Menggapai Berkah Gus Dur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Para peziarah akhir pekan lalu berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya sang kiai yang juga dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur.

Menurut laporan langsung berbagai saluran TV nasional, tidak kurang dari sekitar 30.000-an peziarah memadati lokasi makam dan lingkungan Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Jumlah yang bisa dibilang masif dan kolosal untuk sebuah ‘ritual’ keagamaan peringatan 40 hari kematian seorang Muslim. Kita tidak pernah menyaksikan begitu banyak orang melakukan peringatan ’40 hari’.

Mereka yang hadir tidak hanya warga Nahdliyyin, tapi juga para pejabat lembaga-lembaga negara, bahkan kalangan non-Muslim. Sebelumnya, kita menyaksikan masyarakat Muslim dalam jumlah puluhan ribu ‘mengantar’ Gus Dur ke pemakamannya ketika ia wafat pada 30 Desember 2009. Pada hari-hari itu, amat banyak pelayat yang sangat antusias yang tidak hanya sekadar melayat dan membacakan tahlil buat almarhum, tetapi juga mengambil bunga-bunga dan tanah yang ada di pemakaman Gus Dur, yang mereka percayai mengandung berkah. Pihak keluarga, khususnya KH Salahuddin Wahid, yang juga menjadi pimpinan pengasuh Pesantren Tebu Ireng, melarang tindakan seperti itu dan menyatakannya sebagai perbuatan musyrik.

Bagaimana menjelaskan gejala sosiokeagamaan yang terkait erat dengan almarhum Gus Dur ini? Satu hal sudah pasti, bagi warga Nahdliyyin umumnya, KH Abdurrahman Wahid lebih daripada sekadar presiden RI keempat (1999-2001), lebih dari ketua PBNU yang membawa NU kembali ke ‘Khittah 1926′, atau lebih dari cucu salah satu pendiri utama NU, KH Hasyim Asy’ari dan putra menteri agama RI KH Wahid Hasyim.

Lebih daripada semua itu, Gus Dur bagi banyak warga Nahdliyyin adalah ‘wali’ sekaligus ‘orang suci’ sejak waktu yang sudah cukup lama ketika ia masih hidup. Banyak hal berkaitan dengan gaya hidup, pernyataan, dan tindakan Gus Dur sehari-hari yang bagi kalangan masyarakat tertentu sangat kontroversial, nyleneh , dan sulit dipahami; namun bagi banyak warga Nahdliyyin justru merupakan pertanda ‘kewalian’ Gus Dur. Bagi banyak warga Nahdliyyin, seorang wali sederhananya tidak bisa dipahami dengan logika lurus atau menggunakan pandangan dan indrawi kasat mata belaka.

Pandangan tentang ‘kewalian’ Gus Dur pastilah kian menguat setelah ia berpulang ke rahmatullah. Ini misalnya dapat terlihat dalam arus dan jumlah peziarah yang bakal terus meningkat dari waktu ke waktu khususnya pada momen-momen tertentu. Termasuk, menjelang Ramadhan nanti, masa yang dipandang banyak kalangan Muslim (tidak hanya warga Nahdliyyin) sebagai waktu paling baik untuk menggapai berkah sebelum menjalankan ibadah puasa. Tujuan mereka menziarahi makam Gus Dur, selain memberikan penghormatan, adalah untuk menggapai ‘berkah’ dari Gus Dur yang dalam pandangan mereka telah sempurna sebagai seorang wali.

Bagaimana menjelaskan semua gejala ini? Untuk memahami fenomena seputar Gus Dur setelah wafatnya, kita bisa meminjam teori Seyyed Hossein Nasr, ahli tasawuf asal Iran dan guru besar emeritus di Georgetown University, Washington DC. Dalam bukunya  The Garden of Truth Mereguk Sari Tasawuf (Mizan, Bandung, 2010), Nasr mengemukakan, “Ketika orang suci Sufi masih hidup, berkah atau rahmat orang suci tersebut terbatas kepada para sahabat dan pengikutnya. Tetapi, setelah wafat, berkah ini menjadi lebih umum dan anggota masyarakat Islam secara luas tertarik ke makam orang-orang suci ini melalui intuisi yang mendalam.”

Lebih jauh, Nasr berargumen, dengan mengesampingkan orang-orang yang dipengaruhi oleh modernisme atau puritanisme fundamentalis, mayoritas besar kaum Muslim yang masih mengikuti Islam tradisional mengunjungi makam-makam seperti itu dalam rombongan besar dan mengambil makanan rohani dari ziarah-ziarah semacam itu. Memang, ‘kepuasan rohani’ dari ziarah ke makam-makam para wali itulah yang menjadi tujuan para peziarah meski perjalanan ke makam-makam itu membutuhkan dana, waktu, dan ketangguhan jasmani.

Kalangan Muslim tertentu bisa jadi beranggapan bahwa bertahannya dalam fenomena Gus Dur ‘meningkatnya’–tradisi ziarah ke makam para wali dan orang suci lainnya lebih merupakan gejala di kalangan masyarakat awam. Sementara itu, mereka yang memiliki pemahaman lebih modern atau puritan tentang Islam cenderung tidak lagi melakukan ziarah, bahkan menganggapnya sebagai perilaku keagamaan yang tidak relevan lagi dengan dunia dan pemahaman keagamaan modern atau ‘Islam murni’.

Dalam kaitan itu, sekali lagi kita perlu mempertimbangkan argumen Nasr, yang membantah anggapan sebagian kalangan Muslim, bahwa ziarah ke makam-makam itu hanyalah refleksi kesalehan orang awam. Bahkan, dipandang sebagai tidak ada kaitannya dengan upaya menuju  the garden of truth taman kebenaran rohaniah. Menurut Nasr, klaim ini tidak benar karena banyak kaum Sufi serta orang terdidik dan maju yang mengunjungi makam dan mendapatkan inspirasi spiritual tertentu di sana.

Gejala keagamaan seperti terlihat dalam ziarah masif ke makam Gus Dur tidak bisa dijelaskan dalam konteks modernitas, tingkatan pendidikan, atau pemahaman keagamaan tertentu belaka. Yang pasti, gejala seperti itu merupakan bagian dari pencarian kalangan Muslim untuk peningkatan  maqam kerohanian.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 11 Februarii 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Menggapai Berkah Gus Dur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Para peziarah akhir pekan lalu berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya sang kiai yang juga dikenal dengan panggilan akrab Gus Dur.

Menurut laporan langsung berbagai saluran TV nasional, tidak kurang dari sekitar 30.000-an peziarah memadati lokasi makam dan lingkungan Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Jumlah yang bisa dibilang masif dan kolosal untuk sebuah ‘ritual’ keagamaan peringatan 40 hari kematian seorang Muslim. Kita tidak pernah menyaksikan begitu banyak orang melakukan peringatan ’40 hari’.

Mereka yang hadir tidak hanya warga Nahdliyyin, tapi juga para pejabat lembaga-lembaga negara, bahkan kalangan non-Muslim. Sebelumnya, kita menyaksikan masyarakat Muslim dalam jumlah puluhan ribu ‘mengantar’ Gus Dur ke pemakamannya ketika ia wafat pada 30 Desember 2009. Pada hari-hari itu, amat banyak pelayat yang sangat antusias yang tidak hanya sekadar melayat dan membacakan tahlil buat almarhum, tetapi juga mengambil bunga-bunga dan tanah yang ada di pemakaman Gus Dur, yang mereka percayai mengandung berkah. Pihak keluarga, khususnya KH Salahuddin Wahid, yang juga menjadi pimpinan pengasuh Pesantren Tebu Ireng, melarang tindakan seperti itu dan menyatakannya sebagai perbuatan musyrik.

Bagaimana menjelaskan gejala sosiokeagamaan yang terkait erat dengan almarhum Gus Dur ini? Satu hal sudah pasti, bagi warga Nahdliyyin umumnya, KH Abdurrahman Wahid lebih daripada sekadar presiden RI keempat (1999-2001), lebih dari ketua PBNU yang membawa NU kembali ke ‘Khittah 1926′, atau lebih dari cucu salah satu pendiri utama NU, KH Hasyim Asy’ari dan putra menteri agama RI KH Wahid Hasyim.

Lebih daripada semua itu, Gus Dur bagi banyak warga Nahdliyyin adalah ‘wali’ sekaligus ‘orang suci’ sejak waktu yang sudah cukup lama ketika ia masih hidup. Banyak hal berkaitan dengan gaya hidup, pernyataan, dan tindakan Gus Dur sehari-hari yang bagi kalangan masyarakat tertentu sangat kontroversial, nyleneh , dan sulit dipahami; namun bagi banyak warga Nahdliyyin justru merupakan pertanda ‘kewalian’ Gus Dur. Bagi banyak warga Nahdliyyin, seorang wali sederhananya tidak bisa dipahami dengan logika lurus atau menggunakan pandangan dan indrawi kasat mata belaka.

Pandangan tentang ‘kewalian’ Gus Dur pastilah kian menguat setelah ia berpulang ke rahmatullah. Ini misalnya dapat terlihat dalam arus dan jumlah peziarah yang bakal terus meningkat dari waktu ke waktu khususnya pada momen-momen tertentu. Termasuk, menjelang Ramadhan nanti, masa yang dipandang banyak kalangan Muslim (tidak hanya warga Nahdliyyin) sebagai waktu paling baik untuk menggapai berkah sebelum menjalankan ibadah puasa. Tujuan mereka menziarahi makam Gus Dur, selain memberikan penghormatan, adalah untuk menggapai ‘berkah’ dari Gus Dur yang dalam pandangan mereka telah sempurna sebagai seorang wali.

Bagaimana menjelaskan semua gejala ini? Untuk memahami fenomena seputar Gus Dur setelah wafatnya, kita bisa meminjam teori Seyyed Hossein Nasr, ahli tasawuf asal Iran dan guru besar emeritus di Georgetown University, Washington DC. Dalam bukunya  The Garden of Truth Mereguk Sari Tasawuf (Mizan, Bandung, 2010), Nasr mengemukakan, “Ketika orang suci Sufi masih hidup, berkah atau rahmat orang suci tersebut terbatas kepada para sahabat dan pengikutnya. Tetapi, setelah wafat, berkah ini menjadi lebih umum dan anggota masyarakat Islam secara luas tertarik ke makam orang-orang suci ini melalui intuisi yang mendalam.”

Lebih jauh, Nasr berargumen, dengan mengesampingkan orang-orang yang dipengaruhi oleh modernisme atau puritanisme fundamentalis, mayoritas besar kaum Muslim yang masih mengikuti Islam tradisional mengunjungi makam-makam seperti itu dalam rombongan besar dan mengambil makanan rohani dari ziarah-ziarah semacam itu. Memang, ‘kepuasan rohani’ dari ziarah ke makam-makam para wali itulah yang menjadi tujuan para peziarah meski perjalanan ke makam-makam itu membutuhkan dana, waktu, dan ketangguhan jasmani.

Kalangan Muslim tertentu bisa jadi beranggapan bahwa bertahannya dalam fenomena Gus Dur ‘meningkatnya’–tradisi ziarah ke makam para wali dan orang suci lainnya lebih merupakan gejala di kalangan masyarakat awam. Sementara itu, mereka yang memiliki pemahaman lebih modern atau puritan tentang Islam cenderung tidak lagi melakukan ziarah, bahkan menganggapnya sebagai perilaku keagamaan yang tidak relevan lagi dengan dunia dan pemahaman keagamaan modern atau ‘Islam murni’.

Dalam kaitan itu, sekali lagi kita perlu mempertimbangkan argumen Nasr, yang membantah anggapan sebagian kalangan Muslim, bahwa ziarah ke makam-makam itu hanyalah refleksi kesalehan orang awam. Bahkan, dipandang sebagai tidak ada kaitannya dengan upaya menuju  the garden of truth taman kebenaran rohaniah. Menurut Nasr, klaim ini tidak benar karena banyak kaum Sufi serta orang terdidik dan maju yang mengunjungi makam dan mendapatkan inspirasi spiritual tertentu di sana.

Gejala keagamaan seperti terlihat dalam ziarah masif ke makam Gus Dur tidak bisa dijelaskan dalam konteks modernitas, tingkatan pendidikan, atau pemahaman keagamaan tertentu belaka. Yang pasti, gejala seperti itu merupakan bagian dari pencarian kalangan Muslim untuk peningkatan  maqam kerohanian.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 11 Februarii 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta