Mengapa Kita Beragama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Pada umumnya, kita mengenal dan memeluk agama karena pengaruh lingkungan keluarga dan tradisi yang mapan dalam masyarakat. Setelah melalui proses belajar dan dengan bertambahnya usia serta pergaulan, tentu saja seseorang memiliki alasan dan penjelasan lebih rasional mengapa memeluk agama, meskipun tidak semua keyakinan dan pengalaman beragama bisa dijelaskan secara logis-rasional.

Inti keberagamaan, setelah beriman pada Allah dan keabadian jiwa, adalah berdoa. Bagi umat Islam, inti salat adalah berdoa.Ada dua dorongan psikologis mengapa seseorang berdoa pada Tuhan. Pertama, adanya rasa takut melihat dirinya kecil, tak berarti, di tengah semesta yang maha besar tak terjangkau garis tepinya ini.

Yang tak terpahami kandungan dan perilakunya yang penuh misteri. Jadi, rasa takut merupakan salah satu dorongan manusia mengapa berdoa memohon pertolongan dan perlindungan. Oleh karena itu, banyak ditemukan teks doa yang mengiba-iba mohon ampun dan perlindungan kepada Tuhan.

Dorongan lain mengapa seseorang meyakini adanya Tuhan dan kemudian selalu melakukan ritual doa adalah adanya rasa kagum melihat kebesaran, keberlimpahan dan keindahan semesta ini.Semua kebutuhan manusia tersedia di jagat semesta.

Dunia bagaikan taman raksasa yang sangat indah tempat manusia terlahir dan tumbuh, yang semuanya tersedia bukan dari hasil ciptaan tangannya. Rasa kagum ini memunculkan penalaran logis dan sikap keberagamaan, bahwa semesta ini pasti ada penciptanya yang Mahaindah dan Mahaagung yang kepadanya manusia mesti bersyukur.

Karena adanya rasa kagum ini, dalam berdoa seseorang lalu memuji Tuhan.Puji-pujian terhadap Tuhan akan dijumpai di semua ajaran agama.Pujian dan permohonan merupakan inti dari ritual keagamaan. Pujian sebagai ungkapan terima kasih, sedangkan permohonan akan perlindungan Tuhan muncul dari rasa takut.

Ekspresi dari dua keyakinan dan perasaan ini lalu diwujudkan dalam bentuk festival keagamaan. Festival keagamaan mengandung beberapa ciri. Pertama, sifatnya masif-komunal, dilaksanakan secara beramairamai. Kedua, ada aturan atau norma yang dibakukan dan cenderung disakralkan tata cara atau prosedur upacaranya, termasuk dalam hal pakaiannya.

Ketiga, doa merupakan inti upacara, yang mengandung maksud untuk memuja dan membujuk Tuhan,agar Tuhan menjauhkan bencana. Pada tradisi agama tertentu ada yang diwujudkan dalam sesajen, dimaksudkan untuk membujuk dan mengiba pada Tuhan agar tidak marah.

Keempat, festival agama dilakukan tidak sembarang tempat dan waktu, melainkan pada tempat dan momen yang dianggap mulia dan suci. Dalam Islam,yang paling spektakuler adalah festival ibadah haji. Semua agama kalau diselami memiliki dua kutub fundamental.

Bermula dari keyakinan adanya Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik semesta,berujung pada keyakinan adanya keabadian jiwa setelah kematian nanti.Yang paling diharapkan oleh orang beragama adalah memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di akhirat nanti,sehingga setiap agama mengenal konsep surga-neraka dengan pengertiannya yang berbeda-beda.

Dari dua kutub keyakinan fundamental itu muncul doktrin dan ajaran lainnya, terutama doktrin ritual bagaimana tata cara menyembah Tuhan dan doktrin tentang amal saleh. Dengan demikian, semua dimensi agama yang paling menonjol ada empat,yaitu beriman pada Tuhan, pada nasib baik buruk setelah kematian,adanya ritual keagamaan, dan konsep amal kebajikan dalam hidup.

Untuk memahami siapa Tuhan dan apa kehendak-Nya, muncul dua macam agama; agama wahyu (revealed religion) dan agama yang tumbuh secara alami (natural religion). Apa yang disebut sebagai rumpun agama Ibrahimik sangat kuat berpegang pada ajaran wahyu yang disampaikan melalui Rasul-Nya.

Dalam hal ini sosok Musa,Isa,dan Muhammad,meneruskan ajaran para rasul sebelumnya, diyakini sebagai perantara Tuhan untuk manusia, datang menyampaikan pesan dan ajaran-Nya,yang kemudian terhimpun dalam kitab suci. Ada lagi keyakinan pada Tuhan dan ajaran moral semata berdasarkan hasil pencarian berdasarkan nalar dan hati nuraninya.

Para filsuf dan kaum humanis meyakini Tuhan tidak berdasarkan kitab suci, tetapi dengan melakukan refleksi dan kontemplasi. Hal serupa pernah juga dilakukan oleh Muhammad sebelum didatangi malaikat Jibril membawa wahyu Tuhan.Novel filsafat Hayy bin Yaqdhan karya Ibn Tufail memberikan ilustrasi bahwa dengan mengamati alam seseorang bisa sampai pada keyakinan adanya Tuhan.

Dalam masyarakat Barat modern ataupun tradisional ditemukan komunitas yang meyakini adanya Tuhan dan kehidupan akhirat, namun tidak mau terikat dengan institusi dan ajaran agama yang formal. Mereka berbuat baik semata mengikuti hati nuraninya.