Petugas jaga stan UIN Jakarta tampak sibuk melayani pengunjung pada Pameran Pendidikan Tinggi dan Pelatihan Internasional ke-26 yang digelar di Jakarta Convention Center. (Foto: Hermanuddin)

WAKTU belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Tapi sebagian pengunjung pada Ahad (5/2/2017) pagi itu sudah mulai memadati arena Pameran Pendidikan Tinggi dan Pelatihan 2017 yang digelar di gedung Jakarta Convention Center (JCC). Mereka adalah para pelajar yang sengaja datang ke tempat itu guna mencari informasi perguruan tinggi favorit mereka untuk melanjutkan kuliah.

Sejak dibuka pada 2 Februari 2017 lalu, pameran pendidikan tinggi ke-26 bertaraf internasional itu memang tak pernah sepi pengunjung. Mereka rata-rata pelajar kelas 12 tingkat SLTA di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Tangerang Selatan. Mereka umumnya datang berkelompok tetapi ada juga yang perseorangan.

Begitu tiba di lokasi, sejumlah stan peserta pameran pun langsung diserbu. Tak terkecuali stan UIN Jakarta yang berlokasi di Hall A gedung JCC. Menurut salah satu petugas jaga, Evanauli Aprilla, setiap hari pengunjung ke stan UIN Jakarta, konon, mencapai lebih dari 1.000 orang. Hal itu terlihat dari buku absen pengunjung yang disediakan di tempat itu.

“Kami sengaja siapkan buku absen untuk mendeteksi tingkat pengunjung yang datang ke stan UIN Jakarta,” jelas Evanauli, yang hari itu mulai sibuk melayani pengunjung.

Menjelang penutupan pameran pada hari keempat, pengunjung yang datang bukannya tambah surut melainkan makin membludak. Bahkan hingga menjelang Magrib, arena pameran masih diramaikan pengunjung. Padahal, sejumlah petugas jaga stan UIN Jakarta sore itu sudah siap berkemas pulang.

Dalam pameran tersebut, UIN Jakarta melibatkan sedikitnya 40 orang petugas jaga. Mereka terdiri atas unsur pegawai dan mahasiswa. Selama pameran berlangsung, mereka berjaga menggunakan sistem shif, yakni shif pagi dan shif siang.

Melayani pengunjung yang setiap hari datang membludak jelas tak sekadar mengandalkan kemampuan berkomunikasi dan kesabaran melayani. Tapi lebih dari itu tenaga pun butuh energi ekstra agar stamina tetap terjaga. Jika tidak, boleh jadi performa akan tidak maksimal sehingga berpengaruh kepada mood.

“Selama melayani, saya hampir tak ada jeda beristirahat. Makan juga hampir lupa,” kata Umar Syarif Audah, pegawai yang bertugas shif pagi.

Tak hanya itu, suara pun bisa serak karena banyak bicara. Apalagi suasana saat itu cukup bising dengan suara musik dan pengeras suara dari para peserta pameran.

“Saya setengah berteriak saat memberikan informasi,” ujar Umar seraya mengumpatkan kekesalannya lantaran terlalu gaduh.

Hal yang sama juga dialami Yuni Nurkamaliah, petugas mahasiswa. Namun, ia berusaha untuk tetap bersabar dan setia melayani para pengunjung yang datang.

“Kalau cuma satu-dua orang sih nggak masalah, tapi kalau yang datang banyak dan bising oleh suara dari kanan-kiri, suara saya bisa hilang juga,” tutur mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan semester 6 tersebut.

Para petugas tampaknya memang harus banyak bersabar dan memaklumi. Karena suasana seperti itu jelas tak bisa dihindari. Dengan kata lain, mereka mau tidak mau harus tetap memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pengunjung meski lelah mendera. (lrf/ns)

Share This