Auditorium Harun Nasution, Berita UIN Online— Mahasiswa dan sarjana UIN Jakarta diminta tidak malu untuk kembali dan membangun desa asal masing-masing selepas kuliah. Desa membutuhkan sentuhan pembangunan yang dimotori sumber daya manusia yang kompeten guna mencapai tingkat kesejahteraan yang ideal.

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT)Marwan Djafar saat menjadi narasumber Seminar nasional dengan tema Pembangunan Berbasis Desa: Prospek Dan Tantangan, Rabu (21/10). Seminar diselenggarakan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) FIDIKOM UIN Jakarta.

Perdesaan, ungkap Marwan, merupakan lokasi dimana hampir sebagian besar penduduk Indonesia tinggal. Aktifitas ekonomi yang berbasis di sektor pertanian dan perkebunan, termasuk kehidupan sosial yang guyub menjadi dasar pentingnya para mahasiswa dan sarjana yang memiliki kompetensi untuk kembali ke desa dan membangun tanah kelahiran masing-masing. “Kami mengajak mahasiswa UIN Jakarta untuk sama-sama membangun desa,” imbaunya.

Pemerintah sendiri, lanjutnya, berkomitmen untuk membangun desa demi mewujudkan masa depan dan cita-cita Indoensia melalui gerakan desa mandiri seperti tertuang dalam Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Dana Desa, dan Pendamping Desa. Salah satu tujuannya adalah mewujudkan kedaulatan pangan.

“Hingga saat ini kementrian desa sudah bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di daerah perbatasan yang tertinggal untuk modernisasi daerah perbatasan. Kami juga mengajak kerjasama dengan UIN Jakarta untuk sama-sama membangun desa,” paparnya.

Terkait itu, Marwan secara khusus mengusulkan Prodi Penyuluhan Masyarakat UIN Jakarta memberikan mata kuliah terkait perdesaan. Mata kuliah demikian diharap memberikan wawasan dan kesadaran bagi mahasiswa dan sarjana untuk membangun desa.

Senada dengan Marwan, Dekan FIDIKOM Dr Arief Subhan MA, mahasiswa FIDIKOM memiliki kesempatan dan tanggungjawab cukup besar dalam membangun kawasan perdesaan sebagai sentra pembangunan di Indonesia. Ini karena fakultas memiliki dua prodi, yakni Pengembangan Masyarakat Islam dan Prodi Kesejahteraan Sosial. “Keduanya fokus dalam pemberdayaan masyarakat,” tuturnya. (SM)

Share This