Merajut Asa Masa Depan Anak Jalanan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SELASA (5/4) selepas Magrib,  Lindah (21) bergegas dari rumah kontrakannya di Kelurahan Pisangan, Kecamatan Ciputat Timur, menuju sebuah lokasi belajar anak-anak jalanan di Kelurahan Ciputat, Kecamatan Ciputat. Tak lama tiba di tempat, ia langsung disambut sekitar 30-an anak jalanan, yang pada malam itu bersiap untuk belajar.

Assalamu’alaikum, Kak Lindah,” sapa Diki (12), salah satu anak jalanan, yang segera menyalaminya di depan pintu, diikuti anak-anak lain. Lindah pun tersenyum seraya menjawab salam.

Lindah, mahasiswi Jurusan Kependidikan Islam/Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (KI/MP FITK) semester delapan, malam itu mendapat giliran untuk mengajar anak-anak jalanan. “Sudah lebih setahun ini saya menjadi guru relawan,” katanya.

Di tempat itu, Lindah tidaklah sendirian. Ada lima guru relawan lain yang sudah lebih dahulu tiba. Mereka memiliki tugas yang sama: membina anak-anak jalanan. “Setiap malam selama sepekan kami bergantian mengajari mereka (anak-anak jalanan, Red). Jumlah guru yang terlibat dalam semalam tidak tentu. Semua bergantung pada kesempatan saja,” terang Lindah, yang pada malam itu memperoleh giliran mengajari menulis dan membaca al-Qur’an.

Tepat pukul 19.00 WIB, pelajaran pun dimulai, dan anak-anak sibuk mencatat serta menyimak.

Lokasi belajar anak-anak jalanan itu berada di sebuah rumah kontrakan di Jalan Bhineka, Gang Haji Mukhtar, Ciputat. Luasnya tak seberapa, yakni hanya 4 x 4 meter. Jangan bayangkan bagaimana anak-anak itu belajar. Mereka cukup duduk lesehan dan bahkan saling berdesakan.

Tak hanya itu, penerangan ruangan juga sangat kurang memadai. Selain cuma satu lampu pijar yang terpasang, cahayanya pun sedikit redup sehingga menyulitkan mata melihat. Belum lagi ditambah bau keringat dari anak-anak yang kadang belum sempat mandi atau terkadang muncul aroma tak sedap dari balik kamar mandi yang tak jauh dari ruangan itu.

Meski begitu, toh, semua tak menyurutkan semangat anak-anak belajar. Mereka justru antusias sekalipun waktu belajar kadang sampai larut malam. Begitu pun dengan para pengajar, mereka tetap sabar dan tekun mengajar.

“Ya memang sudah seperti itu keadaannya,” ujar Diki Komaruzaman (23), koordinator tim guru relawan, ikut menerangkan.

Diki menjelaskan, para guru relawan yang mengajar adalah mahasiswa UIN Jakarta dari beberapa fakultas dan jurusan. Bahkan ada di antaranya dari Universitas Mercu Buana Jakarta. Mereka tergabung dalam wadah Lingkar Samudera Belajar (LSB) yang didirikannya pada awal tahun 2010.

Awalnya, menurut Diki, komunitas anak jalanan itu dibina di sebuah organisasi ekstra kampus yang bermarkas di kompleks dosen UIN Jakarta, masih di tahun 2010. Sayang, belajar di tempat itu hanya berlangsung selama tiga bulan. “Setelah itu kami mencari tempat lain, hingga akhirnya memilih rumah kontrakan di Ciputat,” ujar mahasiswa Jurusan KI/MP FITK semester akhir ini. Rumah kontrakan itu, diperoleh dari hasil menyewa secara patungan tiap bulannya. “Harga sewanya per bulan sebesar Rp 350.000,” imbuhnya.

Ia juga menuturkan, munculnya ide mendirikan LSB itu berawal dari keprihatinnya terhadap anak-anak jalanan di Ciputat yang –dari tahun ke tahun– jumlahnya terus meningkat. Selain itu anak-anak itu juga kurang mendapat perhatian, terutama dari segi pendidikan. ”Masalah mereka kompleks. Rata-rata karena himpitan ekonomi atau berasal dari keluarga bermasalah, sehingga banyak yang terpaksa harus putus sekolah. Padahal masa depan mereka masih panjang,” jelasnya.

Sejak itu, Diki kemudian berinisiatif mengajak beberapa teman satu kampus untuk membina anak-anak jalanan. Gayung pun bersambut hingga program itu akhirnya berjalan lebih dari satu tahun sampai sekarang. Menurut Diki, jumlah guru relawan yang turut terlibat membina tercatat ada 15 orang, semuanya berstatus mahasiswa.

Adapun mengenai anak-anak jalanan, berdasarkan data yang dihimpun LSB, sebagian besar berprofesi sebagai pengamen, terutama di kawasan Jalan Pesanggrahan yang bersebelahan dengan kampus UIN Jakarta. Di luar kawasan itu, mereka mengamen di Pasar Ciputat, Pasar Jumat, Pasar Rebo, dan bahkan sampai di Senayan. Sementara usia mereka berkisar antara lima hingga 17 tahun atau usia SD hingga SMA.

Konon, karena ”wilayah operasional” yang tersebar tersebut, tak mudah mengumpulkan mereka untuk belajar tepat waktu. Malah kadang-kadang ada beberapa di antara mereka terpaksa tidak ikut lantaran masih di jalanan atau dalam perjalanan pulang.

”Mereka sebenarnya rata-rata tinggal di kawasan Ciputat. Cuma, ya itu tadi, karena operasi kerja mereka banyak yang jauh, para pengajar pun selalu dituntut untuk bersabar menunggu,” ungkap Diki. Untuk kelancaran belajar itu, tim sendiri telah membuat jadual rutin, yakni antara pukul 19.00 hingga 20.30 setiap hari selama sepekan. Namun, mengingat ruangan yang sempit, anak-anak jalanan itu belakangan dipecah menjadi dua kelompok. Begitu pun jadualnya ditambah sore hari mulai pukul 16.00 hingga 17.30.

Selama belajar itu, anak-anak jalanan diberikan beragam pendidikan. Untuk bidang keilmuan mata pelajarannya adalah agama, matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, IPS, IPA, dan sejarah. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler, terdapat pelajaran menulis, menari, teater, dan kerajinan tangan.

“Sehari diberikan dua mata pelajaran. Alhamdulillah, selama ada tim guru relawan yang melakukan pendampingan, anak-anak jalanan itu terlihat senang dan tetap bersemangat. Cuma sayang warga sekitar belum banyak yang peduli,” kata Diki.

Diki dan guru-guru relawan berharap ke depan ada di antaranya yang menjadi donatur. Terutama untuk sewa rumah kontrakan atau pemberian fasilitas dalam bentuk lain, mengingat masa depan anak-anak itu yang masih panjang. (ns)