Tradisi menyambut kelulusan sekolah yang buruk masih mewarnai pendidikan kita. Siswa-siswi mencoret-coret baju, celana, rok, dan rambut mereka dengan spidol dan cat. Mereka pawai di jalan menggunakan motor, bahkan beberapa mengalami kecelakaan berat dan ringan, di hari yang seharusnya mereka bahagia berkumpul bersama keluarga.

Tidak sampai di situ, mereka juga merokok, menari “striptis”, dan pulang larut malam. Sebelum lulus, siswa kita juga kerap terlibat tawuran yang menelan korban jiwa. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlanjut. Pemangku pendidikan harus serius memecahkan masalah ini untuk menyelematkan generasi penerus bangsa. Karakter buruk siswa itu menunjukkan kesalahan dalam proses pendidikan di sekolah dan di rumah.

Pertama, tata tertib sekolah tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan siswa, mencakup pelarangan coret-coret baju saat kelulusan. Sanksi pelanggaran dirumuskan agar regulasi itu efektif. Sekolah bisa mengadakan kegiatan sosial-keagamaan setelah ujian nasional atau hari kelulusan.

Kedua, orangtua mendukung kebijakan sekolah itu dengan menasihati anak tentang buruknya coret-coret baju, merokok, dan pawai motor di jalanan. Selepas salat berjamaah di rumah, ayah-ibu bisa mengatakan hal ini baik-baik kepada anak. Semua orangtua bisa hadir di sekolah pada hari terakhir ujian atau kelulusan, sekaligus menemani anak pulang ke rumah. Seperti program mengantar anak di hari pertama sekolah, orangtua juga wajib menjemput anak saat kelulusan/hari terakhir ujian nasional/sekolah.

Jika upaya-upaya pencegahan sudah dilakukan guru dan orangtua tetapi gagal, maka perlu perspektif lain untuk menjawabnya. Jadilah figur teladan siswa dan anak. Orangtua dan guru harus jadi panutan anak dan siswa agar berhasil mendidik. Peristiwa di atas menunjukkan kegagalan keduanya sebagai panutan, sebab apa yang diperintahkan dan diinginkan keduanya tidak dipatuhi anak.

Peran keduanya kalah oleh pengaruh lingkungan, yaitu media sosial dan teman sejawat. Medsos tidak buruk, tetapi orangtua-guru perlu mengingatkan bahaya medsos bagi konsentrasi belajar dan pembentukan karakter. Bahwa anak tidak dibebaskan bermain gawai dan medsos, tetapi selalu dalam pantauan dan arahan orangtua-guru.

Pertama, anak dibiasakan menggunakan telepon genggam mereka untuk mencari informasi ilmu pengetahuan terkait tugas-tugas sekolah dan belajar bahasa, misalnya. Siswa bisa saja membawa telepon ke sekolah sebagai media belajar, dan disimpan saat tidak diperlukan.

Kedua, biasakan anak membeli dan membaca buku. Sekolah mengadakan gerakan membaca buku 15 menit sebelum belajar jam pertama dimulai. Di rumah, orangtua dan anak membaca buku kesukaan masing-masing. Anak-anak diarahkan mencintai buku dengan cara membeli, membaca, dan mengoleksinya.

Konten buku bisa mengalahkan atau mengimbangi konten negatif medsos dan internet. Perilaku negatif siswa adalah dampak negatif medsos, internet, dan teman sejawat. Buku-buku harus disediakan dan dibaca siswa agar mereka menyerap kebaikan pengetahuan dan nilai-nilai positif. Contoh, novel-novel islami penuh pelajaran pentingnya karakter sabar, jujur, tanggung-jawab, disiplin, kerja keras, dan toleransi.

Membiasakan membaca adalah cara mendidik yang tidak ada paksaan. Anak-anak belajar karakter baik kepada tokoh-tokoh yang ada dalam buku/ novel yang dibacanya. Guru dan orangtua tidak perlu teriak apalagi marah untuk mendidik anak. Kegemaran membaca merupakan pintu yang mengantarkan anak belajar baik dan buruk.

Demikianlah, keburukan akhlak anak kita merupakan cermin agar kita membaca diri: bisakah kita menjadi teladan bagi anak-siswa? Pada Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) diharapkan kebangkitan nasional (20 Mei) bisa mewujud dalam karakter siswa-siswi yang baik. Mereka tidak merokok (31 Mei), menjadikan keluarga (20 Mei) sebagai panutan, dan pencinta buku (17 Mei). Peringatan lima hari besar pada Mei itu saling terkait dalam hal memajukan pendidikan Indonesia.

Coret-coret baju dan merokok yang dilakukan siswa jangan dianggap peristiwa sepele, jika menginginkan pendidikan kita maju. Itu adalah cermin karakter buruk yang jika dibiarkan akan berdampak pada paradigma anak-anak kita di masa depan. Tradisi buruk itu harus dihilangkan dari pendidikan kita, digantikan dengan tradisi positif yang membanggakan guru, orangtua, dan masyarakat.

Jejen Musfah, Ketua Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Jakarta. Sumber: Republika, 08 Mei 2018.