Menimbang Kitab Suci

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Semua agama memiliki kitab suci sebagai dokumen dan rujukan doktrin serta ajarannya. Hanya saja tidak semua ajaran yang diwariskan oleh pendiri agama terdokumentasikan secara komplet, otentik, dan akurat dalam kitab suci sehingga banyak ajaran rasul Tuhan yang kemudian sulit ditelusuri oleh generasi di belakangnya.

Ini sangat bisa dipahami karena ketika awal mula agama disebarkan oleh pembawanya, tradisi baca-tulis belum kuat dalam masyarakat. Jadi,kalau sekarang muncul pertanyaan dan perdebatan ilmiah-historis tentang mata rantai dan otentisitas dokumentasi kitab suci sebuah agama, itu merupakan hal yang wajar dan logis saja.

Dalam kajian filsafat agama muncul pertanyaan, apakah yang dinamakan kitab suci itu redaksi dan kandungannya semuanya dari Tuhan ataukah spirit dan makna dari Tuhan lalu redaksinya disusun oleh manusia yang dipengaruhi oleh budaya setempat? Perdebatan itu tak kunjung selesai. Masingmasing memiliki argumen dan keyakinan iman.

Kalau sudah memasuki wilayah keyakinan, kepercayaan, dan iman, maka argumen rasional tidak menjamin bisa mengubah iman seseorang. Dari sekian kitab suci yang menjadi kajian ilmiah serius adalah asal-usul dan otentisitas kitab suci yang menghimpun ajaran Nabi Musa, Isa, dan Muhammad. Di universitas Barat diskusinya bisa sangat liberal karena iklim akademisnya memang memungkinkan.

Mereka sudah terbiasa berpikir kritis,sulit menerima dan memercayai doktrin agama tanpa penalaran. Sebagai kajian ilmiah, baik kitab suci Perjanjian Lama, Perjanjian Baru maupun Alquran yang merupakan Perjanjian Ketiga diposisikan sebagai objek yang diinterogasi secara kritis dan bebas. Tiap kitab suci mesti mampu membela dirinya sendiri dalam proses pengujian dan seleksi ilmiah- historis.

Salah satu pertanyaan fundamental adalah, benarkah ungkapan yang terkandung dalam kitab suci itu firman Allah? Secara historis tentu saja tidak mungkin bisa dibuktikan karena Allah yang Maha Gaib berada di luar sejarah, sementara kitab suci hadir, eksis, sebagai realitas bahasa dan budaya.

Kalaupun pertanyaan pertama tidak bisa dijawab, pertanyaan berikutnya adalah,benarkah kalimat-kalimat dalam kitab suci itu otentik keluar dari lisan para rasul Tuhan? Ataukah karangan,tafsiran, dan rekaan murid-muridnya saja? Demikianlah, masih banyak pertanyaan kritis yang dihadapkan pada kitab suci dalam sebuah kajian ilmiah.

Kitab suci sangat vital posisinya dalam agama karena kitab suci merupakan pintu gerbang dan sekaligus pemandu untuk memahami doktrin dan ajaran agama.Objek keimanan dalam agama hampir semuanya abstrak, tak dapat dilihat dan diraih oleh indra,kecuali kitab sucinya. Kita disuruh beriman kepada Tuhan, kepada malaikat, hari akhir,dan nabi yang semuanya itu tidak pernah kita lihat dan jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Satu-satunya yang bisa kita akses hanyalah peninggalan kitab suci. Jadi,karena sangat vitalnya peran kitab suci,maka logis kalau seorang pencari kebenaran sejati bertanya kritis tentang otentisitas,asal-usul,dan transmisi kitab suci yang sudah melewati lorong waktu berabad-abad.

Bagaimana perjalanan kitab suci yang melewati sekian ratus generasi dan mengunjungi bangsa serta pembaca yang berbeda bahasa, pendidikan, dan budaya bisa meyakinkan orang? Dalam konteks Islam, terdapat dua sumber utama yang berbentuk teks atau tulisan untuk mencari pesan-pesan Nabi Muhammad. Pertama, ucapan-ucapan Muhammad yang dikategorikan sebagai Alquran dan kedua himpunan ucapan dan laporan tindakannya yang masuk kategori hadis.

Sepengetahuan saya,hanya dalam Islam terdapat dua kategori kitab suci yang demikian besar perannya, yaitu Alquran yang diyakini firman Allah yang disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril dan himpunan hadis yang merupakan penjelasan kandungan Alquran serta berbagai catatan kesaksian kehidupan Rasul Muhammad yang menjadi model dan anutan umat Islam.

Kajian kritis terhadap sebuah kitab suci ada yang muncul karena dorongan iman, ada yang muncul dari sikap ilmiah, tetapi ada juga yang didasari rasa kebencian pada satu agama. Jika kitab suci sebuah agama terbukti banyak kelemahan dan kepalsuannya, maka kandungan jarannya juga pantas diragukan.

Semua agama sesungguhnya pantas berterima kasih pada kajian ilmiah-historis yang berusaha melakukan pembelaan dan klarifikasi seputar keberadaan kitab sucinya. Dalam kajian hadis, misalnya, ditemukan mata rantai periwayatan yang lemah dan palsu yang jumlahnya ribuan. Untungnya, dalam tradisi Islam baik hadis yang otentik maupun yang lemah kesemuanya terdokumentasikan dengan baik sehingga mudah diakses bagi para peneliti.

Adapun otentisitas Alquran memang terjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Benarkah Alquran yang ada ini otentik keluar dari lisan Muhammad? Namun diyakini bahwa argumen yang memandang valid lebih kuat ketimbang yang membantahnya. Lagi-lagi, di sini bantuan ilmu sejarah sangat besar. Bagi sebagian orang,apakah berbagai kitab suci agama yang ada sekarang ini otentik ataukah tidak dianggap tidak urgen dipersoalkan.

Yang penting bagaimana menjadi orang beriman dan berbudi mulia.Tapi bagi sebagian orang pemahaman dan keyakinan tentang otentisitas dan kebenaran kitab suci itu sangat penting. Bagi umat Islam, jika ada pihak-pihak yang mencoba menghina dan menghujat kemuliaan Alquran, umat Islam di berbagai penjuru dunia pasti akan bangkit melawan, terlepas mereka memiliki kedalaman ilmu ataukah tidak.

Umat Islam masih bisa menoleransi terhadap mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi jika Alquran dan Rasulullah Muhammad dihujat dan dihina, pasti mereka akan bangkit membela dan melawan. Eksistensi dan posisi kitab suci sangat besar perannya sebagai rujukan ajaran dan penjaga tradisi serta semangat beragama.

Muncul pertanyaan,betulkah pemahaman kita terhadap kitab suci hari ini sama dengan pemahaman generasi awal? Pasti ada yang sama, tetapi mungkin sekali ada bagian-bagian yang berbeda karena adanya jarak ruang dan waktu serta bahasa dan budaya yang jauh berbeda. Jadi kalau terdapat perbedaan penafsiran dan ekspresi beragama semua itu bisa dimaklumi.