Merayaka Kedermawanan Muslim Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Ramadhan, bulan kedermawanan Muslim. ‘Kedermawanan’ tidak hanya dalam kesediaan menahan lapar, haus, dan syahwat, tetapi juga dalam menyediakan iftar, paket Lebaran, dan mengeluarkan zakat fitrah, zakat mal, dan berbagai bentuk infak, sedekah, dan wakaf, termasuk berbagi ketika pulang mudik. Ramadhan dengan begitu adalah puncak kedermawanan (filantropi) Muslim, khususnya di Indonesia. Agaknya tidak ada negeri, tempat Ramadhan begitu heboh, tidak hanya di masjid, mushala, dan saluran-saluran TV, tetapi juga dalam kehidupan sosio-kultural, ekonomi, dan politik negeri ini.

Pekan lalu, saya diwawancarai Richard Allen Greene, news desk editor The CNN Wire, London, tentang beberapa aspek hasil survei Global@visor bertajuk ‘Views on Globalization and Faith’ yang dilakukan Ipsos MORI. Survei yang diselenggarakan di 24 negara pada April 2011 itu melibatkan hampir 20 ribu responden berdasarkan garis-garis keagamaan, Kristiani (Katolik dan Protestan di 19 negara), Islam di tiga negara (Indonesia, Arab Saudi, dan Turki), Hindu (India), Buddha di tiga negara (Cina, Jepang, dan Korea Selatan).

Dalam konteks Ramadhan, menarik mengutip hasil survei tentang agama sebagai motivator untuk melakukan pemberian (giving), tepatnya kedermawanan dalam bentuk pemberian waktu dan uang-keduanya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Hasilnya, di antara penganut Kristiani secara keseluruhan 24 persen, Muslim 61 persen, Buddha 20 persen, dan Hindu 33 persen, ternyata kaum Muslim paling dermawan. Penting dicatat, Muslim Indonesia dengan motivasi agama paling dermawan di antara tiga negara: Muslim Indonesia 91 persen, Arab Saudi 71 persen, dan Muslim Turki 33 persen.

Tak kurang menariknya, 83 persen Muslim Indonesia di bawah usia 35 tahun percaya agama merupakan motivator lebih besar untuk melakukan pemberian. Ini adalah persentase tertinggi di dunia. Selanjutnya, Arab Saudi 78 persen, Afrika Selatan 51 persen, India 42 persen, AS 41 persen, Turki 39 persen, Brasil 32 persen, Korsel 31 persen, Meksiko dan Australia masing-masing 30 persen. Sisanya di bawah 30 persen, dan Jepang terbawah dengan 12 persen saja.

Bagaimana menjelaskan gejala ini? Tanya Greene: “Mengapa agama begitu penting di Indonesia?”    
Sejauh menyangkut kedermawanan Muslim Indonesia selain faktor agama sebagai motivator terpenting, Indonesia beruntung mewarisi budaya yang juga mendorong aktualisasi kedermawanan, yakni adanya konsep dan praktik tolong-menolong, gotong-royong, antar-mengantar makanan, pakaian, dan sebagainya. Meski sebagian kalangan masyarakat Indonesia sendiri sering skeptis tentang kebertahanan dan keberlangsungan tradisi religius dan sosio-kultural itu, secara jelas survei Global@visor mengonfirmasi bertahannya nilai dan tradisi kedermawanan, bahkan cenderung kian menguat bersamaan dengan peningkatan kecintaan kepada Islam. Dan, peningkatan kedermawanan itu difasilitasi terus menguatnya kelas menengah Muslim yang merupakan tulang punggung filantropi Islam.

Dalam hal pendapatan per kapita, jelas kaum Muslimin Indonesia masih jauh di bawah Arab Saudi dan Turki. Lagi pula, lapisan rakyat miskin Muslim juga lebih berjibun di negeri ini. Tetapi, pada saat yang sama, jumlah kelas menengah Muslim Indonesia juga jauh lebih besar dibandingkan Turki dan Arab Saudi berkat jumlah penduduk Muslim Indonesia yang jauh lebih besar.

Tetapi kemiskinan, kemelaratan, dan pengangguran di kalangan Muslim Indonesia dan juga non-Muslim, selain tertolong motivasi keagamaan yang terus meningkat dan bertahannya tradisi sosio-kultural kedermawanan, juga karena jaring pengaman sosial yang juga tetap eksis. Meski keluarga Indonesia kian bergeser menjadi keluarga nuklir, patembayan, budaya paguyuban tidak punah. Hampir setiap keluarga mampu secara ekonomi mewujudkan kedermawanannya dengan membantu sanak saudara yang melarat dan terlunta dalam berbagai bentuk, seperti menampung sebagian mereka di rumah sendiri, memberikan santunan bulanan, menjadi orangtua asuh, memberikan beasiswa, dan seterusnya.

Kaum Muslimin Indonesia patut merayakan kedermawanan yang tidak hanya bertahan, tetapi bahkan cenderung terus meningkat. Namun, kedermawanan itu sepatutnya tidak hanya dirayakan pada bulan Ramadhan, tetapi juga pada bulan-bulan selanjutnya. Dengan begitu, mereka yang telantar dan terkapar dapat merasakan berkah hidup sebagai Muslim. Inilah Islam sebagai rahmatan lil-’alamin.

Dan, tradisi melakukan ‘pemberian’ itu seyogianya pula tidak sekadar pemberian, tetapi juga merupakan upaya pemberdayaan. Oleh sebab itu, kedermawanan niscaya memerlukan pengembangan program-program pemberdayaan ekonomi dan sosial yang dapat efektif dengan manajemen yang akuntabel dan kredibel, baik secara administratif maupun moral.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tuiisan dimuat pada Harian Republika, 28 Juli 2011