Menag: PTAI Masih Cenderung “Jalan di Tempat”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Syahida Inn, UIN Online – Menteri Agama Suryadharma Ali menilai perkembangan perguruan tinggi agama Islam atau PTAI saat ini masih cenderung “jalan di tempat”. Hal itu terjadi karena kurangnya daya inovasi dan pengembangan jaringan kerja sama PTAI dengan lembaga lain.

Menag mengatakan hal itu dalam sambutan pembukaan seminar nasional “Renaisans Pendidikan Tinggi Islam” yang dibacakan Sekjen Kemenag Dr Bahrul Hayat di Syahida Inn kampus dua UIN Jakarta, Rabu (19/5). Seminar yang dihadiri sejumlah Rektor UIN/IAIN dan Ketua STAIN se-Indonesia ini diselenggarakan untuk menyambut sewindu UIN Jakarta serta Milad ke-53 ADIA/IAIN/UIN Jakarta.

Pembicara dalam seminar di antaranya menghadirkan Deputi Kementerian Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Dra Nina Sardjunani MA, Wakil Kementerian Pendidikan Nasional Prof Dr Fasli Jalal, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor UIN Malang Prof Dr Imam Suprayogo, dan Dekan FISIP UIN Jakarta Prof Dr Bakhtiar Effendy.

Menurut Menag, di antara PTAI yang jalan di tempat itu, hanya beberapa saja yang terlihat menonjol. Kondisi ini tentu bukanlah kondisi yang sehat, sehingga dibutuhkan koordinasi dan kerja sama antarlembaga, baik di tingkat jurusan, fakultas maupun universitas.

“Di bidang riset misalnya, pemanfataan jaringan kerja sama tentu akan mendongkrak produktivitas, terutama dalam hal penulisan karya ilmiah dalam bentuk jurnal dan produk penelitian lain,” ujarnya.

Menag menegaskan, kuantitas jurnal dan hasil penelitian yang menjamur di PTAI saat ini juga terlihat kurang dibarengi dengan kualitas memadai. Tema yang dimunculkan lebih banyak dalam kajian yang bersifat normatif-repetitif.  “Ini dibutuhkan tim pengelola yang berkualifikasi dan memahami standar penulisan karya ilmiah internasional,” katanya.

Untuk menciptakan keunggulan kompetitif dan komparatif, Menag menyarankan agar ada inovasi dari PTAI. Sebab, tanpa ada inovasi yang signifikan, PTAI hanya akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak mandiri dan selalu bergantung pada pihak lain. Dalam perspektif global, hasil pendidikan yang demikian, justru akan menjadi beban bagi bangsa dan Negara.

“Karena itu PTAI harus menggunakan segala kekuatan bagi pencapaian dan penigkatan kualitas lulusannya secara berkelanjutan,” tandas Menag.

Selain itu, menurut Menag, beberapa hal juga patut diperhatikan PTAI, misalnya dengan menekankan proses pembelajaran yang inovatif, peningkatan kualitas dan relevansi program studi secara terus-menerus, serta mengupayakan benchmarking, networking atau berbagai usaha lain, sehingga dapat memanfaatkan lesson learn dan best practisces dari perguruan tinggi atau institusi lain.

“Yang tak kalah penting adalah peningkatan jaringan dan produktivitas kerja sama dengan lembaga lain, baik swasta maupun pemerintah dalam skala lokal, regional, dan bahkan internasional,” ujarnya. (ns)

 

 

 

Menag: PTAI Masih Cenderung “Jalan di Tempat”

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Syahida Inn, UIN Online – Menteri Agama Suryadharma Ali menilai perkembangan perguruan tinggi agama Islam atau PTAI saat ini masih cenderung “jalan di tempat”. Hal itu terjadi karena kurangnya daya inovasi dan pengembangan jaringan kerja sama PTAI dengan lembaga lain.

Menag mengatakan hal itu dalam sambutan pembukaan seminar nasional “Renaisans Pendidikan Tinggi Islam” yang dibacakan Sekjen Kemenag Dr Bahrul Hayat di Syahida Inn kampus dua UIN Jakarta, Rabu (19/5). Seminar yang dihadiri sejumlah Rektor UIN/IAIN dan Ketua STAIN se-Indonesia ini diselenggarakan untuk menyambut sewindu UIN Jakarta serta Milad ke-53 ADIA/IAIN/UIN Jakarta.

Pembicara dalam seminar di antaranya menghadirkan Deputi Kementerian Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Dra Nina Sardjunani MA, Wakil Kementerian Pendidikan Nasional Prof Dr Fasli Jalal, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, Rektor UIN Malang Prof Dr Imam Suprayogo, dan Dekan FISIP UIN Jakarta Prof Dr Bakhtiar Effendy.

Menurut Menag, di antara PTAI yang jalan di tempat itu, hanya beberapa saja yang terlihat menonjol. Kondisi ini tentu bukanlah kondisi yang sehat, sehingga dibutuhkan koordinasi dan kerja sama antarlembaga, baik di tingkat jurusan, fakultas maupun universitas.

“Di bidang riset misalnya, pemanfataan jaringan kerja sama tentu akan mendongkrak produktivitas, terutama dalam hal penulisan karya ilmiah dalam bentuk jurnal dan produk penelitian lain,” ujarnya.

Menag menegaskan, kuantitas jurnal dan hasil penelitian yang menjamur di PTAI saat ini juga terlihat kurang dibarengi dengan kualitas memadai. Tema yang dimunculkan lebih banyak dalam kajian yang bersifat normatif-repetitif.  “Ini dibutuhkan tim pengelola yang berkualifikasi dan memahami standar penulisan karya ilmiah internasional,” katanya.

Untuk menciptakan keunggulan kompetitif dan komparatif, Menag menyarankan agar ada inovasi dari PTAI. Sebab, tanpa ada inovasi yang signifikan, PTAI hanya akan mampu menghasilkan lulusan yang tidak mandiri dan selalu bergantung pada pihak lain. Dalam perspektif global, hasil pendidikan yang demikian, justru akan menjadi beban bagi bangsa dan Negara.

“Karena itu PTAI harus menggunakan segala kekuatan bagi pencapaian dan penigkatan kualitas lulusannya secara berkelanjutan,” tandas Menag.

Selain itu, menurut Menag, beberapa hal juga patut diperhatikan PTAI, misalnya dengan menekankan proses pembelajaran yang inovatif, peningkatan kualitas dan relevansi program studi secara terus-menerus, serta mengupayakan benchmarking, networking atau berbagai usaha lain, sehingga dapat memanfaatkan lesson learn dan best practisces dari perguruan tinggi atau institusi lain.

“Yang tak kalah penting adalah peningkatan jaringan dan produktivitas kerja sama dengan lembaga lain, baik swasta maupun pemerintah dalam skala lokal, regional, dan bahkan internasional,” ujarnya. (ns)