Metamorfosis Nagabonar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SEMAKIN dekat Pemilu, rivalitas menuju jabatan Presiden dan Wakil Presiden kian seru. Berbagai manuver datang dan menyeruak ke ruang publik secara cepat. Kejutan demi kejutan pun seolah menjadi penanda bahwa politik selalu berada dalam garis kontinum proses dari sebuah seni kemungkinan-kemungkinan (art of possibilities).

 

Satu kejutan yang menyita perhatian khalayak luas dalam beberapa hari ini adalah langkah Deddy Mizwar, sang Jenderal Nagabonar, Jum’at (26/2). Nagabonar membuat perhelatan bertajuk “Refleksi Politik Jenderal Nagabonar” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pencalonan diri yang unik sekaligus menggelitik rasa penasaran.

Apa Kata Dunia?

Sosok Jenderal Nagabonar dalam film “Nagabonar” di tahun 1980-an dan sekuelnya “Nagabonar Jadi 2” yang diperankan Deddy Mizwar sangat popular di kalangan penikmat film nasional Kedua film tersebut sarat muatan pesan nasionalisme danmenggugah penonton untuk kembali menghayati nilai luhur bangsa berdaulat. Teriakan Jendral Nagabonar yang populer “apa kata dunia?” mampu mengonstruksi makna pada khalayak akan arti kritisisme social untuk malu melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan etika dan hokum yang berlaku di masyarakat.

Lantas apa kata dunia jika Nagabonar jadi Capres? Mengamati kejutan ala Deddy Mizwar ini, paling tidak dapat kita kemukakan dua hal. Pertama, sebuah sistem politik demokratis selalu memungkinkan setiap warga Negara yang merasa mau dan mampu menjadi pemimpin nasional untuk menyatakan kesanggupan menjadi kandidat Capres atau Cawapres secara terbuka. Dalam konteks ini, langkah sang “Jenderal” dapat kita terima sebagai bagian dari konsekuensi kita menganut sistem demokrasi. Kontestasi bisa terjadi antarsiapa saja, selama memahami dan menghargai aturan dalam ranah permainan yang disepakati. Kedua, pencalonan diri sang “Jenderal” dapat kita apresiasi sebagai langkah segar di tengah kegersangan suasana politik.

Panasnya rivalitas antarblok akhir-akhir ini, hanya beredar S (SBY), Blok J (Jusuf Kalla), Blok M (Megawati) dan Blok T (Poros tengah yang hingga kini belum jelas konsolidasinya). Niat Deddy Mizwar menjadi pemimpin alternatif menyuguhkan konfigurasi politik yang kian menarik.

Dramaturgi Peran

Saat Deddy Mizwar memproklamirkan diri sebagai Capres, maka peran sosialnya telah bermetamorfosis. Dari semula hanya di panggung hiburan sebagai aktor dan sutradara film yang sukses mendapatkan banyak penghargaan ke panggung politik yang masih baru dia tapaki.

Sebuah niat baik untuk menjadi pemimpin alternatif belum tentu membuahkan hasil yang baik jika tidak didukung dengan sumberdaya politik yang memadai. Tidak dapat dimungkiri, bahwa panggung politik dalam praktiknya memiliki banyak kesamaan dengan panggung hiburan.  Sama-sama memiliki unsur dramaturgi yang menuntut orang memainkan peran-peran tertentu. Erving Goffman (1922-1982) seorang sosiolog interaksionis dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life menyatakan segala perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari, menampilkan diri kita dalam cara yang sama dengan seorang aktor saat menampilkan karakter orang lain di sebuah pertunjukan drama. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya.

Setting, kostum, pesan verbal dan non verbal bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan di atas disebut dengan istilah “impression management”. Dalam hal memainkan peran-peran, panggung politik sama persis dengan panggung hiburan. Sama-sama menuntut penampilan yang prima terutama saat sang aktor berada di panggung depan (front stage), di mana penonton diajak untuk masuk ke dalam pemahaman akan peran yang dimainkannya. Rangkaian tindakan, tak bias bebas dari alur drama yang telah diskenariokan.

Dengan demikian, tindakan bukanlah sesuatu yang natural melainkan telah dikonstruksi dan semestinya ada untuk pencapaian tujuan. Hal ini berbeda dengan situasi di Belakang panggung (back stage) yang biasanya bebas dan representasi tindakan nyata yang seadanya. Jika pencalonan Deddy Mizwar sebagai Capres dimaknai dalam konteks karakteristik panggung depan (front stage) dunia hiburan, maka tentu dia ahlinya. Rekam jejak di dunia akting, dapat menjadi penegas dia mampu beradaptasi ce pat dengan segala peran yang harus dia mainkan di berbagai pembabakan drama dari sebuah alur cerita. Namun mampukah Deddy Mizwar memainkan peran ront stage-nya itu di dunia politik?

Kelemahan Politik

Ada dua hal yang masih meragukan dari kepemilikan sumberdaya politik seorang Deddy Mizwar. Pertama Terjadi semacam loncatan politik (political jumping) dalam jejak rekam perjalan si Naga Bonar kelahiran 1955 ini. Keraguan tidak dalam konteks mempertanyakan wawasan politik yang dia miliki, akan tetapi lebih pada historisitas interaksi diri Deddy Mizwar dengan realitas politik praktis sebelum dia mencalonkan diri sebagai Capres. Sebuah metamorfosis yang terkesan menjadi tiba-tiba, tanpa diperkuat oleh pendalaman peran sebelumnya. Kondisi ini sangat memungkinkan si aktor politik memainkan peran tanpa penghayatan.

Sebagai perbandingan dengan tokoh di negara lain yang sukses menuju kursi Presiden dari panggung hiburan, sebut saja nama Ronald Wilson Reagan (Amerika Serikat) dan Joseph Estrada (Filipina). Reagan (1911-2004) adalah artis Hollywood yang sukses membintangi sejumlah film antaralain Knute Rockne All American,King Row, Hellcats of the Navy, Bedtime for Bonzo dll., sehingga namanya tercatat di Hollywood Walk of Fame di 6374 Hollywood Boulevard. Dia juga sukses merebut jabatan Presiden ke-40 setelah mengalahkan Jimmi Carter dan berkuasa selama dua periode yakni antara tahun 1981 hingga 1989. Jauh sebelum dia mancalonkan diri sebagai Capres dalam Nominasi Partai Republik pada tahun 1980, dia pernah menjadi Gubernur California ke-33 (1967-1975).

Perjalanannya memenangi konvensi partai pun tidak mudah, tercatat dia pernah dua kali gagal menjadi Capres Republik, yakni pada tahun 1968 dan 1976. Jejak rekam sebagai artis yang berpolitik sangat kentara, sejak dia menjadi anggota liberal democrat yang mendukung new deal-nya Franklin Delano Roosevelt, kemudian berubah secara bertahap menjadi konservatif sosial, hingga tahun 1964 menjadi pendukung berat Republikan konservatif Barry Goldwater. Begitu pun dengan jejak rekam Joseph Estrada, artis yang telah membintangi lebih dari 120 ini jauh sebelum menjadi Wakil Presiden (1992-1998) dan Presiden (1998), dia telah memulai karir politiknya sejak tahun 1969 dan terus mengasah talenta politiknya hingga terpilih menjadi anggota senat pada 1987.

Dengan demikian, jejak rekam peran politik inilah yang menjadi salah satu titik lemah pencalonan Deddy Mizwar yang harus diyakinkan kepada khalayak. Kedua, ibarat aktor baru di dunia politik, maka Deddy Mizwar juga harus lulus dari casting. Dalam hal ini aturan main yang telah ditetapkan yakni seorang Capres harus dicalonkan 20 persen kursi parlemen atau 25 persen suara sah nasional. Jika mampu lulus dari aturan casting tersebut, tak ada seorang pun yang bisa melarang Nagabonar jadi Capres, tapi kalau tidak, maka apa kata dunia?*

Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post, 2 Maret 2009

Penulis adalah Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Jakarta dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Metamorfosis Nagabonar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
SEMAKIN dekat Pemilu, rivalitas menuju jabatan Presiden dan Wakil Presiden kian seru. Berbagai manuver datang dan menyeruak ke ruang publik secara cepat. Kejutan demi kejutan pun seolah menjadi penanda bahwa politik selalu berada dalam garis kontinum proses dari sebuah seni kemungkinan-kemungkinan (art of possibilities).

 

Satu kejutan yang menyita perhatian khalayak luas dalam beberapa hari ini adalah langkah Deddy Mizwar, sang Jenderal Nagabonar, Jum’at (26/2). Nagabonar membuat perhelatan bertajuk “Refleksi Politik Jenderal Nagabonar” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pencalonan diri yang unik sekaligus menggelitik rasa penasaran.

Apa Kata Dunia?

Sosok Jenderal Nagabonar dalam film “Nagabonar” di tahun 1980-an dan sekuelnya “Nagabonar Jadi 2” yang diperankan Deddy Mizwar sangat popular di kalangan penikmat film nasional Kedua film tersebut sarat muatan pesan nasionalisme danmenggugah penonton untuk kembali menghayati nilai luhur bangsa berdaulat. Teriakan Jendral Nagabonar yang populer “apa kata dunia?” mampu mengonstruksi makna pada khalayak akan arti kritisisme social untuk malu melakukan hal-hal yang tidak relevan dengan etika dan hokum yang berlaku di masyarakat.

Lantas apa kata dunia jika Nagabonar jadi Capres? Mengamati kejutan ala Deddy Mizwar ini, paling tidak dapat kita kemukakan dua hal. Pertama, sebuah sistem politik demokratis selalu memungkinkan setiap warga Negara yang merasa mau dan mampu menjadi pemimpin nasional untuk menyatakan kesanggupan menjadi kandidat Capres atau Cawapres secara terbuka. Dalam konteks ini, langkah sang “Jenderal” dapat kita terima sebagai bagian dari konsekuensi kita menganut sistem demokrasi. Kontestasi bisa terjadi antarsiapa saja, selama memahami dan menghargai aturan dalam ranah permainan yang disepakati. Kedua, pencalonan diri sang “Jenderal” dapat kita apresiasi sebagai langkah segar di tengah kegersangan suasana politik.

Panasnya rivalitas antarblok akhir-akhir ini, hanya beredar S (SBY), Blok J (Jusuf Kalla), Blok M (Megawati) dan Blok T (Poros tengah yang hingga kini belum jelas konsolidasinya). Niat Deddy Mizwar menjadi pemimpin alternatif menyuguhkan konfigurasi politik yang kian menarik.

Dramaturgi Peran

Saat Deddy Mizwar memproklamirkan diri sebagai Capres, maka peran sosialnya telah bermetamorfosis. Dari semula hanya di panggung hiburan sebagai aktor dan sutradara film yang sukses mendapatkan banyak penghargaan ke panggung politik yang masih baru dia tapaki.

Sebuah niat baik untuk menjadi pemimpin alternatif belum tentu membuahkan hasil yang baik jika tidak didukung dengan sumberdaya politik yang memadai. Tidak dapat dimungkiri, bahwa panggung politik dalam praktiknya memiliki banyak kesamaan dengan panggung hiburan.  Sama-sama memiliki unsur dramaturgi yang menuntut orang memainkan peran-peran tertentu. Erving Goffman (1922-1982) seorang sosiolog interaksionis dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life menyatakan segala perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari, menampilkan diri kita dalam cara yang sama dengan seorang aktor saat menampilkan karakter orang lain di sebuah pertunjukan drama. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya.

Setting, kostum, pesan verbal dan non verbal bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan di atas disebut dengan istilah “impression management”. Dalam hal memainkan peran-peran, panggung politik sama persis dengan panggung hiburan. Sama-sama menuntut penampilan yang prima terutama saat sang aktor berada di panggung depan (front stage), di mana penonton diajak untuk masuk ke dalam pemahaman akan peran yang dimainkannya. Rangkaian tindakan, tak bias bebas dari alur drama yang telah diskenariokan.

Dengan demikian, tindakan bukanlah sesuatu yang natural melainkan telah dikonstruksi dan semestinya ada untuk pencapaian tujuan. Hal ini berbeda dengan situasi di Belakang panggung (back stage) yang biasanya bebas dan representasi tindakan nyata yang seadanya. Jika pencalonan Deddy Mizwar sebagai Capres dimaknai dalam konteks karakteristik panggung depan (front stage) dunia hiburan, maka tentu dia ahlinya. Rekam jejak di dunia akting, dapat menjadi penegas dia mampu beradaptasi ce pat dengan segala peran yang harus dia mainkan di berbagai pembabakan drama dari sebuah alur cerita. Namun mampukah Deddy Mizwar memainkan peran ront stage-nya itu di dunia politik?

Kelemahan Politik

Ada dua hal yang masih meragukan dari kepemilikan sumberdaya politik seorang Deddy Mizwar. Pertama Terjadi semacam loncatan politik (political jumping) dalam jejak rekam perjalan si Naga Bonar kelahiran 1955 ini. Keraguan tidak dalam konteks mempertanyakan wawasan politik yang dia miliki, akan tetapi lebih pada historisitas interaksi diri Deddy Mizwar dengan realitas politik praktis sebelum dia mencalonkan diri sebagai Capres. Sebuah metamorfosis yang terkesan menjadi tiba-tiba, tanpa diperkuat oleh pendalaman peran sebelumnya. Kondisi ini sangat memungkinkan si aktor politik memainkan peran tanpa penghayatan.

Sebagai perbandingan dengan tokoh di negara lain yang sukses menuju kursi Presiden dari panggung hiburan, sebut saja nama Ronald Wilson Reagan (Amerika Serikat) dan Joseph Estrada (Filipina). Reagan (1911-2004) adalah artis Hollywood yang sukses membintangi sejumlah film antaralain Knute Rockne All American,King Row, Hellcats of the Navy, Bedtime for Bonzo dll., sehingga namanya tercatat di Hollywood Walk of Fame di 6374 Hollywood Boulevard. Dia juga sukses merebut jabatan Presiden ke-40 setelah mengalahkan Jimmi Carter dan berkuasa selama dua periode yakni antara tahun 1981 hingga 1989. Jauh sebelum dia mancalonkan diri sebagai Capres dalam Nominasi Partai Republik pada tahun 1980, dia pernah menjadi Gubernur California ke-33 (1967-1975).

Perjalanannya memenangi konvensi partai pun tidak mudah, tercatat dia pernah dua kali gagal menjadi Capres Republik, yakni pada tahun 1968 dan 1976. Jejak rekam sebagai artis yang berpolitik sangat kentara, sejak dia menjadi anggota liberal democrat yang mendukung new deal-nya Franklin Delano Roosevelt, kemudian berubah secara bertahap menjadi konservatif sosial, hingga tahun 1964 menjadi pendukung berat Republikan konservatif Barry Goldwater. Begitu pun dengan jejak rekam Joseph Estrada, artis yang telah membintangi lebih dari 120 ini jauh sebelum menjadi Wakil Presiden (1992-1998) dan Presiden (1998), dia telah memulai karir politiknya sejak tahun 1969 dan terus mengasah talenta politiknya hingga terpilih menjadi anggota senat pada 1987.

Dengan demikian, jejak rekam peran politik inilah yang menjadi salah satu titik lemah pencalonan Deddy Mizwar yang harus diyakinkan kepada khalayak. Kedua, ibarat aktor baru di dunia politik, maka Deddy Mizwar juga harus lulus dari casting. Dalam hal ini aturan main yang telah ditetapkan yakni seorang Capres harus dicalonkan 20 persen kursi parlemen atau 25 persen suara sah nasional. Jika mampu lulus dari aturan casting tersebut, tak ada seorang pun yang bisa melarang Nagabonar jadi Capres, tapi kalau tidak, maka apa kata dunia?*

Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post, 2 Maret 2009

Penulis adalah Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Jakarta dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta