Menghafal Al-Qur’an Datangkan Rizki Berlimpah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Auditorium Prof Dr Harun Nasution, BERITA UIN Online–Menghafal Al-Qur’an (Tahfidh Al-Qur’an) adalah dinikmatan hidup bagi orang beriman. Selain secara batin membuat hidup tenang, ia juga mendatangkan rizki yang berlimpah. “Rizki pasti datang sendiri. Itu sudah dijamin Allah SWT, “ujar Ustadz Yusuf Mansur pada acara Studium General Fakultas Dirasat Islamiyah  bertajuk “The Miracle of Tahfidh” di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (22/9).

Menurut Ustadz Yusuf, karena terdapat  jaminan dari-Nya itu maka umat Islam harus membiasakan menghafal Al-Qur’an. Dengan demikian tidak ada kerugian apapun bagi mereka yang menghafal Al-Qur’an. “Harus diusahakan satu hari satu ayat,” katanya.

Dikisahkannya, dari pengalaman pribadinya bersama dengan lembaga Program Pembibitan Penghafal Al-Quran(PPPA) Daarul Quran yang didirikannya itu, Yusuf mengaku mendapatkan berbagai keajaiban yang luar biasa.

“Kini banyak masjid dan pesantren yang meminta alumni PPP Darul Qur’an untuk menjadi pengajar dan imam masjid. Kita sekarang defisit para penghafal Al-Qur’an. Gaji mereka minimal Rp 2. 500.000,-. Untuk pegawai baru ini termasuk besar. Belum lagi mereka mendapat fasilitas rumah dan sebagainya,” papar ustdaz yang biasa dipanggil Yusman (singkatan dari Yusuf Mansur).

Yusman mengungkapkan, kini berbagai pihak telah mengajukan permohonanbantuan pembimbing tahfidh Al-Qur’an  kepada PPP Darul Qur’an, baik dari pesantren, masjid, maupun perusahaan-perusahaan yang peduli dengan pembentukan karakter bangsa. “Mereka minta kita pengajar tahfidh Al-Qur’an, tetapi kita kehabisan stok,” akunya.

Karena itu pula, ia mendorong kepada para mahaisiswa untuk semangat menghafal Al-Qur’an. Namun, ia mengingatkan usaha atau tindakan tersebut bukan untuk mengejar kepentingan dunia, tetapi betul-betul karena Allah SWT semata.

Pada kesempatan yang sama Rektor Prof Dr Komaruddin Hidayat menyatakan, Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang teruji keilmiahannya secara saintifik. Oleh karena itu, umat Islam tidak perlu risau dengan berbagai pihak yang menyerang atau mengabaikan Kitab Suci ini. “Kalau ada yang mau membakar Al-Qur’an kita tidak perlu menghadapinya secara emosional. Kita hadapi secara intelektual. Al-Qur’an itu akan terjaga terus karena dihafal jutaan umatnya,” tutur Rektor.

Lebih lanjut ia mengatakan, kajian Al-Qur’an di perguruan  tinggi harus mencakup berbagai bidang kajian. Alasannya, Al-Qur’an mengandung berbagai aspek kehidupan. “Dengan mengkaji dan mengimplementasikan Al-Qur’an secara utuh, artinya kita kembali dan mengembalikan kejayaan umat Islam,” imbuhnya. (Saifudin)