Menemukan Kembali Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

APA arti seratus tahun Kebangkitan Nasional bagi bangsa kita saat ini? Ada keyakinan di tengah masyarakat bahwa perubahanperubahan besar akan terjadi setiap seratus tahun.

Jika itu benar, perubahan seperti apa yang akan terjadi atau diharapkan akan terjadi pada bangsa kita sebagai dampak (atau sugesti) dari seratus tahun kebangkitan nasional itu? Kebangkitan nasional muncul sebagai gerakan modern pada pergantian abad ke-19 dan ke-20.

Mun culnya Budi Utomo (1908), Sarekat Dagang Islam atau SDI (1911) yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam atau SI (1912), Muhammadiyah (1912), kemudian Nahdlatul Ulama (1926), diyakini sebagai gerakan-gerakan yang meletakkan fondasi kesadaran nasionalisme yang kelak menjadi faktor pendorong utama dalam perjuangan meraih kemerdekaan bangsa pada 1945.

Sebelumnya, gerakangerakan rakyat melawan kolonialisme berlangsung secara sporadis dan tidak terorganisasikan secara baik. Namun, setelah organisasiorganisasi tersebut lahir,gerakan rakyat semakin menemukan bentuknya yang jelas dan arahnya yang pasti tentang masa depan bangsa yang diinginkan.

Selain bersifat sporadis,keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka dan Munlepas dari cengkeraman kolonialisme pada mulanya juga lebih merupakan keinginan yang bersifat mistis dan dipahami sebagai utopia.Itu sebabnya ketika HOS Tjokroaminoto tampil dengan SDI dan SI,masyarakat Jawa meyakininya sebagai ratu adil yang akan membebaskan mereka dari penjajahan dan membawa keadilan yang abadi.

Namun kaum intelegensi ketika itu mengarahkan masyarakat pada gerakan yang bersifat konkret dan terarah. H Agus Salim yang memperoleh pendidikan modern membalik kecenderungan mesianistik masyarakat Jawa yang memandang sosok Tjokroaminoto sebagai ratu adil dengan menampilkan watak gerakan SI yang lebih modern dan rasional.

Ide persatuan bangsa berbasis Islam yang diusung H Agus Salim menjadi antitesis gerakan-gerakan kesukuan yang marak ketika itu seperti Jong Java, Jong Sunda, Jong Betawi, Jong Sumatera, dan lain-lain. Salim menginisiasi lahirnya Jong Islamitten Bond (JIB) yang melampaui s e n t i m e n – s e n t i m e n kesukuan. Sebab, kendati Islam sendiri bersifat “sektarian”, namun ideologi JIB adalah ideologi persatuan nasional atau kebangsaan,melebihi ideologi keislaman itu sendiri.

Salim melihat bahwa Islamlah ketika itu satusatunya ideologi yang bisa mempersatukan seluruh bangsa. Dari sini pula kemudian lahir ikrar persatuan pemuda Indonesia yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda pada 1928,yang mempersatukan segenap jong, dan menjadi katalisator bagi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945. Gerakan yang berawal dari kebangkitan nasional pada awal abad ke-20 itu sambung menyambung menjadi sebuah harapan yang kian membesar seperti bola salju.

Di hadapan mereka hanya ada satu tujuan bersama, yaitu lepas dari penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka serta berdaulat. Dalam tulisan ini kita sengaja tidak membatasi gejala kebangkitan nasional pada kelahiran Budi Utomo (1908) yang sebenarnya lebih memperlihatkan karakter Jawa dan untuk kepentingan elite Jawa.

Diletakkan dalam spektrum yang lebih luas,kebangkitan nasional sebenarnya merupakan akumulasi dari berbagai gerakan yang tumbuh dari kesadaran kaum intelegensi dan pergerakan untuk tujuan yang sama, yaitu mencapai kemerdekaan bangsa. Hampir seratus tahun setelah kebangkitan nasional pada awal abad ke-20, kita juga menyaksikan lahirnya kebangkitan nasional yang lain, yaitu gerakan reformasi pada 1998.

Gerakan reformasi Mei 1998 telah mengantarkan bangsa Indonesia pada “kemerdekaan” jilid kedua, yaitu lahirnya demokrasi dan kebebasan politik. Sebagaimana karakter gerakangerakan nasional di awal abad ke-20 lalu yang berujung pada kemerdekaan 1945,gerakan reformasi yang berujung pada lahirnya “kemerdekaan” jilid kedua pun merupakan akumulasi dari berbagai genderang kebangkitan nasional yang sudah ditabuh sejak 1980-an, yang melibatkan berbagai komponen bangsa.

Hal ini menunjukkan bahwa gejala kebangkitan bukan merupakan puncak, melainkan sebuah awal dari peristiwa besar. Gejala kebangkitan hanya menandai sebuah proses menuju suatu masa depan yang diimpikan. Maka pertanyaannya sekarang,: mimpi seperti apa yang kita harapkan akan terwujud di negeri kita dalam 20 atau 30 tahun yang akan datang?

Apa pula yang kita lakukan sekarang untuk mewujudkan mimpi itu? Seratus tahun lalu gerakan kebangkitan nasional bekerja dalam kesadaran yang sama, yaitu membuka akses masyarakat pada pendidikan dan budaya modern. Kaum intelegensi dan pergerakan ketika itu menyadari bahwa hanya dengan modal pendidikan dan budaya modernlah bangsa ini bisa dipersiapkan untuk menjadi bangsa yang mandiri dan merdeka.

Hasilnya terwujud pada 1928 (Sumpah Pemuda) dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Bung Karno dan Bung Hatta yang menjadi proklamator adalah produk terbaik dari proses pendidikan dan budaya modern yang menjadi spirit kebangkitan nasional awal abad ke-20 itu. Jadi, hal terpenting yang harus kita rumuskan dalam momentum memperingati kebangkitan nasional saat ini adalah apa yang menjadi mimpi kita untuk Indonesia mendatang dan apa faktor utama yang menjadi prakondisi bagi terwujudnya mimpi itu?

Kita pernah bermimpi menjadi bangsa besar dengan kemajuan di bidang teknologi tinggi (high tech). Industri pesawat terbang menjadi kebanggaan yang utama. Namun, impian itu kandas karena mimpi masyarakat kita tampaknya belum sampai ke langit biru.Mereka lebih mendambakan teknologi yang berbasis agraris,tempat kebanyakan rakyat mengandalkan hidupnya sebagai petani dan peternak.

Kemajuan industri berteknologi tinggi di negara-negara Barat tampaknya kurang cocok untuk masyarakat kita yang berbasis agraria. Orang sering menyebut Jepang sebagai contoh terbaik dari negara yang menjadi maju dan modern dengan tetap berakar pada budaya mereka sendiri.Kita pun sebenarnya bisa seperti Jepang. Menjadi maju dan modern tanpa kehilangan keindonesiaan kita.

Pada 1930-an, Sutan Takdir Alisjahbana menantang para pemikir dan kalangan pergerakan dengan tesisnya bahwa Indonesia hanya akan bisa maju dan modern dengan cara menjadi rasional sama sekali seperti Barat. Lawan-lawannya membantah Takdir dengan mengatakan bahwa kita tidak perlu meniru Barat untuk menjadi bangsa yang maju dan modern.

Peristiwa yang dikenal sebagai polemik kebudayaan itu sebenarnya terus berlangsung hingga sekarang ini. Sepanjang sejarah bangsa ini kita tetap berada di persimpangan antara menjadi Indonesia atau menjadi bangsa dengan budaya campuran. Rasanya sulit dibantah kenyataan bahwa keindonesiaan kita sebenarnya juga merupakan hibrida atau campuran dari berbagai unsur budaya asing, termasuk dan terutama budaya India,Cina, Arab,dan budaya-budaya Barat yang datang bersamaan kolonialisme Spanyol, Portugis, Belanda,dan Inggris.

Jati diri keindonesiaan kita tumbuh dari budaya hibrida. Para pemikir kita seperti Soekarno, Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, hingga Koentjaraningrat, dan lainlain telah memikirkan apa yang disebut Indonesia dan keindonesiaan. Sayangnya, saat ini kita seperti berhenti memikirkan hal yang mahapenting itu. Kita sering mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang belum selesai, namun kita lupa kapan akan menyelesaikannya.

Kesibukan kita berpolitik telah menguras energi sehingga kita tidak punya banyak waktu memikirkan halhal besar dalam kebudayaan. Politik tidak mengajari kita untuk mengerti jati diri kita sebagai bangsa, malah kian mengaburkan pengertian itu. Kita terpecah dan berjalan sendiri-sendiri, didorong kepentingan masing-masing, padahal kita bernaung di satu rumah Indonesia.

Maka hal terpenting yang harus kita lakukan saat ini adalah menemukan kembali Indonesia kita yang telah terpecah-pecah itu.Kegagalan gerakan rakyat di masa lalu karena sifatnya yang sporadis atau terpecah, mistis, dan kesukuan; lalu berhasil ditransformasikan menjadi gerakan kebangkitan nasional yang modern, rasional, dan bersatu. Muaranya pun jelas: tujuan bersama meraih kemerdekaan bangsa.

Belajar dari sejarah, momentum seratus tahun kebangkitannasionalsekaranginibisa juga kita jadikan sebagai spirit untuk merajut kembali kebersamaan dengan melupakan kepentingan kelompok ataugolongan.Kalaukitatidak melakukan itu sekarang, 20 atau 30 tahun ke depan kita tidak akan menyaksikan perubahan besar apa pun, kita juga akan tetap menjadi bangsa yang kerdil dan terkucil dalam pergaulan dunia.(*)

*Artikel ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, Jumat 16 Mei 2006

Menemukan Kembali Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

APA arti seratus tahun Kebangkitan Nasional bagi bangsa kita saat ini? Ada keyakinan di tengah masyarakat bahwa perubahanperubahan besar akan terjadi setiap seratus tahun.

Jika itu benar, perubahan seperti apa yang akan terjadi atau diharapkan akan terjadi pada bangsa kita sebagai dampak (atau sugesti) dari seratus tahun kebangkitan nasional itu? Kebangkitan nasional muncul sebagai gerakan modern pada pergantian abad ke-19 dan ke-20.

Mun culnya Budi Utomo (1908), Sarekat Dagang Islam atau SDI (1911) yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam atau SI (1912), Muhammadiyah (1912), kemudian Nahdlatul Ulama (1926), diyakini sebagai gerakan-gerakan yang meletakkan fondasi kesadaran nasionalisme yang kelak menjadi faktor pendorong utama dalam perjuangan meraih kemerdekaan bangsa pada 1945.

Sebelumnya, gerakangerakan rakyat melawan kolonialisme berlangsung secara sporadis dan tidak terorganisasikan secara baik. Namun, setelah organisasiorganisasi tersebut lahir,gerakan rakyat semakin menemukan bentuknya yang jelas dan arahnya yang pasti tentang masa depan bangsa yang diinginkan.

Selain bersifat sporadis,keinginan bangsa Indonesia untuk merdeka dan Munlepas dari cengkeraman kolonialisme pada mulanya juga lebih merupakan keinginan yang bersifat mistis dan dipahami sebagai utopia.Itu sebabnya ketika HOS Tjokroaminoto tampil dengan SDI dan SI,masyarakat Jawa meyakininya sebagai ratu adil yang akan membebaskan mereka dari penjajahan dan membawa keadilan yang abadi.

Namun kaum intelegensi ketika itu mengarahkan masyarakat pada gerakan yang bersifat konkret dan terarah. H Agus Salim yang memperoleh pendidikan modern membalik kecenderungan mesianistik masyarakat Jawa yang memandang sosok Tjokroaminoto sebagai ratu adil dengan menampilkan watak gerakan SI yang lebih modern dan rasional.

Ide persatuan bangsa berbasis Islam yang diusung H Agus Salim menjadi antitesis gerakan-gerakan kesukuan yang marak ketika itu seperti Jong Java, Jong Sunda, Jong Betawi, Jong Sumatera, dan lain-lain. Salim menginisiasi lahirnya Jong Islamitten Bond (JIB) yang melampaui s e n t i m e n – s e n t i m e n kesukuan. Sebab, kendati Islam sendiri bersifat “sektarian”, namun ideologi JIB adalah ideologi persatuan nasional atau kebangsaan,melebihi ideologi keislaman itu sendiri.

Salim melihat bahwa Islamlah ketika itu satusatunya ideologi yang bisa mempersatukan seluruh bangsa. Dari sini pula kemudian lahir ikrar persatuan pemuda Indonesia yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda pada 1928,yang mempersatukan segenap jong, dan menjadi katalisator bagi proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945. Gerakan yang berawal dari kebangkitan nasional pada awal abad ke-20 itu sambung menyambung menjadi sebuah harapan yang kian membesar seperti bola salju.

Di hadapan mereka hanya ada satu tujuan bersama, yaitu lepas dari penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka serta berdaulat. Dalam tulisan ini kita sengaja tidak membatasi gejala kebangkitan nasional pada kelahiran Budi Utomo (1908) yang sebenarnya lebih memperlihatkan karakter Jawa dan untuk kepentingan elite Jawa.

Diletakkan dalam spektrum yang lebih luas,kebangkitan nasional sebenarnya merupakan akumulasi dari berbagai gerakan yang tumbuh dari kesadaran kaum intelegensi dan pergerakan untuk tujuan yang sama, yaitu mencapai kemerdekaan bangsa. Hampir seratus tahun setelah kebangkitan nasional pada awal abad ke-20, kita juga menyaksikan lahirnya kebangkitan nasional yang lain, yaitu gerakan reformasi pada 1998.

Gerakan reformasi Mei 1998 telah mengantarkan bangsa Indonesia pada “kemerdekaan” jilid kedua, yaitu lahirnya demokrasi dan kebebasan politik. Sebagaimana karakter gerakangerakan nasional di awal abad ke-20 lalu yang berujung pada kemerdekaan 1945,gerakan reformasi yang berujung pada lahirnya “kemerdekaan” jilid kedua pun merupakan akumulasi dari berbagai genderang kebangkitan nasional yang sudah ditabuh sejak 1980-an, yang melibatkan berbagai komponen bangsa.

Hal ini menunjukkan bahwa gejala kebangkitan bukan merupakan puncak, melainkan sebuah awal dari peristiwa besar. Gejala kebangkitan hanya menandai sebuah proses menuju suatu masa depan yang diimpikan. Maka pertanyaannya sekarang,: mimpi seperti apa yang kita harapkan akan terwujud di negeri kita dalam 20 atau 30 tahun yang akan datang?

Apa pula yang kita lakukan sekarang untuk mewujudkan mimpi itu? Seratus tahun lalu gerakan kebangkitan nasional bekerja dalam kesadaran yang sama, yaitu membuka akses masyarakat pada pendidikan dan budaya modern. Kaum intelegensi dan pergerakan ketika itu menyadari bahwa hanya dengan modal pendidikan dan budaya modernlah bangsa ini bisa dipersiapkan untuk menjadi bangsa yang mandiri dan merdeka.

Hasilnya terwujud pada 1928 (Sumpah Pemuda) dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Bung Karno dan Bung Hatta yang menjadi proklamator adalah produk terbaik dari proses pendidikan dan budaya modern yang menjadi spirit kebangkitan nasional awal abad ke-20 itu. Jadi, hal terpenting yang harus kita rumuskan dalam momentum memperingati kebangkitan nasional saat ini adalah apa yang menjadi mimpi kita untuk Indonesia mendatang dan apa faktor utama yang menjadi prakondisi bagi terwujudnya mimpi itu?

Kita pernah bermimpi menjadi bangsa besar dengan kemajuan di bidang teknologi tinggi (high tech). Industri pesawat terbang menjadi kebanggaan yang utama. Namun, impian itu kandas karena mimpi masyarakat kita tampaknya belum sampai ke langit biru.Mereka lebih mendambakan teknologi yang berbasis agraris,tempat kebanyakan rakyat mengandalkan hidupnya sebagai petani dan peternak.

Kemajuan industri berteknologi tinggi di negara-negara Barat tampaknya kurang cocok untuk masyarakat kita yang berbasis agraria. Orang sering menyebut Jepang sebagai contoh terbaik dari negara yang menjadi maju dan modern dengan tetap berakar pada budaya mereka sendiri.Kita pun sebenarnya bisa seperti Jepang. Menjadi maju dan modern tanpa kehilangan keindonesiaan kita.

Pada 1930-an, Sutan Takdir Alisjahbana menantang para pemikir dan kalangan pergerakan dengan tesisnya bahwa Indonesia hanya akan bisa maju dan modern dengan cara menjadi rasional sama sekali seperti Barat. Lawan-lawannya membantah Takdir dengan mengatakan bahwa kita tidak perlu meniru Barat untuk menjadi bangsa yang maju dan modern.

Peristiwa yang dikenal sebagai polemik kebudayaan itu sebenarnya terus berlangsung hingga sekarang ini. Sepanjang sejarah bangsa ini kita tetap berada di persimpangan antara menjadi Indonesia atau menjadi bangsa dengan budaya campuran. Rasanya sulit dibantah kenyataan bahwa keindonesiaan kita sebenarnya juga merupakan hibrida atau campuran dari berbagai unsur budaya asing, termasuk dan terutama budaya India,Cina, Arab,dan budaya-budaya Barat yang datang bersamaan kolonialisme Spanyol, Portugis, Belanda,dan Inggris.

Jati diri keindonesiaan kita tumbuh dari budaya hibrida. Para pemikir kita seperti Soekarno, Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, hingga Koentjaraningrat, dan lainlain telah memikirkan apa yang disebut Indonesia dan keindonesiaan. Sayangnya, saat ini kita seperti berhenti memikirkan hal yang mahapenting itu. Kita sering mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang belum selesai, namun kita lupa kapan akan menyelesaikannya.

Kesibukan kita berpolitik telah menguras energi sehingga kita tidak punya banyak waktu memikirkan halhal besar dalam kebudayaan. Politik tidak mengajari kita untuk mengerti jati diri kita sebagai bangsa, malah kian mengaburkan pengertian itu. Kita terpecah dan berjalan sendiri-sendiri, didorong kepentingan masing-masing, padahal kita bernaung di satu rumah Indonesia.

Maka hal terpenting yang harus kita lakukan saat ini adalah menemukan kembali Indonesia kita yang telah terpecah-pecah itu.Kegagalan gerakan rakyat di masa lalu karena sifatnya yang sporadis atau terpecah, mistis, dan kesukuan; lalu berhasil ditransformasikan menjadi gerakan kebangkitan nasional yang modern, rasional, dan bersatu. Muaranya pun jelas: tujuan bersama meraih kemerdekaan bangsa.

Belajar dari sejarah, momentum seratus tahun kebangkitannasionalsekaranginibisa juga kita jadikan sebagai spirit untuk merajut kembali kebersamaan dengan melupakan kepentingan kelompok ataugolongan.Kalaukitatidak melakukan itu sekarang, 20 atau 30 tahun ke depan kita tidak akan menyaksikan perubahan besar apa pun, kita juga akan tetap menjadi bangsa yang kerdil dan terkucil dalam pergaulan dunia.(*)

*Artikel ini pernah dimuat di Koran Seputar Indonesia, Jumat 16 Mei 2006