Menengok Penderitaan Korban Lapindo dalam Dua Film

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Nuraini Lyna Wulandari

Student Center, UIN Online – Pemutaran film Aku Ingin Pulang dan Anak-anak Lumpur Sidoarjo cukup menarik perhatian mahasiswa UIN Jakarta. Hal ini terlihat dari antusiasme ratusan mahasiswa terhadap pemutaran film tersebut. Kegiatan hasil kerja sama KMF Kalacitra dan KMPLHK Ranita dengan South to South Film Festival dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) itu diselengarakan di Aula Student Center,  Kamis (24/6).

“Hari ini merupakan puncak kegiatan kami, setelah kemarin melakukan Long march mengelilingi Kampus I UIN Jakarta dengan aksi sosial. Di hari kedua ini kami juga tetap menggalang dana dengan pemutaran film bertajuk korban Lapindo. Dengan adanya event ini diharapkan mampu membuka mata hati kita untuk merasakan penderitaan mereka,” ujar ketua panitia acara, Pandu Jati.

Film tersebut menceritakan tentang kondisi korban lumpur Lapindo. Situasi di mana mereka mulai jenuh dengan keadaan tidak jelas. Pendidikan anak-anak korban terbengkalai, tidak punya tempat tinggal tetap dan perasaan sedih karena memikirkan sanak saudara dan orangtua mereka yang sudah meninggal. Kisah sedih dan haru biru itulah yang membuat film tersebut menarik disimak.

Film garapan sineas muda Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu, menggambarkan tidak adanya upaya dari pemerintah, bahkan dari pihak Lapindo untuk  mengembalikan apa yang seharusnya korban Lapindo dapatkan. Hal ini tentu saja memunculkan kekecewaan yang sangat besar dari korban Lapindo.

Penggarapan film dimaksudkan untuk memberikan pesan moral kepada pihak Lapindo agar hatinya terketuk dengan penderitaan para korban. Mereka berharap Lapindo bertanggung jawab karena telah menghancurkan rumah, pekerjaan serta jiwa masyarakat Sidoarjo khususnya warga Porong, Sidoarjo.

Secara keseluruhan, kedua film yang berdurasi sekitar 15 menit itu, lebih banyak mengangkat kisah sedih nasib anak-anak korban lumpur Lapindo.

Menengok Penderitaan Korban Lapindo dalam Dua Film

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Nuraini Lyna Wulandari

Student Center, UIN Online – Pemutaran film Aku Ingin Pulang dan Anak-anak Lumpur Sidoarjo cukup menarik perhatian mahasiswa UIN Jakarta. Hal ini terlihat dari antusiasme ratusan mahasiswa terhadap pemutaran film tersebut. Kegiatan hasil kerja sama KMF Kalacitra dan KMPLHK Ranita dengan South to South Film Festival dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) itu diselengarakan di Aula Student Center,  Kamis (24/6).

“Hari ini merupakan puncak kegiatan kami, setelah kemarin melakukan Long march mengelilingi Kampus I UIN Jakarta dengan aksi sosial. Di hari kedua ini kami juga tetap menggalang dana dengan pemutaran film bertajuk korban Lapindo. Dengan adanya event ini diharapkan mampu membuka mata hati kita untuk merasakan penderitaan mereka,” ujar ketua panitia acara, Pandu Jati.

Film tersebut menceritakan tentang kondisi korban lumpur Lapindo. Situasi di mana mereka mulai jenuh dengan keadaan tidak jelas. Pendidikan anak-anak korban terbengkalai, tidak punya tempat tinggal tetap dan perasaan sedih karena memikirkan sanak saudara dan orangtua mereka yang sudah meninggal. Kisah sedih dan haru biru itulah yang membuat film tersebut menarik disimak.

Film garapan sineas muda Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu, menggambarkan tidak adanya upaya dari pemerintah, bahkan dari pihak Lapindo untuk  mengembalikan apa yang seharusnya korban Lapindo dapatkan. Hal ini tentu saja memunculkan kekecewaan yang sangat besar dari korban Lapindo.

Penggarapan film dimaksudkan untuk memberikan pesan moral kepada pihak Lapindo agar hatinya terketuk dengan penderitaan para korban. Mereka berharap Lapindo bertanggung jawab karena telah menghancurkan rumah, pekerjaan serta jiwa masyarakat Sidoarjo khususnya warga Porong, Sidoarjo.

Secara keseluruhan, kedua film yang berdurasi sekitar 15 menit itu, lebih banyak mengangkat kisah sedih nasib anak-anak korban lumpur Lapindo.