Memimpin Itu Berkorban

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

TIDAK semua pemimpin itu penguasa. Tidak juga semua penguasa itu pemimpin. Lebih bagus lagi kalau seorang pemimpin adalah juga seorang penguasa. Dalam birokrasi negara modern, seorang penguasa itu memiliki kekuasaan dan wewenang memerintah berdasarkan legalitas formal yang dibuktikan dengan dokumen resmi.

Legalitas kemudian melahirkan otoritas dan kewenangan untuk memerintah, mengatur, bahkan kalau perlu memaksa. Oleh karena itu, sehebathebat seorang presiden, jaksa agung atau gubernur, kalau masa jabatannya sudah berakhir,kekuasaan formalnya juga ikut berakhir. Dalam teori kepemimpinan dibedakan antara pemimpin posisional- kontraktual karena jabatan formal dan pemimpin informal, yaitu mereka yang disegani masyarakat karena pribadinya dan pengabdiannya kepada masyarakat, bukan karena tugasnya sebagai pejabat pemerintah.

Yang ideal adalah kalau dua kategori itu bertemu dalam satu pribadi, maka pengaruhnya akan semakin besar dan efektif. Jika kita amati, terdapat beragam pemimpin berkaitan dengan profesi dan konteks sosialnya. Ada pemimpin yang menonjol pada gagasannya sehingga bisa disebut sebagai pemimpin dalam domain pemikiran. Ada lagi pemimpin gerakan atau aksi sosial. Mereka terampil memimpin sebuah gerakan masyarakat untuk mewujudkan sebuah gagasan. Tapi ini pun masih bisa dibedakan lagi menjadi dua.Ada gerakan jangka pendek dan gerakan jangka panjang.

Belum lagi cakupannya, ada yang berskala nasional dan ada yang berskala lokal. Di Indonesia kepemimpinan yang menonjol selalu dikaitkan dengan pemimpin pemerintahan, perusahaan, partai politik (parpol), ormas, dan keagamaan. Semua ini kalau disederhanakan menjadi tiga kelompok besar kepemimpinan, yaitu bidang politik, ekonomi, dan keagamaan. Ketiganya begitu populer dan menonjol serta saling berkait sepanjang sejarah Indonesia.

Pada masa prakemerdekaan dan awal kemerdekaan, pemimpin di bidang politik dan keagamaan begitu terasa semangat juangnya, bahwa memimpin itu merupakan panggilan mulia dan seseorang mesti siap untuk berkorban demi sebuah cita-cita masyarakat yang dipimpinnya.Waktu itu yang menonjol adalah tipologi pemimpin ide dan pemimpin gerakan. Tapi dengan berkembangnya zaman, ketika birokrasi negara sudah semakin mapan, pertumbuhan ekonomi semakin maju,maka tipologi kepemimpinan yang menonjol dan yang diperlukan lalu bergeser.

Bangsa ini memerlukan kepemimpinan politik-pemerintahan yang efektif dan tokoh-tokoh entrepreneur yang terampil menciptakan lapangan kerja bagi rakyat. Belajar dari negara-negara lain yang dianggap telah maju, masyarakat akan merasa nyaman ketika pemerintahannya stabil dan ekonomi maju.Dari situ lalu bergerak lebih lanjut pada pengembangan kebudayaan dan peradaban dengan pilar lembaga pendidikan, lembaga riset, dan pusat-pusat kesenian.

Tapi rupanya bangsa ini mesti bekerja keras untuk membangun pemerintahan yang efektif dan ekonomi yang mapan. Dengan kata lain, kepemimpinan bidang politik-pemerintahan dan ekonomi dalam ujian. Kalau gagal ongkos sosial-politiknya amat mahal. Ditambah lagi dengan perubahan cuaca global dan perilaku alam yang tak terduga sehingga mendatangkan korban manusia, hewan,dan tanah pertanian, kepemimpinan politik saat ini mesti bekerja lebih keras lagi dan siap untuk menerima kritik, keluhan,dan sebagian berupa cacian.

Situasi ini juga merupakan ujian bagi pemimpin parpol dan agama untuk menunjukkan perhatian dan dedikasinya turut memperbaiki keadaan, bukannya sibuk melobi dan bertikai berebut pengaruh dan kekuasaan. Para rasul utusan Tuhan dan penggubah sejarah mengajarkan bahwa memimpin itu berkorban. Cita-cita besar dan mulia yang mereka perjuangkan sanggup mengalahkan keinginan untuk sekadar mengejar popularitas, imbalan materi, dan tepuk tangan.

Pilarpilar peradaban didirikan oleh pemimpin yang setia pada prinsip dan cita-cita mulia, yang kalau diperlukan jiwanya pun turut dipertaruhkan. Pemimpin seperti itulah yang wibawa dan pengaruhnya menghunjam ke hati para pengikutnya, bukan karena imbalan posisi dan materi,tetapi ditaklukkan dan diikat loyalitas mereka itu oleh kesamaan cita-cita mulia serta keluhuran akhlaknya. Pemimpin itu juga ibarat seorang pilot pesawat terbang yang bertanggung menjaga keselamatan para penumpangnya untuk sampai tujuan.

Sedemikian besar peran seorang pemimpin dalam mengarahkan dan menggerakkan masyarakat, maka sungguh tidak mudah jalan menuju ke sana. Dalam era demokrasi, rakyat jangan sembarangan memilih pemimpin karena jika salah pilih, rakyat sendiri yang akan sengsara. Ini berlaku ketika rakyat hendak memilih calon anggota DPR, memilih pasangan calon bupati,wali kota, gubernur sampai presiden.

Jadi kalau rakyat berkeluh kesah kecewa terhadap pemimpinnya, sebagian kesalahannya kembali kepada rakyat akibat salah pilih. Meski begitu, sekali seorang terpilih sebagai pemimpin mesti bertanggung jawab dan konsekuen atas jabatan yang diperjuangkannya. Jangan membuat rakyat sengsara akibat kesalahan yang diperbuat oleh pemimpinnya atau karena kualitasnya memang di bawah standar, tetapi tidak mau mundur.(*)