Minder Lawan Tim Futsal UIN Jakarta, Semua Tim Pilih Mundur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

GOR Kenari, BERITA UIN Online–Kompetisi menjadi juara cabang lomba futsal pada hari amal bakti (HAB) Kementerian Agama (Kemenag), semakin panas. Pada Jum’at (13/01), tim futsal UIN Jakarta yang mestinya menghadapi tim Balitbang, terpaksa ditunda. Alasannya, tim Balitbang dan tim-tim yang lain mogok bertanding melawan  UIN Jakarta.

Pengunduran diri tim Balitbang ini sebenarnya karena provokasi dari tim Unit Direktorat Pendidikan Islam (Pendidikan Islam) dan Unit Inspektorat Jenderal (Itjen). Kedua tim ini tidak mau bertanding dan bertemu melawan tim UIN Jakarta karena terdapat dua tim UIN Jakarta yang tak punya Nomor Induk Pegawai (NIP). “Yang main harus PNS yang ber-NIP,” seloroh anggota tim Pendis yang diamini tim Itjen.

Memang benar.  Pada laga  semi final terdapat dua anggota tim UIN Jakarta yang tidak ber-NIP. Tetapi alasan ini tidak bisa dijadikan acuan.

Pasalanya, mereka tidak mempersoalkan tim Lembaga Penerbitan Alquran (LPQ) yang juga tak ber-NIP ketika melawan tim UIN Jakarta pada babak penyisihan. Dalam laga ini tim LPQ dibekuk tim UIN Jakarta dengan skor 7-2.

Setelah sukses menundukkan tim LPQ, tim UIN Jakarta juga berhasil melumatkan tim Unit Bimas Kristen dengan skor 12-2. Kegagahan tim UIN Jakarta semakin tak tertandingi ketika dengan mudah menjungkalkan tim Unit Bimas Islam dengan skor 9-2.

Melihat tim UIN Jakarta sukses meraih babak penyisihan itu, tim-tim lain merasa minder. “Pada dasarnya mereka tidak mau ketemu dengan kita,” ujar Siswo Abadi, anggota panitia UIN Jakarta. Dengan demikan, tuduhan yang dialamatkan  kepada tim UIN Jakarta itu tidak beralasan.

Menurutnya, jika mereka sportif mestinya tidak perlu mempersoalkan tim UIN Jakarta yang tak ber-NIP. Lapi pula, ada tim LPQ yang juga tidak ber-NIP. “Jadi ini soal ketakutan menghadapi tim UIN Jakarta,” sambung Siswo.

Ketika tim UIN Jakarta menawarkan permainan tanpa harus menurunkan tim yang tak ber-NIP, mereka juga tak berani menunjukkan taringnya. Negosiasi dan dialog antartim dan panitian pun dilakukan. Namun, semua tim yang mau berhadapan dengan tim UIN Jakarta sudah keburu down alias minder. Akhirnya mereka memilih pulang.

Panitia, yang dalam kesempatan itu diwakili Syihabuddin, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya pasrah dan memilih menyerah. Alhasil untuk mengatasi kebuntuan itu, panitia segera menggelar musyawarah. (saifudin)