Mengenang Perjuangan Ibrahim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Pada mulanya, aktor sentral dalam ibadah haji adalah Ibrahim, Ismail dan Hajar. Lewat tiga figur inilah  Allah ingin memberikan pelajaran dan pesan suci umat beragama, khususnya umat Islam, bagaimana meraih keislaman yang total, yaitu sikap penyerahan diri pada Allah meskipun pad awalnya dirasakan sangat berat dan menyakitkan. Demi menuruti kehandak Allah Ibrahim mesti tegar dan tega menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail. Drama hidup inilah yang kemudian diabadikan dalam serangkaian ibadah haji. Melalui ibadah haji seorang mukmin diperintah untuk membunuh berhala-hala egoisme yang terproyeksikan dalam bentuk kecintaan pada dunia agar tidak menghalangi kecintaan dan ketaatannya kepada Allah.

Pesan Allah yang begitu mulia dan sangat berat ini oleh Nabi Ibrahim diperankan dengan sangat dramatis dan berbenturan dengan logika manusia. Betapa tidak, dia akhirnya sampai pada tekad yang tak terhalangi untuk menyembelih putranya tercinta, meski syaitan telah berusaha mengmbujuknya, namun Ibrahim akhirnya memang. Ini semua dilakukan semata karena perintah Allah. Mengingat adegan ibadah haji hampir seluruhnya mengenang dan menapak tilas ajaran Ibrahim, maka sesungguhnya pesan haji ini juga berlaku bagi umat Yahudi dan Nasrani. Dalam konteks ini maka jelas bahwa yang paling setia untuk menjaga warisan Ibrahim bukannya umat Yahudi dan Nasrani, melainkan umat Islam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu hari Tuhan berdialog dengan Musa. “Hai Musa, engkau mengaku beriman dan cinta pada-Ku, tetapi engkau tidak peduli dan tidak mau menolong-Ku yang tengah kedinginan, lapar, sakit, dan kesepian,” Dalam suasana takut dan bingung, Musa pun menjawab, “Ya Tuhanku Yang Maha Agung, mana mungkin Engkau kedinginan, lapar, sakit, dan kesepian? Bukankah jagat raya seisinya ini milik-Mu dan Engkau tidak memerlukan semua ini?”

Maka, Tuhan menjawab, “Dengarkan baik-baik hai Musa. Jika engkau memberi pakaian, makanan, obat-obatan, dan menghibur hamba-Ku yang tengah dirundung duka dan derita, maka sama halnya engkau menolong-Ku karena Aku selalu berada bersama dan di tengah mereka yang selalu berdoa padaKU mengadukan penderitaannya”.

Riwayat di atas mudah dijumpai dalam himpunan hadis qudsi bahwa sesungguhnya kalau seseorang ingin dekat pada Allah, dekatilah para fakir miskin dan mereka yang tengah teraniaya. Semangat untuk mendekat (taqarrub) kepada Tuhan ini merupakan salah satu inti ajaran Nabi Ibrahim yang kemudian diteruskan oleh Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Melalui Nabi Ibrahim, Tuhan memberi pelajaran dan ujian pada kita semua, janganlah kecintaan pada anak, yang merupakan simbol dan objek kecintaan duniawi, mengalahkan cinta kita pada-Nya.

Setelah Ibrahim membuktikan kecintaan dan kepasrahannya pada Allah, Maka Allah pun mengganti obyek yang disembelih bukannya Ismail, melainkan diganti dengan domba, yang kemudian peristiwa penyembelihan ini diabadikan dengan nama Idul Adha, hari raya menyembelih wan kurban. Hari raya ini juga dikenal sebagai Idul Kurban yang arti harfiahnya adalah hari pendekatan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan. Caranya? Jika ingin dekat pada Allah, dekatilah dan sayangilah orang miskin. Bantulah mereka, ringankanlah beban hidup mereka.

Dengan memotong dan membagi hewan kurban, seorang mukmin berusaha mendekati Tuhan dan sekaligus juga menjalin kedekatan dengan orang-orang miskin. Jadi, kata kurban – seakar dengan kata karib – pada awalnya bermakna positif, tetapi dalam bahasa Indonesia berubah menjadi victim yang berkonotasi negatif.

Secara legal-prosedural menurut tuntunan fikih, seluruh rangkaian ibadah haji tentu saja dilakukan di Tanah Suci Mekah. Namun, spirit, pesan dan esensi haji sesungguhya berlangsungnya justru dalam kehidupan sehari-hari di tanah air. Adegan wuquf di padang Arafah, misalnya. Bukankah setiap hari kita mestinya meluangkan waktu untuk merenung, meditasi, dan melepaskan seluruh atribut duniawi agar memperoleh makrifah? Bukankah medan ngan sejati melempar jumroh dan konfontasi melawan syaitan berlangsung di ruang-ruang kantor ketika muncul peluang dan godaan untuk korupsi? Bukankah tawaf yang sejati adalah bagaimana memberi makna agar seluruh aktivitas dari bangun tidur sampai kembali tidur hanya tertuju untuk memperoleh rida Allah? Demikianlah, kita ikut berdoa dan berbahagia mendengar teman-teman dan famili bisa menunaikan ibadah haji, semoga mereka memperoleh haji mabrur. Namun kualitas dan buah haji itu akan dilihat justeru sepulang dari tanah suci nanti.

Terdapat sepenggal panggilan berhaji dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan “Hai manusia,” bukannya secara eksklusif menyeru “Hai umat Islam”. Hal ini sedikitnya menunjukkan bahwa mereka yang melaksanakan ibadah haji mesti masuk pada kesadaran insaniah, yaitu kemanusiaan universal. Mereka yang telah berhaji haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Lebih bersikap inklusif.

Mengingat Ibrahim diakui dan dimuliakan oleh ketiga pembawa agama besar dunia – Yahudi, Kristen, dan Islam – mestinya spirit dan ajaran yang terkandung dalam ibadah haji juga milik umat Yahudi dan Nasrani. Alangkah indahnya andaikan, sekali lagi andaikan, penganut tiga agama melakukan haji bersama untuk menghormati Nabi Ibrahim, Bapak ketiga agama, maka hubungan antar ketiganya akan menjadi rukun dan damai, bukannya permusuhan. Tetapi, sangat disayangkan, yang terjadi mereka saling menghujat dan bertikai di mana pusat pertikaian yang berdarah-darah itu mengambil tempat di kota para nabi, yaitu wilayah Palestina.

Melalui ritual haji seseorang diajak untuk lebih menghayati makna dan tujuan hidup yang lebih tinggi dan abadi. Kain ihram warna putih tak brjahit tak ubahnya kain kafan pembungkus mayat ketika nanti ketika ajal. Kita diajak merenung dan menyadari bahwa suatu saat kekayaan apa pun yang dimiliki, jabatan apa pun yang melekat, dan kepintaran yang dibanggakan akan sirna. Fisik kita akan membusuk dan mesti segera dikubur agar tidak menjadi sumber penyakit.

Berbagai sumber krisis dalam politik dan ekonomi di negeri ini adalah hilangnya semangat untuk berkurban, semangat untuk memberi dan menolong, lalu yang dominant adalah sikap rakus, tidak malu-malu berburu barang haram meskipun secara materi sudah kaya.  Ibadah haji secara sangat gamblang memgikatkan kita agar selalu berdamai dan santun dengan sesdama manusia dan alam serta menghilangklan egoisme, melebur pada gelombang kemanusiaan sebagaimana terpancarkan dalam pakaian ihram lalu tawaf mengelilingi Ka’bah. Keakuan lebur dalam kekitaan, pertengkaran lenyap dalam persaudaraan, semua sujud dan bertawaf bersama sujud dan tawafnya jagat raya.

Inklusivisme beragama sebagaimana yang terkandung dalam makna dan ritual ibadah haji tidak berarti mengurangi bobot keimanan seseorang, melainkan justru memasuki esensi ajaran agama yang mengajarkan prinsip tauhid dan kemanusiaan. Setiap tahun kita merayakan idul adha, mestinya semangat melaksanakan ritual berkembang menjadi aksi sosial.

 

Mengenang Perjuangan Ibrahim

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Pada mulanya, aktor sentral dalam ibadah haji adalah Ibrahim, Ismail dan Hajar. Lewat tiga figur inilah  Allah ingin memberikan pelajaran dan pesan suci umat beragama, khususnya umat Islam, bagaimana meraih keislaman yang total, yaitu sikap penyerahan diri pada Allah meskipun pad awalnya dirasakan sangat berat dan menyakitkan. Demi menuruti kehandak Allah Ibrahim mesti tegar dan tega menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail. Drama hidup inilah yang kemudian diabadikan dalam serangkaian ibadah haji. Melalui ibadah haji seorang mukmin diperintah untuk membunuh berhala-hala egoisme yang terproyeksikan dalam bentuk kecintaan pada dunia agar tidak menghalangi kecintaan dan ketaatannya kepada Allah.

Pesan Allah yang begitu mulia dan sangat berat ini oleh Nabi Ibrahim diperankan dengan sangat dramatis dan berbenturan dengan logika manusia. Betapa tidak, dia akhirnya sampai pada tekad yang tak terhalangi untuk menyembelih putranya tercinta, meski syaitan telah berusaha mengmbujuknya, namun Ibrahim akhirnya memang. Ini semua dilakukan semata karena perintah Allah. Mengingat adegan ibadah haji hampir seluruhnya mengenang dan menapak tilas ajaran Ibrahim, maka sesungguhnya pesan haji ini juga berlaku bagi umat Yahudi dan Nasrani. Dalam konteks ini maka jelas bahwa yang paling setia untuk menjaga warisan Ibrahim bukannya umat Yahudi dan Nasrani, melainkan umat Islam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, suatu hari Tuhan berdialog dengan Musa. “Hai Musa, engkau mengaku beriman dan cinta pada-Ku, tetapi engkau tidak peduli dan tidak mau menolong-Ku yang tengah kedinginan, lapar, sakit, dan kesepian,” Dalam suasana takut dan bingung, Musa pun menjawab, “Ya Tuhanku Yang Maha Agung, mana mungkin Engkau kedinginan, lapar, sakit, dan kesepian? Bukankah jagat raya seisinya ini milik-Mu dan Engkau tidak memerlukan semua ini?”

Maka, Tuhan menjawab, “Dengarkan baik-baik hai Musa. Jika engkau memberi pakaian, makanan, obat-obatan, dan menghibur hamba-Ku yang tengah dirundung duka dan derita, maka sama halnya engkau menolong-Ku karena Aku selalu berada bersama dan di tengah mereka yang selalu berdoa padaKU mengadukan penderitaannya”.

Riwayat di atas mudah dijumpai dalam himpunan hadis qudsi bahwa sesungguhnya kalau seseorang ingin dekat pada Allah, dekatilah para fakir miskin dan mereka yang tengah teraniaya. Semangat untuk mendekat (taqarrub) kepada Tuhan ini merupakan salah satu inti ajaran Nabi Ibrahim yang kemudian diteruskan oleh Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad. Melalui Nabi Ibrahim, Tuhan memberi pelajaran dan ujian pada kita semua, janganlah kecintaan pada anak, yang merupakan simbol dan objek kecintaan duniawi, mengalahkan cinta kita pada-Nya.

Setelah Ibrahim membuktikan kecintaan dan kepasrahannya pada Allah, Maka Allah pun mengganti obyek yang disembelih bukannya Ismail, melainkan diganti dengan domba, yang kemudian peristiwa penyembelihan ini diabadikan dengan nama Idul Adha, hari raya menyembelih wan kurban. Hari raya ini juga dikenal sebagai Idul Kurban yang arti harfiahnya adalah hari pendekatan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan. Caranya? Jika ingin dekat pada Allah, dekatilah dan sayangilah orang miskin. Bantulah mereka, ringankanlah beban hidup mereka.

Dengan memotong dan membagi hewan kurban, seorang mukmin berusaha mendekati Tuhan dan sekaligus juga menjalin kedekatan dengan orang-orang miskin. Jadi, kata kurban – seakar dengan kata karib – pada awalnya bermakna positif, tetapi dalam bahasa Indonesia berubah menjadi victim yang berkonotasi negatif.

Secara legal-prosedural menurut tuntunan fikih, seluruh rangkaian ibadah haji tentu saja dilakukan di Tanah Suci Mekah. Namun, spirit, pesan dan esensi haji sesungguhya berlangsungnya justru dalam kehidupan sehari-hari di tanah air. Adegan wuquf di padang Arafah, misalnya. Bukankah setiap hari kita mestinya meluangkan waktu untuk merenung, meditasi, dan melepaskan seluruh atribut duniawi agar memperoleh makrifah? Bukankah medan ngan sejati melempar jumroh dan konfontasi melawan syaitan berlangsung di ruang-ruang kantor ketika muncul peluang dan godaan untuk korupsi? Bukankah tawaf yang sejati adalah bagaimana memberi makna agar seluruh aktivitas dari bangun tidur sampai kembali tidur hanya tertuju untuk memperoleh rida Allah? Demikianlah, kita ikut berdoa dan berbahagia mendengar teman-teman dan famili bisa menunaikan ibadah haji, semoga mereka memperoleh haji mabrur. Namun kualitas dan buah haji itu akan dilihat justeru sepulang dari tanah suci nanti.

Terdapat sepenggal panggilan berhaji dalam Al-Qur’an yang dimulai dengan “Hai manusia,” bukannya secara eksklusif menyeru “Hai umat Islam”. Hal ini sedikitnya menunjukkan bahwa mereka yang melaksanakan ibadah haji mesti masuk pada kesadaran insaniah, yaitu kemanusiaan universal. Mereka yang telah berhaji haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Lebih bersikap inklusif.

Mengingat Ibrahim diakui dan dimuliakan oleh ketiga pembawa agama besar dunia – Yahudi, Kristen, dan Islam – mestinya spirit dan ajaran yang terkandung dalam ibadah haji juga milik umat Yahudi dan Nasrani. Alangkah indahnya andaikan, sekali lagi andaikan, penganut tiga agama melakukan haji bersama untuk menghormati Nabi Ibrahim, Bapak ketiga agama, maka hubungan antar ketiganya akan menjadi rukun dan damai, bukannya permusuhan. Tetapi, sangat disayangkan, yang terjadi mereka saling menghujat dan bertikai di mana pusat pertikaian yang berdarah-darah itu mengambil tempat di kota para nabi, yaitu wilayah Palestina.

Melalui ritual haji seseorang diajak untuk lebih menghayati makna dan tujuan hidup yang lebih tinggi dan abadi. Kain ihram warna putih tak brjahit tak ubahnya kain kafan pembungkus mayat ketika nanti ketika ajal. Kita diajak merenung dan menyadari bahwa suatu saat kekayaan apa pun yang dimiliki, jabatan apa pun yang melekat, dan kepintaran yang dibanggakan akan sirna. Fisik kita akan membusuk dan mesti segera dikubur agar tidak menjadi sumber penyakit.

Berbagai sumber krisis dalam politik dan ekonomi di negeri ini adalah hilangnya semangat untuk berkurban, semangat untuk memberi dan menolong, lalu yang dominant adalah sikap rakus, tidak malu-malu berburu barang haram meskipun secara materi sudah kaya.  Ibadah haji secara sangat gamblang memgikatkan kita agar selalu berdamai dan santun dengan sesdama manusia dan alam serta menghilangklan egoisme, melebur pada gelombang kemanusiaan sebagaimana terpancarkan dalam pakaian ihram lalu tawaf mengelilingi Ka’bah. Keakuan lebur dalam kekitaan, pertengkaran lenyap dalam persaudaraan, semua sujud dan bertawaf bersama sujud dan tawafnya jagat raya.

Inklusivisme beragama sebagaimana yang terkandung dalam makna dan ritual ibadah haji tidak berarti mengurangi bobot keimanan seseorang, melainkan justru memasuki esensi ajaran agama yang mengajarkan prinsip tauhid dan kemanusiaan. Setiap tahun kita merayakan idul adha, mestinya semangat melaksanakan ritual berkembang menjadi aksi sosial.