Menuju Budaya Riset Sivitas Akademika

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Prof. Dr. Suwito MA[1]

 

Sekretaris Senat UIN Jakarta Prof Dr Suwito MA

Sekretaris Senat UIN Jakarta Prof Dr Suwito MA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara Rektor dan para Wakil Rektor yang terhormat

Para Guru Besar dan Anggota Prosesi Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana ke 97 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang terhormat

Para wisudawan dan wisudawati yang saya sayangi dan saya banggakan

Para orang tua wisudawan dan wisudawati yang saya hormati, dan

Seluruh hadirin dan hadirat yang berbahagia.

 

Langkah pertama dan kedua yang wajib kita lakukan pada pertemuan pagi ini, Ahad 23 Agustus 2015 adalah bersyukur kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi kita Muhammad SAW. Syukuran ketiga adalah Saudara-saudara pada hari ini dilantik/diwisuda menjadi Sarjana, Magister, atau Doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Syukuran keempat adalah pemilik nama auditorium ini, yaitu Prof. Dr. Harun Nasution pada tanggal 13 Agustus 2015 yang baru lalu dianugerahi Tanda Kehormatan Negara Republik Indonesia (TKNRI) berupa Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 83/TK/Tahun 2015. Saya termasuk orang yang menjadi saksi untuk itu karena saya sebagai pendamping Sumarso, anak angkat yang mewakili alm. Prof. Dr. Harun Nasution menerima Tanda Kehormatan dari Presiden di Istana Negara. Ini artinya bahwa jasa-jasa almarhum Prof. Dr. Harun Nasution terutama bidang pengembang budaya moderat diakui dan diapresiasi oleh Negara. Sukuran kelima adalah karena tokoh yang turut mengantarkan perubahan IAIN menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra pada hari Jum’at malam tanggal 21 Agustus 2015 yang baru lalu menerima penghargaan sebagai Pemikir Sosial dari Yayasan Achmad Bakrie, Freedom Institute dan Viva Group berupa Penghargaan Acmad Bakrie XIII tahun 2015 untuk Negeri. Pada tahun 2005 Pak Azyumardi Azra juga pernah mendapatkan Tanda Kehormatan Negara Republik Indonesia berupa Bintang Mahaputra Utama. [2]

Prof. Dr. Harun Nasution adalah rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1973-1984. Almarhum pula yang memiliki gagasan perubahan IAIN menjadi Universitas yang sekarang bernama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oleh sebab itu, kita wajib berterima kasih kepada almarhum. Kita juga wajib berterima kasih kepada Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2006-2015 karena pada masa kepemimpinan beliaulah nama auditorium ini bernama Auditorium Harun Nasution. Ucapan terima kasih juga wajib kita sampaikan kepada Prof. Dr. Azyumardi Azra, Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 1998-2006 karena pada masa kepemimpinan beliau IAIN ini beralih status menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tanggal 20 Mei 2002 bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Selain itu, atas usul beliau pula Prof. Dr. Harun Nasution memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden. Tentu saja kita juga wajib berterima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa terhadap Universitas ini.

Kembali kepada pembicaraan tentang Prof. Harun Nasution. Perlu kita ketahui bahwa pada masa Pak Harun, demikian ia akrab dipanggil, adalah adanya perubahan dalam sistem perkuliahan. Apabila sebelumnya para dosen lebih banyak menyampaikan materi perkuliahan secara oral (ceramah) maka pada masa beliaulah diperkenalkan perkuliahan model seminar dengan cara mendiskusikan makalah/tulisan para mahasiswa. Dengan cara ini para mahasiswa diwajibkan meneliti dan melaporkan hasil penelitiannya berupa penulisan makalah. Data penelitian dalam hal ini dapat berupa buku dan/atau luar buku yang dikenal dengan istilah library research dan/atau field research. Sistem perkuliahan model seminar inilah yang kemudian banyak ditiru para dosen sampai dengan sekarang, bukan hanya di UIN ini tetapi bahkan hampir di seluruh perguruan tinggi.

Sistem perkuliahan model seminar menghendaki agar bukan hanya dosen yang pandai karena banyak bicara atau ceramah melainkan mahasiswa juga dimotivasi agar lebih aktif menyampaikan pendapat dan pemikirannya. Selain menulis, untuk dapat membuat makalah tentu didahului dengan banyak membaca. Kita tidak mungkin dapat menulis apabila sebelumnya tidak memiliki hasil bacaan. Istilah lain yang sering digunakan Dr. Fuad Jabali, dosen Fakultas Adab dan Humaniora dan Sekolah Pascasarjana adalah “kita tidak mungkin dapat melahirkan jika tidak hamil’. Dengan demikian, sistem perkuliahan model seminar dapat memberikan motivasi yang maksimal untuk mengembangkan budaya membaca. Sebagai umat Islam, budaya membaca ini sudah diingatkan pada awal-awal Islam. Surat al-‘Alaq 1-5 dalam al-Quran telah memberikan isyarat tentang perintah banyak membaca ini.

Kita juga wajib menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekarang, Prof. Dr. Dede Rosyada karena tema wisuda kali ini sejalan dengan uraian sebelumnya yaitu “Mengokohkan kontribusi memperkuat tradisi riset sivitas akademika”.

Perlu kita ketahui bersama bahwa kenaikan pangkat guru maupun dosen sangat ditentukan oleh adanya karya hasil penelitian yang diterbitkan dan diutamakan yang berkualifikasi internasional. Silakan saudara-saudara pelajari lebih lanjut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 17 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Para Guru dan calon Guru dan para Dosen dan calon dosen yang sekarang diwisuda wajib membaca peraturan tersebut baik-baik agar dapat mensiasati lebih lanjut bagaimana dapat naik pangkat secara cepat. Selain bermanfaat untuk pribadi dan keluarga, pangkat yang tinggi sangat diperlukan oleh institusi kita seperti Sekolah, Program Studi, dan Perguruan Tinggi.

Saudara-saudara juga telah mengetahui bahwa manfaat hasil penelitian, selain untuk kepentingan pangkat seperti dijelaskan di atas, juga bermanfaat bagi pengembangan ilmu. Rekognisi/pengakuan terhadap lembaga pendidikan seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini akan didapatkan apabila banyak hasil penelitian yang dipublikasikan dan dikutip para pakar terutama jika dapat dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi. Semoga kita para dosen dan Saudara-saudara yang diwisuda hari ini dapat terus melakukan penelitian dan menerbitkannya dalam jurnal-jurnal internasioanal. Amin.

Akhirnya, atas nama Ketua Senat Universitas, dengan mengucap “Bismillahirrahmanirrahim” Wisuda Sarjana ke-97 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari kedua ini secara resmi dibuka.

Pimpinan acara selanjutnya adalah Rektor. Oleh karena itu dengan ini saya minta Saudara Rektor memimpin acara berikutnya.

Catatan Kaki :

[1] Guru Besar/Sekretaris Senat Universitas mewakili Ketua Senat Universitas Prof. Dr. M. Atho Mudzhar

[2]Prof. Azyumardi Azra adalah tokoh yang banyak menerima penghargaan tingkat nasional dan internasional. Pada tanggal 28 September tahun 2002 ia menerima penghargaan dari Penerbit Mizan sebagai penulis paling produktif. Pada tanggal 7 April 2005 dalam peringatan 50 Tahun The Asia Foundation, ia juga menerima penghargaan The Asia Foundation karena dinilai sebagai tokoh yang banyak kontribusinya dalam melakukan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. Pada tanggal 28 September 2010 dia memperoleh titel CBE (Commander of the Order of British Empire), sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris. Dengan gelar ini, maka Pak Azyumardi adalah orang pertama di luar warga negara anggota Persemakmuran yang boleh mengenakan Sir di depan namanya. Pada tanggal 6 Agustus 2011 ia menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Carroll College, Montana, Amerika Serikat. Pada tanggal 21 September 2014 ia menerima penghargaan bidang akademik berupa Fokuoka Prize dari Jepang. Masih banyak penghargaan lain untuk Pak Azyumardi yang tidak sempat ditulis di sini.

Tulisan adalah Pidato Pembukaan Wisuda Sarjana ke 97 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahad 23Agustus 2015