilai keagamaan tersebut sama besarnya dengan peluang melaksanakannya.

Pengembangan model kurikulum terintegrasi sudah dilakukan oleh mereka yang terus mengembangkan penelitian tentang curriculum development, dan tidak hanya menyentuh aspek penyusunan subject matter, tapi justru lebih banyak memanfaatkan wilayah syllabus, pelaksanaan pembelajaran,  serta pengukuran hasil-hasil belajar. Salah satunya adalah Robin Fogarty, Doktor dalam bidang curriculum and human resource development dari Loyola University of Chicago, yang kemudian aktif dalam bidang pendidikan, penelitian dan konsultansi di berbagai negara di dunia. Salah satu temuannya yang sangat monumental dan banyak dibaca akademisi adalah “ten ways to integrate curriculum”. Di antara konsep integrasi yang ditawarkannya adalah bentuk “shared, Webbed, dan integrated”  (Lake,2000: 5).

Model shared curriculum, jika divisualkan menjadi sebagaimana dalam gambar di bawah ini.

159

Model shared ini adalah kurikulum seperti teropong binocular, yakni memasukkan dua disiplin ilmu pada satu disain pembelajaran (Fogarty,1991; 62). Dalam konteks integrasi sains dan agama adalah memasukkan unsur sains pada mata kuliah keagamaan murni, yakni aqidah, ibadah dan akhlak, dan atau juga bisa memasukkan unsur keagamaan pada mata kuliah profesi keilmuan. Penjelasan aqidah, akan sangat bisa diterima logika, jika diperkuat pernjelasan yang saintifik. Oleh sebab itu, perlu pelibatan sains dalam menjelaskan aqidah pada para mahasiswa. Demikian pula dalam pembahasan fiqh, banyak hal yang memerlukan penjelasan saintifik, agar pelaksanaan agama menjadi tidak bertentangan dengan sains, dan bahkan sains akan sangat memperkuat doktrin keagamaan.  seperti penjelasan tentang air yang suci dan menyucikan. Kenapa ukuran air banyak yang tidak akan bisa menjadi musta’mal dan tidak akan mutanajis jika terkena sedikit najis itu diukur hanya dengan satu siku seperempat, dan kenapa dalam fiqh tidak identik air suci itu dengan air bersih. Itu semua memerlukan penjelasan saintifik, dan bahkan mungkin memerlukan fatwa baru tentang air suci menyucikan. Demikian pula dengan sains, akan sangat baik pada tema-tema yang sangat relevan dimasuki doktrin keagamaan, sehingga implementasi sains dan teknologi itu menjadi sangat agamis.

Kemudian, model integrasi juga bisa dikembangkan dalam bentuk Webbed curriculum. Bila divsualkan, model ini tergambar sebagai berikut.

159

Model web ini bisa disebut juga sebagai kurikulum yang mampu menangkap semua disiplin dalam satu disain. Untuk konteks integrasi sain dan agama, model ini adalah model teleskop yang dapat menangkap semua pokok bahasan dari berbagai disiplin ilmu untuk mencapai satu fokus tujuan (Fogarty:1991: 63). juga dikembangkan bukan dalam konteks sebaran mata kuliah, tapi justru pada tema-tema perkuliahan. Mata kuliahtertentu biasanya mata kuliah kompetensi utama, yang akan sangat menentukan profesionalisme mereka, dan pasti memerlukan muatan nilai keagamaan baik pada dimensi epistimologi maupun aksiologinya, maka pada mata kuliah tersebut, masuk tema-tema keagamaan, baik penjelasan doktrin agama tentang teori yang sedang dipelajarinya, maupun nilai agama dalam aksiologi ilmu untuk kepentingan kemanusiaan dan peradaban dunia. Dengan demikian, model webbed ini memerlukan team teaching yang antara dosen sains dan dosen agama memiliki pengetahuan yang lintas batas, karena mereka boleh masuk secara independen dan menjelaskan tema-temanya masing-masing.

Kedua model disain syllabus ini menghendaki tagihan perlakuakn mengajar yang berbeda. Shared model menghendaki team teaching, yakni dua orang dosen masuk kelas bersamaan, dalam pokok bahasan yang angat signifikan untuk diintegrasikan. Oleh sebab itu, sebelum perkuliahan dimulai, team dosen ini melakukan pemetaan konsep, tentang pokok-pokok bahasan yang akan diajar dengan team, dan pokok bahasan yang diajar secara independen oleh masing-masing dosen. Dan juga dipetakan konsepnya, apakah integrasi dalam epistimologi, atau aturan-aturan normatif pada wilayah aksiologi. Sementara untuk model webb, diperlukan team dosen, tapi tidak menuntut masuk bersamaan. Mereka berbagi tema-tema. Pada model ini, akan terjumpai irisan-irisan bahasan dalam tema masing-masing. Oleh sebab itu, dosen agama harus memiliki pengetahuan tentang sains yang diajarkannya, dan dosen sains juga harus memiliki pengetahuan tentang ilmu agama yang terintegrasi, sehingga bisa menjelaskan integrasinya dengan baik, walaupun penjelasan detail oleh masing-masing ahlinya.

Model ketiga yang juga relevan untuk integrasi sains dan agama adalah integrated model, yakni  mengintegrasikan beberapa disiplin keilmuan untuk membentuk satu konsep, skil dan sikap. Bila divisualkan maka irisan integrasinya menjadi tiga atau lebih banyak irisan sebagaimana terlihat dalam gambar berikut ini.

159

Model ini mengimplikasikan penyiapan disain pembelajaran yang dianalisis dengan seksama secara team oleh team dosen yang akan mengajar, pada area mana agama secara epistimologis akan masuk, dan pada area mana agama secara normatif akan masuk, dan pada area mana agama secara aksiologis akan masuk. Pada saat memasuki area studi keagamaan, maka dosen agama memberikan penjelasan pada para mahasiswa, dan akan lebih baik bila dilakukan bersama dengan dosen sains, agar para mahasiswa merasa yakin dengan pengetahuan barunya itu, karena didampingi oleh semua dosennya, dan mereka bisa mempertimbangkan untuk menjadikannya sebagai nilai dalam diri mereka.

Sejalan dengan pilihan-pilihan-pilihan di atas, rancangan integrasi kurikulum pada level disain pembelajaran bisa dikembangkan dalam dua model, yakni “discipline based content model” dan “complementary discipline unit course” (Mushthafa,2011:  926). Rancangan integrasi dalam model pertama adalah sejalan dengan shared model dari Fogarty, di mana integrasi dikembangkan berbasis mata kuliah, lalu yang lain masuk, mewarnai mata kuliah tersebut. Umpamanya, pada mata kuliah Fiqh tentang thaharah, diperkuat dengan teori -teori kesehatan. Pembahasan kesehatan tidak menambah pokok bahasan, tapi memberikan penjelasan tentang kesehatan dalam norma bersuci menurut agama. Demikian pula ketika agama masuk pada kajian sains, umpamanya soal kesehatan reproduksi, doktrin agama tidak menambah pokok bahasan, tapi memberikan penjelasan normatif, epistimologis tentang reproduksi sehat dalam perspektif keagamaan. Sementara model kedua yang komplementatif, teori-teori tentang norma agama yang masuk pada sains menambah pokok bahasan, dan demikian pula, teori-teori sains yang masuk pada agama menambah pokok bahasan. Itulah yang dimungkinkan dengan model webb sebagaimana dipekenalkan Fogarty.

Pada akhirnya saya melihat, bahwa proses integrasi yang selama ini menjadi salah satu icon dari transformasi IAIN menjadi UIN dengan mengelola ilmu-ilmu non keagamaan, memerlukan keseriusan semua lapis pengelola pembelajaran, dari mulai dosen sebagai pemegang mata kuliah, difasilitasi oleh program studi di fakultas masing-masing. Akan tetapi, integrasi pada kajian keilmuan berimplikasi pada tagihan mobilitas penugasan dosen, yakni dosen agama yang masuk pada mata kuliah sains, sebagaimana juga dosen sains harus masuk pada mata kuliah agama. Dengan demikian, integrasi sains dan agama bukan saja akan menyantrikan para profesional, tapi juga saintifikasi pemahaman keagamaan, sehingga mereka yang akan menyampaikan agama pada masyarakat, mampu memberikan penjelasan secara lebih saintifik. Wallahu a’lam bi al-shawab

BACAAN

Fogarty, Robin, Ten Ways to Integrate Curriculum, Educational Leadership, the Association for Supervision and Curriculum Development, 1991.

Lake, Kathy, Integrated Curriculum, School Improvement Research Series, NorthWest Regional Educational Laboratory, USA, 2000.

Mushtafa, Javed, Proposing a Model for Integration of Social Issues in School Curriculum, International Journal of Academic Research, Vol 3 Number 1, International islamic University, Islamabad, 2011

Perry, Matt, Designing Multidisciplinary Integrated Curriculum Units, The California Centre for College and career, Sacramento California, 2010.