Menjemput Impian Jadi Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Repoter: Jamilah dan Nina Rahayu

Siang itu, Senin (14/7) sejumlah peserta tampak serius mengikuti program matrikulasi yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan (FKIK). Di tangan kanannya tampak memegang bolpoint dan kertas, sementara di depan kelas, seorang tutor sedang menyampaikan materi. Hampir tidak ada satupun di antara mereka yang lengah dari penjelasan itu.

Demikian pemandangan yang lazim disaksikan selama dua pekan ini. Peserta itu adalah para mahasiswa yang tengah mengikuti program matrikulasi, yaitu sejenis program pra perkuliahan yang diperuntukan bagi para mahasiswa berlatar belakang santri yang mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan pemerintah daerah.

Doni Maradona (18), misalnya, mengaku sangat senang mengikuti program matrikulasi. Ia adalah santri yang mendapatkan beasiswa dari Depag, untuk melanjutkan kuliah di FKIK UIN Jakarta. ”Pendidikan ini merupakan anugerah tersendiri buat saya. Berbekal prestasi, saya bisa masuk Jurusan Farmasi,” ujar santri pesantren al-Hikmah, Lampung.

Mendapat kesempatan untuk kuliah di FKIK UIN Jakarta, dirasakan Doni sebagai nikmat yang tak terkira. Karena selain berasal dari daerah terpencil, ia juga memiliki latar belakang keluarga yang kurang mampu. Berkuliah di kedokteran UIN Jakarta bagaikan langkah menjemput impian menjadi seorang dokter yang profesional.

Program penawaran beasiswa ternyata memberikan harapan besar bagi para mahsiswa yang mendapatkannya. Jenjang pendidikan tinggi dan masa depan yang cerah merupakan mimpi bagi mereka yang mendapat kesempatan emas ini. Tidak salah bila kemudian para mahasiswa yang mengikuti matrikulasi melabuhkan harapan besarnya.

Harapan besar itu ditemukan dalam diri Mahmudah (18), mahasiswa asal Palembang. Mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) itu, berharap cita-citanya akan dengan mudah tercapai. ”Saya merasa sangat bersyukur karena beasiswa ini membuat saya yakin akan sebuah cita-cita,” paparnya dengan mata berbinar.

Kegiatan matrikulasi ini diikuti oleh 50 peserta, 40 di antaranya berasal dari seleksi beasiswa yang diadakan oleh Depag, dan sisanya dari Pemkab. Mereka yang mendapat beasiswa rata – rata yang berprestasi tiga besar di pondok Psantren dan Madrasah Aliyah (MA).

Disamping mendapat beasiswa tampaknya santri berbakat ini juga memiliki cita-cita yang luhur. Dengan berbekal kemampuan kodokteran mereka berencana akan mengabdi pada pondok pesantren asalnya.

”Kami berharap dapat berbakti pada pesantren, karena kami sadar tanpa ada beasiswa ini tidak mungkin Kami sampai di UIN Jakarta untuk melanjutkan studi yang cukup menguras biaya, jika hanya mengandalkan pendapatan orang tua, Kami tidak yakin bisa kuliah di FKIK ini, ” kata Doni seraya tersenyum bangga.*

Menjemput Impian Jadi Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Repoter: Jamilah dan Nina Rahayu

Siang itu, Senin (14/7) sejumlah peserta tampak serius mengikuti program matrikulasi yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan (FKIK). Di tangan kanannya tampak memegang bolpoint dan kertas, sementara di depan kelas, seorang tutor sedang menyampaikan materi. Hampir tidak ada satupun di antara mereka yang lengah dari penjelasan itu.

Demikian pemandangan yang lazim disaksikan selama dua pekan ini. Peserta itu adalah para mahasiswa yang tengah mengikuti program matrikulasi, yaitu sejenis program pra perkuliahan yang diperuntukan bagi para mahasiswa berlatar belakang santri yang mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan pemerintah daerah.

Doni Maradona (18), misalnya, mengaku sangat senang mengikuti program matrikulasi. Ia adalah santri yang mendapatkan beasiswa dari Depag, untuk melanjutkan kuliah di FKIK UIN Jakarta. ”Pendidikan ini merupakan anugerah tersendiri buat saya. Berbekal prestasi, saya bisa masuk Jurusan Farmasi,” ujar santri pesantren al-Hikmah, Lampung.

Mendapat kesempatan untuk kuliah di FKIK UIN Jakarta, dirasakan Doni sebagai nikmat yang tak terkira. Karena selain berasal dari daerah terpencil, ia juga memiliki latar belakang keluarga yang kurang mampu. Berkuliah di kedokteran UIN Jakarta bagaikan langkah menjemput impian menjadi seorang dokter yang profesional.

Program penawaran beasiswa ternyata memberikan harapan besar bagi para mahsiswa yang mendapatkannya. Jenjang pendidikan tinggi dan masa depan yang cerah merupakan mimpi bagi mereka yang mendapat kesempatan emas ini. Tidak salah bila kemudian para mahasiswa yang mengikuti matrikulasi melabuhkan harapan besarnya.

Harapan besar itu ditemukan dalam diri Mahmudah (18), mahasiswa asal Palembang. Mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) itu, berharap cita-citanya akan dengan mudah tercapai. ”Saya merasa sangat bersyukur karena beasiswa ini membuat saya yakin akan sebuah cita-cita,” paparnya dengan mata berbinar.

Kegiatan matrikulasi ini diikuti oleh 50 peserta, 40 di antaranya berasal dari seleksi beasiswa yang diadakan oleh Depag, dan sisanya dari Pemkab. Mereka yang mendapat beasiswa rata – rata yang berprestasi tiga besar di pondok Psantren dan Madrasah Aliyah (MA).

Disamping mendapat beasiswa tampaknya santri berbakat ini juga memiliki cita-cita yang luhur. Dengan berbekal kemampuan kodokteran mereka berencana akan mengabdi pada pondok pesantren asalnya.

”Kami berharap dapat berbakti pada pesantren, karena kami sadar tanpa ada beasiswa ini tidak mungkin Kami sampai di UIN Jakarta untuk melanjutkan studi yang cukup menguras biaya, jika hanya mengandalkan pendapatan orang tua, Kami tidak yakin bisa kuliah di FKIK ini, ” kata Doni seraya tersenyum bangga.*

Menjemput Impian Jadi Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Repoter: Jamilah dan Nina Rahayu

Siang itu, Senin (14/7) sejumlah peserta tampak serius mengikuti program matrikulasi yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan (FKIK). Di tangan kanannya tampak memegang bolpoint dan kertas, sementara di depan kelas, seorang tutor sedang menyampaikan materi. Hampir tidak ada satupun di antara mereka yang lengah dari penjelasan itu.

Demikian pemandangan yang lazim disaksikan selama dua pekan ini. Peserta itu adalah para mahasiswa yang tengah mengikuti program matrikulasi, yaitu sejenis program pra perkuliahan yang diperuntukan bagi para mahasiswa berlatar belakang santri yang mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan pemerintah daerah.

Doni Maradona (18), misalnya, mengaku sangat senang mengikuti program matrikulasi. Ia adalah santri yang mendapatkan beasiswa dari Depag, untuk melanjutkan kuliah di FKIK UIN Jakarta. ”Pendidikan ini merupakan anugerah tersendiri buat saya. Berbekal prestasi, saya bisa masuk Jurusan Farmasi,” ujar santri pesantren al-Hikmah, Lampung.

Mendapat kesempatan untuk kuliah di FKIK UIN Jakarta, dirasakan Doni sebagai nikmat yang tak terkira. Karena selain berasal dari daerah terpencil, ia juga memiliki latar belakang keluarga yang kurang mampu. Berkuliah di kedokteran UIN Jakarta bagaikan langkah menjemput impian menjadi seorang dokter yang profesional.

Program penawaran beasiswa ternyata memberikan harapan besar bagi para mahsiswa yang mendapatkannya. Jenjang pendidikan tinggi dan masa depan yang cerah merupakan mimpi bagi mereka yang mendapat kesempatan emas ini. Tidak salah bila kemudian para mahasiswa yang mengikuti matrikulasi melabuhkan harapan besarnya.

Harapan besar itu ditemukan dalam diri Mahmudah (18), mahasiswa asal Palembang. Mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) itu, berharap cita-citanya akan dengan mudah tercapai. ”Saya merasa sangat bersyukur karena beasiswa ini membuat saya yakin akan sebuah cita-cita,” paparnya dengan mata berbinar.

Kegiatan matrikulasi ini diikuti oleh 50 peserta, 40 di antaranya berasal dari seleksi beasiswa yang diadakan oleh Depag, dan sisanya dari Pemkab. Mereka yang mendapat beasiswa rata – rata yang berprestasi tiga besar di pondok Psantren dan Madrasah Aliyah (MA).

Disamping mendapat beasiswa tampaknya santri berbakat ini juga memiliki cita-cita yang luhur. Dengan berbekal kemampuan kodokteran mereka berencana akan mengabdi pada pondok pesantren asalnya.

”Kami berharap dapat berbakti pada pesantren, karena kami sadar tanpa ada beasiswa ini tidak mungkin Kami sampai di UIN Jakarta untuk melanjutkan studi yang cukup menguras biaya, jika hanya mengandalkan pendapatan orang tua, Kami tidak yakin bisa kuliah di FKIK ini, ” kata Doni seraya tersenyum bangga.*

Menjemput Impian Jadi Dokter

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Repoter: Jamilah dan Nina Rahayu

Siang itu, Senin (14/7) sejumlah peserta tampak serius mengikuti program matrikulasi yang diadakan Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan (FKIK). Di tangan kanannya tampak memegang bolpoint dan kertas, sementara di depan kelas, seorang tutor sedang menyampaikan materi. Hampir tidak ada satupun di antara mereka yang lengah dari penjelasan itu.

Demikian pemandangan yang lazim disaksikan selama dua pekan ini. Peserta itu adalah para mahasiswa yang tengah mengikuti program matrikulasi, yaitu sejenis program pra perkuliahan yang diperuntukan bagi para mahasiswa berlatar belakang santri yang mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan pemerintah daerah.

Doni Maradona (18), misalnya, mengaku sangat senang mengikuti program matrikulasi. Ia adalah santri yang mendapatkan beasiswa dari Depag, untuk melanjutkan kuliah di FKIK UIN Jakarta. ”Pendidikan ini merupakan anugerah tersendiri buat saya. Berbekal prestasi, saya bisa masuk Jurusan Farmasi,” ujar santri pesantren al-Hikmah, Lampung.

Mendapat kesempatan untuk kuliah di FKIK UIN Jakarta, dirasakan Doni sebagai nikmat yang tak terkira. Karena selain berasal dari daerah terpencil, ia juga memiliki latar belakang keluarga yang kurang mampu. Berkuliah di kedokteran UIN Jakarta bagaikan langkah menjemput impian menjadi seorang dokter yang profesional.

Program penawaran beasiswa ternyata memberikan harapan besar bagi para mahsiswa yang mendapatkannya. Jenjang pendidikan tinggi dan masa depan yang cerah merupakan mimpi bagi mereka yang mendapat kesempatan emas ini. Tidak salah bila kemudian para mahasiswa yang mengikuti matrikulasi melabuhkan harapan besarnya.

Harapan besar itu ditemukan dalam diri Mahmudah (18), mahasiswa asal Palembang. Mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) itu, berharap cita-citanya akan dengan mudah tercapai. ”Saya merasa sangat bersyukur karena beasiswa ini membuat saya yakin akan sebuah cita-cita,” paparnya dengan mata berbinar.

Kegiatan matrikulasi ini diikuti oleh 50 peserta, 40 di antaranya berasal dari seleksi beasiswa yang diadakan oleh Depag, dan sisanya dari Pemkab. Mereka yang mendapat beasiswa rata – rata yang berprestasi tiga besar di pondok Psantren dan Madrasah Aliyah (MA).

Disamping mendapat beasiswa tampaknya santri berbakat ini juga memiliki cita-cita yang luhur. Dengan berbekal kemampuan kodokteran mereka berencana akan mengabdi pada pondok pesantren asalnya.

”Kami berharap dapat berbakti pada pesantren, karena kami sadar tanpa ada beasiswa ini tidak mungkin Kami sampai di UIN Jakarta untuk melanjutkan studi yang cukup menguras biaya, jika hanya mengandalkan pendapatan orang tua, Kami tidak yakin bisa kuliah di FKIK ini, ” kata Doni seraya tersenyum bangga.*