Menonton ”Selandia Baru” di UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SEBANYAK tiga film Selandia Baru ditayangkan dalam ”New Zealand Day” yang digelar di kampus UIN Jakarta, Rabu (11/3). Ketiga film itu adalah Hawaikii besutan Mike Johnatan, Coffee & Allah (Sima Urale), dan Whale Rider (Niki Caro).

Film-film tersebut merupakan film independen yang telah mendapat banyak penghargaan pada festival-festival film di luar Selandia Baru. Bahkan, Whale Rider sukses mengantarkan aktrisnya, Keisha Castle-Hughes sebagai nominator aktris terbaik di Academy Award 2004.

Whale Rider mengisahkan tentang Pai, seorang anak perempuan Maori yang dibesarkan kakek neneknya, Koro dan Nany Flowers. Ayah Pai meninggalkannya setelah ibu Pai meninggal dunia ketika melahirkan Pai dan saudara laki-laki kembarnya, yang juga meninggal saat dilahirkan. Hal ini membuat suku mereka tidak memiliki kepala suku bila Koro meninggal, karena perempuan dinggap tidak cocok untuk memimpin. Pai mencoba membuktikan kemampuannya sebagai pemimpin.

Film ini membuat penonton yang terdiri dari mahasiswa UIN Jakarta berdecak kagum, bahkan larut dalam peran Pai, yang membawa penonton dalam kesedihan pada perjuangan yang dilakukan Pai.

Sementara, Cofee & Allah bercerita tentang seorang gadis muslim Ethiopia bernama Abeba Mohammed yang memiliki minat terhadap kopi dan olahraga bulu tangkis. Abeba pindah ke daerah pinggir kota Mount Albert, kawasan Auckland untuk bergabung dengan saudara perempuannya di bawah program penyatuan keluarga pengungsi. Dari balik busana muslimnya dan ketidakmampuannya berbahasa Inggris, Abeba berjuang untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di tempat tinggalnya sekarang.

Selain itu, ada Hawaikii yang minim kata-kata dengan penceritaan lambat. Film berdurasi 15 menit ini, menceritakan anak perempuan Maori yang memasuki hari pertama sekolah. Dibesarkan dengan kebudayaan Maori sebagai dasar, dia memasuki lingkungan asing yang kebudayaannya hanya sedikit sekali yang dia ketahui, begitu pun sebaliknya mereka tidak mengenal kebudayaan perempuan kecil Maori ini.

Whale Rider merupakan film utama yang tayang paling akhir. Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi dengan kritikus film Ekky Imanjaya dan Sekretaris Kedua Bidang Politik Kedubes Selandia Baru, James Waite.

Berkaitan dengan film Whale Rider, James Waite menjelaskan, suku Maori yang merupakan suku asli Selandia Baru hanya berkisar 20% dibandingkan dengan total penduduk. Pemerintah berusaha untuk melindungi budaya Maori sebagai identitas Selandia Baru.

”Dengan banyaknya masyarakat pendatang yang juga membawa budayanya, tentu melindungi budaya Maori merupakan tantangan bagi pemerintah,” jelasnya.* (Elly Afriani)

 

Menonton ”Selandia Baru” di UIN Jakarta

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SEBANYAK tiga film Selandia Baru ditayangkan dalam ”New Zealand Day” yang digelar di kampus UIN Jakarta, Rabu (11/3). Ketiga film itu adalah Hawaikii besutan Mike Johnatan, Coffee & Allah (Sima Urale), dan Whale Rider (Niki Caro).

Film-film tersebut merupakan film independen yang telah mendapat banyak penghargaan pada festival-festival film di luar Selandia Baru. Bahkan, Whale Rider sukses mengantarkan aktrisnya, Keisha Castle-Hughes sebagai nominator aktris terbaik di Academy Award 2004.

Whale Rider mengisahkan tentang Pai, seorang anak perempuan Maori yang dibesarkan kakek neneknya, Koro dan Nany Flowers. Ayah Pai meninggalkannya setelah ibu Pai meninggal dunia ketika melahirkan Pai dan saudara laki-laki kembarnya, yang juga meninggal saat dilahirkan. Hal ini membuat suku mereka tidak memiliki kepala suku bila Koro meninggal, karena perempuan dinggap tidak cocok untuk memimpin. Pai mencoba membuktikan kemampuannya sebagai pemimpin.

Film ini membuat penonton yang terdiri dari mahasiswa UIN Jakarta berdecak kagum, bahkan larut dalam peran Pai, yang membawa penonton dalam kesedihan pada perjuangan yang dilakukan Pai.

Sementara, Cofee & Allah bercerita tentang seorang gadis muslim Ethiopia bernama Abeba Mohammed yang memiliki minat terhadap kopi dan olahraga bulu tangkis. Abeba pindah ke daerah pinggir kota Mount Albert, kawasan Auckland untuk bergabung dengan saudara perempuannya di bawah program penyatuan keluarga pengungsi. Dari balik busana muslimnya dan ketidakmampuannya berbahasa Inggris, Abeba berjuang untuk menjalin hubungan dengan orang-orang di tempat tinggalnya sekarang.

Selain itu, ada Hawaikii yang minim kata-kata dengan penceritaan lambat. Film berdurasi 15 menit ini, menceritakan anak perempuan Maori yang memasuki hari pertama sekolah. Dibesarkan dengan kebudayaan Maori sebagai dasar, dia memasuki lingkungan asing yang kebudayaannya hanya sedikit sekali yang dia ketahui, begitu pun sebaliknya mereka tidak mengenal kebudayaan perempuan kecil Maori ini.

Whale Rider merupakan film utama yang tayang paling akhir. Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi dengan kritikus film Ekky Imanjaya dan Sekretaris Kedua Bidang Politik Kedubes Selandia Baru, James Waite.

Berkaitan dengan film Whale Rider, James Waite menjelaskan, suku Maori yang merupakan suku asli Selandia Baru hanya berkisar 20% dibandingkan dengan total penduduk. Pemerintah berusaha untuk melindungi budaya Maori sebagai identitas Selandia Baru.

”Dengan banyaknya masyarakat pendatang yang juga membawa budayanya, tentu melindungi budaya Maori merupakan tantangan bagi pemerintah,” jelasnya.* (Elly Afriani)