Mengelola Keuangan Harus dengan Bijak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Dwita Yuswandari

Aula Student Center, UINJKT Online – Menjadi kaya adalah penting, tetapi kaya dengan cara yang baik jauh lebih penting. Hal itu diungkapkan Iwan Januar, penulis buku Remaja Smart Financial dalam bedah buku yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) bekerja sama dengan penerbit Gema Insani Press (GIP) di Aula Student Center, Kamis (28/05).

“Islam tidak membatasi seseorang memiliki harta. Namun, yang dianjurkan dalam Islam adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya,”  ungkap Iwan.

Dalam buku ini, Iwan coba memaparkan mengenai konsep-konsep atau cara-cara pengelolaan keuangan, kepemilikan, dan rizki dalam Islam. Ia mencontohkan, saat ini banyak orang kaya yang tidak bermental menjadi kaya, karena mereka biasanya sulit memegang uang, berapa pun besarnya. Bahkan banyak orang kaya yang terlilit utang akibat penggunaan kartu kredit yang jor-joran alias tidak bijak.

“Setelah menjadi orang kaya, orang itu belum tentu bahagia jika tidak mampu mengelola keuangan dengan baik,” kilahnya.

Masih dalam buku itu, Iwan juga memaparkan tentang bagaimana mengelola keuangan dengan cara mengetahui sumber pendapatan dan pengeluarannya. Hal ini dimaksudkan agar seiap orang tidak terjebak dalam gelimangan utang. “Utang itu enak di awal tetapi bikin pusing di akhir,” tegasnya. Ia mengingatkan kepada para pemilik kartu kredit agar tidak terjebak dengan masalah keuangan karena tagihan yang, misalnya, over limit.  “Kalau perlu kartu kredit itu gunting saja biar tidak banyak orang terlilit utang,” sarannya.

Selain kartu kredit, masalah yang sering muncul dalam pengelolaan keuangan adalah kebiasaan seseorang berbelanja. Menurut dia, kebiasaan berbelanja kini bukan lagi menjadi sebuah kebutuhan, tetapi biasanya cuma gengsi semata, misalnya dengan memburu barang-barang branded.

Kebiasaan buruk seperti itu memang sulit diubah, tetapi tetap harus dimulai untuk mengeremnya. Salah satunya dengan menentukan skala prioritas berbelanja, yakni barang-barang apa saja yang dibutuhkan dan yang tidak. Akan lebih bagus lagi jika membeli barang itu memilih pada saat diskon.

Mengelola Keuangan Harus dengan Bijak

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Dwita Yuswandari

Aula Student Center, UINJKT Online – Menjadi kaya adalah penting, tetapi kaya dengan cara yang baik jauh lebih penting. Hal itu diungkapkan Iwan Januar, penulis buku Remaja Smart Financial dalam bedah buku yang diadakan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) bekerja sama dengan penerbit Gema Insani Press (GIP) di Aula Student Center, Kamis (28/05).

“Islam tidak membatasi seseorang memiliki harta. Namun, yang dianjurkan dalam Islam adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya,”  ungkap Iwan.

Dalam buku ini, Iwan coba memaparkan mengenai konsep-konsep atau cara-cara pengelolaan keuangan, kepemilikan, dan rizki dalam Islam. Ia mencontohkan, saat ini banyak orang kaya yang tidak bermental menjadi kaya, karena mereka biasanya sulit memegang uang, berapa pun besarnya. Bahkan banyak orang kaya yang terlilit utang akibat penggunaan kartu kredit yang jor-joran alias tidak bijak.

“Setelah menjadi orang kaya, orang itu belum tentu bahagia jika tidak mampu mengelola keuangan dengan baik,” kilahnya.

Masih dalam buku itu, Iwan juga memaparkan tentang bagaimana mengelola keuangan dengan cara mengetahui sumber pendapatan dan pengeluarannya. Hal ini dimaksudkan agar seiap orang tidak terjebak dalam gelimangan utang. “Utang itu enak di awal tetapi bikin pusing di akhir,” tegasnya. Ia mengingatkan kepada para pemilik kartu kredit agar tidak terjebak dengan masalah keuangan karena tagihan yang, misalnya, over limit.  “Kalau perlu kartu kredit itu gunting saja biar tidak banyak orang terlilit utang,” sarannya.

Selain kartu kredit, masalah yang sering muncul dalam pengelolaan keuangan adalah kebiasaan seseorang berbelanja. Menurut dia, kebiasaan berbelanja kini bukan lagi menjadi sebuah kebutuhan, tetapi biasanya cuma gengsi semata, misalnya dengan memburu barang-barang branded.

Kebiasaan buruk seperti itu memang sulit diubah, tetapi tetap harus dimulai untuk mengeremnya. Salah satunya dengan menentukan skala prioritas berbelanja, yakni barang-barang apa saja yang dibutuhkan dan yang tidak. Akan lebih bagus lagi jika membeli barang itu memilih pada saat diskon.