Menag: Halal bi Halal Tumbuhkan Toleransi dan Penghormatan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gd. Auditorium Utama, BERITA UIN Online—Tradisi halal bi halal menjadi warisan berhargayang makin relevan dalam menumbuhkan ummat-bangsa yang toleran dan penuh penghormatan. Warisan demikian perlu terus diinternalisasikan dalam aspek kehidupan ummat-bangsa yang semakin kompleks.

Demikian disampaikan Menteri Agama RI Drs H Lukman Hakim Saifudin dalam Halal bi Halal Syawal 1436 Hijriyah Sivitas Akademik UIN Jakarta, Senin (27/07/2015). Selain sivitas akademik UIN Jakarta, kegiatan bertema “Pererat Silaturahmi, Tingkatkan Kinerja, Perkuat Integritas untuk UIN yang Lebih Baik” ini turut dihadiri sejumlah duta Besar, konsulat, dan perwakilan sejumlah negara.

“Halal bi halal ini warisan yang sangat baik dari para pendahulu kita, orang tua dan guru. Ia merupakan tradisi yang sulit dijumpai di belahan negeri mana pun,” paparnya.

Salah satu kandungan tradisi halal bi halal, sebut putera almarhum Prof KH Saifuddin Zuhri (Menag RI 6 Maret 1962 – 17 Oktober 1967), adalah al-‘afwu. Tidak kurang dari 34 kali istilah ini disebutkan Al-Qur’an yang hampir seluruhnya bernada perintah untuk memberikan maaf.

“Ini bentuk kemuliaan sikap yang luar biasa. Bahwa derajat memberi maaf jauh lebih mulia dibanding meminta maaf,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor berharap seluruh sivitas memaknai halal bi halal sebagai momentum peningkatan kinerja. Menurutnya, terdapat lima prinsip budaya kerja yang harus ditumbuhkan, yakni integritas, profesionalitas, inovasi, akuntabilitas, dan keteladanan.

“Peningkatan kinerja yang lebih baik merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban atas kepercayaan yang diberikan publik kepada kita sebagai dosen, pegawai, dan fungsi lain seluruh sivitas akademik ini,” paparnya. (Sri Rahmawati)