Di tengah merebaknya tindak terorisme, ancaman disintegrasi bangsa melalui aneka gerakan radikal, liberal, komunisme, neokolonialisme, dan sebagainya, mengevaluasi kembali fungsi dan peran keluarga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara terasa sangat urgen.

Pertama, keluarga adalah sakaguru dan pilar utama kehidupan masyarakat dan bangsa.

Tanpa keluarga yang berkomitmen untuk bersatu nusa, satu bangsa, satu bahasa, dan satu dasar negara (Pancasila), mustahil keluarga bangsa Indonesia yang besar ini dapat dipertahankan. Kepentingan masing-masing warga dan keluarga boleh jadi berbeda-beda, namun spirit nasionalisme sebagai keluarga bangsa harus bisa mengenyahkan segala bentuk egoisme sektoral dan kontra integrasi bangsa.

Kedua, keluarga merupakan basis sekaligus sasaran pembangunan nasional yang tidak boleh diabaikan.

Mengabaikan pembangunan keluarga dari segi mental spiritual, pendidikan karakter, sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan sebagainya sama artinya mengerdilkan makna keluarga bangsa. Secara sosiologis, keluarga sejahtera, bahagia, dan mulia merupakan fondasi bangsa sejahtera, adil makmur, dan berperadaban maju.

Ketiga, keluarga besar Indonesia sejatinya bersaudara, meskipun berbeda suku, ras, agama, bahasa, budaya, latar belakang sosial-ekonomi, politik, dan sebagainya.

Persaudaraan keluarga bangsa tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pragmatis dan politis yang cenderung egoistis, mendahulukan kepentingan partai politik tertentu dan mengabaikan kepentingan dan kebersaudaraan nasional. Keluarga bangsa Indonesia dewasa ini banyak dihadapkan pada berbagai ujian. Ada ujian sosial-ekonomi dengan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, terutama tarif dasar listrik yang dirasakan oleh mayoritas keluarga bangsa sangat mencekik.

Ada pula ujian sosialpolitik dan moral, dengan ketidak jelasan dugaan kasus korupsi e-KTP, Rumah Sakit Sumber Waras, reklamasi Teluk Jakarta, Bank Century, BLBI, dan sebagainya. Ada ujian nasionalisme berupa menguatnya paham radikal dan anti-Pancasila, karena mungkin pemerintah belum mampu menyejahterakan dan mewujudkan rasa keadilan hukum dan sosial di antara keluarga bangsa.

Selain itu, keluarga bangsa juga dihadapkan pada sikap oportunisme sebagian warga bangsa yang selalu men dahulu kan klaim sebagai kelompok yang paling toleran, paling bineka, paling NKRI, dan paling Pancasilais, namun perilaku dan tindakan kelompok ini sering tidak toleran, anti kebinekaan, dan tidak Pancasilais terhadap sesama warga bangsa.

Kelompok-kelompok oportunis yang “mendompleng” atas nama ideologi Pancasila sejatinya hanyalah menggerogoti kesatuan dan kekayaan bangsa, karena hanya berorientasi untuk mendapat “jatah kue ” kekuasaan atas nama “keluarga kelompoknya” yang diklaim mayoritas dan berpengaruh dalam menentukan masa depan bangsa. Keluarga bangsa ini sudah mengalami berbagai masa yang sulit dalam menapaki jalan masa depan yang didambakan.

Dari rezim Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi hingga saat ini, keluarga bangsa ini belum sepenuhnya menunjukkan peran dan fungsinya yang optimal. Sebagai ujung tombak dalam menjaga NKRI, keluarga bangsa perlu diberdayakan secara serius.

Bagaimana misalnya mewujudkan keluarga sejahtera, mandiri, dan mulia berbasis RT-RW di seluruh Indonesia? Bagaimana mengoptimalkan peran serta keluarga dalam menanggulangi terorisme, pelanggaran amoral, kejahatan sosial, dan sebagainya? Dalam waktu dekat, keluarga bangsa ini juga akan menghadapi bonus demografi, ledakan jumlah penduduk, akibat kurang terkendalinya angka kelahiran dari pasangan usia subur.

Jika bonus demografi dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, niscaya bonus dapat menjadi kontribusi positif dalam pem bangunan bangsa. Sebaliknya, jika tidak terkelola dengan baik maka bonus itu berpotensi menjadi masalah keluarga bangsa yang serius, seperti kerawanan sosial, krisis pangan, mudahnya konflik sosial horizontal.

Dengan demikian, keluarga bangsa ini harus dikelola dengan baik agar bisa menjadi keluarga bangsa mulia: berakhlak mulia, setia kepada ideologi dasar negara, bersaudara, berjiwa nasionalisme dan patriotisme, dan mampu hidup sejahtera. Mewujudkan keluarga bangsa mulia bukan semata-mata tanggung jawab masing-masing keluarga.

Negara dan masyarakat yang hidup di sekeliling keluarga juga mempunyai kontribusi dalam mewujudkannya. Karena itu, RT dan RW perlu dicerdaskan dan diberdayakan, sehingga masing-masing RT dan RW berfungsi dan berperan optimal, misalnya saja , dalam menjaga keamanan, kebersihan, keter tiban, kesehatan, dan kesejahteraan lingkungan. Sistem kontrol sosial yang bersifat preventif dan proaktif di tingkat RT dan RW dapat difungsikan untuk meredam dan menangkal munculnya gerakan radikal, perilaku asusila, kriminalitas, dan konflik sosial.

Melalui pembentukan keluarga bangsa di setiap RT dan RW, aneka fungsi keluarga seperti sosialisasi diri, interaksi sosial, edukasi, spiritualisasi diri, harmonisasi antarwarga, dan seba gainya dapat dioptimalkan. Tentu saja, para ketua RT dan RW perlu diberikan pembinaan, pendampingan, pelatihan, dan orientasi yang benar dan konstruktif dalam mewujudkan keluarga bangsa mulia. Selain itu, manajmen RT dan RW juga harus ditopang “dana desa” yang memadai dan dipergunakan untuk kemaslahatan keluarga, bukan untuk kepentingan politik.

Oleh karena itu, Indonesia perlu memiliki peta jalan (road map) pembangunan keluarga bangsa mulia, sejahtera, berbudaya, dan ber peradaban mendunia. Peta jalan menuju keluarga bangsa mulia harus dimulai dari keteladanan yang baik (uswah hasanah, role model) dari para pemimpin negeri ini. Pasalnya, kata kunci keberhasilan membangun dan membentuk keluarga bangsa mulia itu berasal dari pemimpin bangsa yang layak dicontoh oleh rakyatnya dari segi sikap, tutur kata, dan perbuatan nyata.

Sebagai contoh, jika sang pemimpin telah mengampanyekan penghematan penggunaan anggaran, pola hidupnya yang hemat dan tidak aji mumpung dalam memanfaatkan fasilitas negara harus benar-benar dapat dicontoh, bukan pencitraan belaka. Dengan demikian, mewujudkan keluarga bangsa mulia harus menjadi komitmen semua pihak.

Keluarga bangsa Indonesia yang besar dan berbineka ini mustahil dapat merawat persatuan, persaudaraan, kerukunan, dan kedamaian tanpa adanya visi keluarga bangsa mulia yang jelas. Sejarah para Nabi dan Rasul membuktikan bahwa keberhasilan mereka mewujudkan misi kenabian (prophetic mission), membumikan ajaran Tuhan, dan memanusiakan umat manusia karena mereka sangat me nyayangi dan mencintai keluarga.

Bahkan, salah satu sabda Nabi Muhammad SAW tentang manusia terbaik, adalah manusia yang paling baik dalam membina dan menyejahterakan keluarganya. Jadi, para pemimpin bangsa harus menjadi “duta terbaik” bangsa dalam menunjukkan keluarga teladan dan mulia bagi semua warga bangsa. Keluarga bangsa mulia merupakan dambaan kita semua, karena dari keluarga bangsa mulia hadir masyarakat mulia, dan pada gilirannya melahirkan bangsa yang berkemajuan dan berperadaban mulia.

Keluarga bangsa mulia ini harus menjadi komitmen dan cita- cita warga bangsa, agar masa depan bangsa ini menjadi lebih prospektif, konstruktif, dan solutif. Berbagai permasalahan bangsa akan dapat diselesaikan dengan baik, apabila setiap ang gota ke luarga bangsa mampu menyelesaikan masalahnya di rumah tangga masing-masing.

Keluarga bangsa yang sakinah (damai), mawaddah (saling mencintai), rahmah (saling menyayangi), dan saling menjaga komitmen akad nikahnya sebagai mitsaqan ghalidha (perjanjian suci yang maha berat) dengan penuh amanah niscaya menjadi modal spiritual dan sosial menuju keluarga bangsa mulia. Semoga!

Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjana FITK UIN Jakarta

Sumber: http://koran-sindo.com/page/news/2017-07-17/1/0/Menuju_Keluarga_Bangsa_Mulia (Edisi 17-07-2017) (lrf/zm)

Share This