Metode CCU untuk Tingkatkan Mutu Pembelajaran Bahasa Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

 

Gedung FITK, UINJKT Online - Dunia pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di Indonesia kini tengah menyaksikan kehadiran berbagai strategi, metode, dan pendekatan pemahaman pembelajaran, salah satunya pemahaman berbasis lintas budaya (cross cultural understanding).

 

Pernyataan tersebut dikemukakan Dr Mudzakir AS ketika menjadi narasumber seminar nasional bertajuk Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Cross Cultural Understanding (CCU), yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Kamis (11/12).

 

Selain Mudzakir, narasumber lainnya yaitu Prof Dr HD Hidayat, Tulus Mustofa Lc MA, dan Dr Saifullah Kamalie. Kegiatan ini diikuti para guru, dosen, dan mahasiswa bahasa Arab.

 

Menurut Mudzakir, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan konsep CCU, yaitu cross cultural communication, cross cultural awareness, cross cultural knowledge, cross cultural sensivity, dan cross cultural competence. “Jika CCU dipahami maka kemandekan dalam percakapan bisa dikurangi dan bisa lebih mengapresiasi orang lain,” katanya.

 

Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI Bandung ini mengatakan, sebenarnya penerapan CCU dalam pembelajaran bahasa asing termasuk bahasa Arab merupakan hal wajar dan sudah banyak dilaksanakan oleh sebagian pengajar tanpa disadari. Masalahnya, kata dia, bagaimana menjadikan mereka sadar akan hal tersebut. ”Strateginya adalah melalui memilih atau menyeleksi bahan ajar atau buku teks yang akan kita gunakan sebagai buku pegangan,” cetusnya.

 

Sedangkan Hidayat berpendapat, ada tiga pendekatan dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu kebahasaan, psikologi dan sosiolinguistik/budaya. ”Cara mengajarkan sosiolinguistik atau budaya dalam pembelajaran bisa melalui materi menyimak, percakapan, menulis atau lainnya,” tutur Hidayat. Ia menambahkan, dalam pembelajaran bahasa Arab siswa diharapkan memiliki tiga kompetensi/kemampuan, yaitu kemampuan linguistik, komunikasi, dan budaya.

 

Hidayat mengungkapkan, jika dalam belajar bahasa Arab, misalnya al-Quran atau hadis tidak dibarengi belajar budaya Arab/Islam maka akan mengalami kesulitan memahaminya. Sebab, budaya Arab ialah budaya Islam. Budaya Arab, kata dia, harus dipelajari baik secara formal maupun tidak formal.

 

”Salah satu cara untuk mengajarkan budaya adalah melalui menyediakan waktu khusus untuk mengajarkannya,” ungkap Hidayat. ”Bahasa Arab ialah cerminan budaya Arab”.

 

Sementara itu, Tulus Mustofa menuturkan, untuk bisa memahami CCU bisa dilakukan melalui pengajaran peribahasa. Sebab, peribahasa merupakan salah satu unsur bahasa. Menurut dia, peribahasa penting untuk dipelajari karena ia sering mucul dalam kehidupan. Peribahasa muncul dari proses panjang dan bisa didapatkan dari mana saja, di antaranya hadis. ”Tapi sayang kurikulum peribahasa tidak dirancang dengan baik,” tuturnya.

 

Pembicara lain, Saifullah Kamalie menegaskan, perlunya berdialog dengan orang lain melalui internet, yaitu lewat situs Arabic Transliteration and Intercultural Dialouge Association (ATIDA). ”Forum ATIDA bisa menjadi alternatif pembelajaran bahasa arab berbasis lintas budaya,” tegasnya.

 

Setelah acara seminar usai, dalam forum tersebut diadakan acara pelantikan pengurus IMLA (Ikatan Guru Bahasa Arab) wilayah Jabodetabek masa bakti 2008-2012 yang dilakukan oleh  Hidayat. Ketua umum IMLA adalah Dr A Sayuti Anshari Nasution. [Nif/Ed]

Metode CCU untuk Tingkatkan Mutu Pembelajaran Bahasa Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

 

Gedung FITK, UINJKT Online - Dunia pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di Indonesia kini tengah menyaksikan kehadiran berbagai strategi, metode, dan pendekatan pemahaman pembelajaran, salah satunya pemahaman berbasis lintas budaya (cross cultural understanding).

 

Pernyataan tersebut dikemukakan Dr Mudzakir AS ketika menjadi narasumber seminar nasional bertajuk Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Cross Cultural Understanding (CCU), yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Kamis (11/12).

 

Selain Mudzakir, narasumber lainnya yaitu Prof Dr HD Hidayat, Tulus Mustofa Lc MA, dan Dr Saifullah Kamalie. Kegiatan ini diikuti para guru, dosen, dan mahasiswa bahasa Arab.

 

Menurut Mudzakir, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan konsep CCU, yaitu cross cultural communication, cross cultural awareness, cross cultural knowledge, cross cultural sensivity, dan cross cultural competence. “Jika CCU dipahami maka kemandekan dalam percakapan bisa dikurangi dan bisa lebih mengapresiasi orang lain,” katanya.

 

Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI Bandung ini mengatakan, sebenarnya penerapan CCU dalam pembelajaran bahasa asing termasuk bahasa Arab merupakan hal wajar dan sudah banyak dilaksanakan oleh sebagian pengajar tanpa disadari. Masalahnya, kata dia, bagaimana menjadikan mereka sadar akan hal tersebut. ”Strateginya adalah melalui memilih atau menyeleksi bahan ajar atau buku teks yang akan kita gunakan sebagai buku pegangan,” cetusnya.

 

Sedangkan Hidayat berpendapat, ada tiga pendekatan dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu kebahasaan, psikologi dan sosiolinguistik/budaya. ”Cara mengajarkan sosiolinguistik atau budaya dalam pembelajaran bisa melalui materi menyimak, percakapan, menulis atau lainnya,” tutur Hidayat. Ia menambahkan, dalam pembelajaran bahasa Arab siswa diharapkan memiliki tiga kompetensi/kemampuan, yaitu kemampuan linguistik, komunikasi, dan budaya.

 

Hidayat mengungkapkan, jika dalam belajar bahasa Arab, misalnya al-Quran atau hadis tidak dibarengi belajar budaya Arab/Islam maka akan mengalami kesulitan memahaminya. Sebab, budaya Arab ialah budaya Islam. Budaya Arab, kata dia, harus dipelajari baik secara formal maupun tidak formal.

 

”Salah satu cara untuk mengajarkan budaya adalah melalui menyediakan waktu khusus untuk mengajarkannya,” ungkap Hidayat. ”Bahasa Arab ialah cerminan budaya Arab”.

 

Sementara itu, Tulus Mustofa menuturkan, untuk bisa memahami CCU bisa dilakukan melalui pengajaran peribahasa. Sebab, peribahasa merupakan salah satu unsur bahasa. Menurut dia, peribahasa penting untuk dipelajari karena ia sering mucul dalam kehidupan. Peribahasa muncul dari proses panjang dan bisa didapatkan dari mana saja, di antaranya hadis. ”Tapi sayang kurikulum peribahasa tidak dirancang dengan baik,” tuturnya.

 

Pembicara lain, Saifullah Kamalie menegaskan, perlunya berdialog dengan orang lain melalui internet, yaitu lewat situs Arabic Transliteration and Intercultural Dialouge Association (ATIDA). ”Forum ATIDA bisa menjadi alternatif pembelajaran bahasa arab berbasis lintas budaya,” tegasnya.

 

Setelah acara seminar usai, dalam forum tersebut diadakan acara pelantikan pengurus IMLA (Ikatan Guru Bahasa Arab) wilayah Jabodetabek masa bakti 2008-2012 yang dilakukan oleh  Hidayat. Ketua umum IMLA adalah Dr A Sayuti Anshari Nasution. [Nif/Ed]