Memenangkan Debat Capres

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Tiga calon presiden (capres) di Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 siap diuji gagasan serta pemikirannya dalam debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU akan menyelenggarakan debat capres pada 18 Juni, 25 Juni, dan 2 Juli, sedangkan cawapres dilaksanakan pada 23 dan 30 Juni.

Debat merupakan momentum persuasi dari para capres untuk meyakinkan bahwa mereka layak menjadi pemenang. Debat akan berpengaruh pada politik pencitraan para capres. Ekspresi komunikasi dan wawasan para capres akan dilihat dan didengar oleh khalayak sehingga sangat mungkin untuk menaikkan atau menurunkan tingkat elektabilitas capres. Sebagai prosesi komunikasi, indikator debat yang akan diperhatikan publik adalah retorika para capres. Retorika sebagai seni berbicara akan memberi kesan kemampuan kandidat dalam menangani persoalan substantif yang mereka janjikan.

Para kandidat memiliki empat pilihan tipologi retorika saat berdebat. Pertama, tipe impromptu yang mengungkapkan gagasan secara spontan, fleksibel, dan berorientasi pada orisinalitas forum. Tipe ini kekurangannya pada susunan kalimat dan logika berpikir yang kurang sistematis. Kedua, tipe manuskrip atau paparan yang berorientasi pada naskah yang telah dipersiapkan. Jika ini dilakukan capres dalam debat, sangat pasti dia akan menjemukan.

Ketiga, tipe memoriter, yakni capres memilih untuk berdebat dengan mengandalkan pada hapalan-hapalan, bukan pada penguasaan yang mendalam. Hal ini tentu akan mencelakakan kandidat, terlebih jika apa yang dihapalkan lupa atau tidak memahami konteks dari persoalan yang sesungguhnya. Keempat, tipe ekstemporer, yakni capres telah mempersiapkan outline dan pokok-pokok penunjang pembahasan. Dengan outline itulah capres mengelaborasi berbagai dinamisasi diskusi sehingga mampu meyakinkan pihak lain bahwa dirinya mampu menjelaskan. Dari keempat tipologi itu, tentu akan terlihat capres mana yang mampu menguasai forum sehingga bisa menjadi salah satu indikator yang dapat terbaca.

Basis Rasionalitas

Indikator kedua yang dapat dinilai oleh khalayak tentu saja adalah rasionalitas. Dalam konteks ini, diperlukan skema berpikir yang logis, proporsional, analitis, dan berbasis data. Debat harus berorientasi pada penyelesaian masalah ketimbang sekadar berorientasi citra. Hal pertama yang harus dibangun adalah meyakinkan publik mengenai basis orientasi rasionalitas dari para capres dalam berpolitik.

Merujuk pada tradisi neo-Weberian, rasionalitas terbagi ke dalam rasionalitas substantif dan rasionalitas instrumental. Rasionalitas substantif menghayati keterlibatan politik sebagai bagian pelaksanaan prinsip, keyakinan, atau idealisme tertentu. Berpolitik menjadi bagian integral identitas luhur dirinya yang tak bisa begitu saja dikorbankan menjadi sekadar instrumen reproduksi. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi berwujud sebagai cara (means) sekaligus tujuan (ends).

Di lain pihak, terdapat rasionalitas instrumental yang memahami aktivitas berpolitik lebih sebagai pragmatisme memperoleh atau mempertahankan kekuasaan. Karena itu, bangunan rasionalitas ini lebih mendasarkan diri pada kalkulasi, taktik, strategi, kontrol, dan dominasi untuk menghasilkan keefektifan serta efisiensi. Prioritasnya hasil yang paling maksimal, yakni kemenangan kontestasi, meski harus mencederai prinsip-prinsip demokrasi dan menjatuhkan pihak lain.

Kedua rasionalitas tersebut tidaklah dikotomis (dualisme), melainkan berada dalam suatu kontinum. Masing-masing ada secara bersama, namun kadar pengaruhnya berbeda-beda, bergantung pada pilihan para capres yang bertarung. Tentu saja, dalam debat tersebut, para capres harus mampu menunjukkan kepada khalayak bahwa kadar rasionalitas substantifnya lebih tinggi dibanding rasionalitas instrumental yang ada pada dia. Potensi emansipatoris dari rasionalitas itu, oleh Jurgen Habermas, disebut sebagai rasionalitas komunikatif. Dalam debat, seluruh jargon besar sloganistik yang elitis seperti selama ini banyak dikemukakan mereka sudah harus beralih pada indikator-indikator nyata. Debat mampu menghadirkan apa dan bagaimana program masing-masing capres dalam mengurai benang kusut pengelolaan negeri ini lima tahun ke depan.

”Rhetorically Sensitive”

Indikator ketiga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan para capres yang akan berdebat adalah sensitivitas retoris. Sebagai konsekuensi dari terlibatnya capres dalam perdebatan, harus ada kesiapan mental untuk dikritik oleh capres lain. Oleh karena itu, sangat tidak pada tempatnya jika para capres didominasi sifat agresi yang berlebihan.

Dominic Ifanta, dalam bukunya Argumentativness and Verbal Agressivness (1996), mengemukakan ada dua sifat agresi yang seyogianya dikendalikan. Terlebih dalam suatu perdebatan di muka umum yang ditayangkan oleh media massa. Kedua sifat itu ialah kesukaan berdebat dan keagresifan verbal. Kesukaan berdebat merupakan tendensi mengajak pihak lain untuk berdebat mengenai topik-topik yang kontroversial. Sementara keagresifan verbal adalah kebiasaan menyerang ide, keyakinan, ego, atau konsep diri di mana argumen bernalar.

Hanya saja, agresi verbal ini biasanya juga menyertakan taktik penghinaan, kata-kata ancaman, dan ledekan emosional yang dapat menghasilkan kemarahan, keadaan memalukan, menyakiti perasaan, dan reaksi negatif lainnya. Debat mengenai isu-isu kontroversial tentu tak akan terhindarkan dari perdebatan. Hanya saja, jangan sampai capres terjabak pada agresi verbal yang menyudutkan pihak lain melalui ancaman, ledekan emosional, lebih-lebih mempermalukan capres lain. Perilaku seperti itu justru akan menjadi efek bumerang berkurangnya simpati khalayak.

Dalam debat, para capres harus mengesankan diri sebagai tipe komunikator yang memiliki sensitivitas retoris. Menurut Darnell dan Wayne Brockriede yang merujuk pada pendapat Roderick P Hart (1972), ada tiga tipe umum komunikator. Pertama, tipe noble selves. Tipe yang mengagungkan ideal personal tanpa kemampuan beradaptasi. Menggap dirinya superior, sehingga sulit menerima kritik. Kedua, tipe rhetorically reflector, yakni innividu-individu yang membentuk dirinya pada keinginan orang lain tanpa keberatan-keberatan personal. Inilah tipe capres yang mudah ditumpangi pihak-pihak lain. Sementara tipe rhetorically sensitive merupakan tipe yang mau mendengar dan menerima masukan. Berupaya mewujudkan kepentingan sendiri, orang lain dan sikap situasional, sehingga mampu menciptakan kesepahaman.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Jakarta, 18 Juni 2009

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute

Memenangkan Debat Capres

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Tiga calon presiden (capres) di Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 siap diuji gagasan serta pemikirannya dalam debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU akan menyelenggarakan debat capres pada 18 Juni, 25 Juni, dan 2 Juli, sedangkan cawapres dilaksanakan pada 23 dan 30 Juni.

Debat merupakan momentum persuasi dari para capres untuk meyakinkan bahwa mereka layak menjadi pemenang. Debat akan berpengaruh pada politik pencitraan para capres. Ekspresi komunikasi dan wawasan para capres akan dilihat dan didengar oleh khalayak sehingga sangat mungkin untuk menaikkan atau menurunkan tingkat elektabilitas capres. Sebagai prosesi komunikasi, indikator debat yang akan diperhatikan publik adalah retorika para capres. Retorika sebagai seni berbicara akan memberi kesan kemampuan kandidat dalam menangani persoalan substantif yang mereka janjikan.

Para kandidat memiliki empat pilihan tipologi retorika saat berdebat. Pertama, tipe impromptu yang mengungkapkan gagasan secara spontan, fleksibel, dan berorientasi pada orisinalitas forum. Tipe ini kekurangannya pada susunan kalimat dan logika berpikir yang kurang sistematis. Kedua, tipe manuskrip atau paparan yang berorientasi pada naskah yang telah dipersiapkan. Jika ini dilakukan capres dalam debat, sangat pasti dia akan menjemukan.

Ketiga, tipe memoriter, yakni capres memilih untuk berdebat dengan mengandalkan pada hapalan-hapalan, bukan pada penguasaan yang mendalam. Hal ini tentu akan mencelakakan kandidat, terlebih jika apa yang dihapalkan lupa atau tidak memahami konteks dari persoalan yang sesungguhnya. Keempat, tipe ekstemporer, yakni capres telah mempersiapkan outline dan pokok-pokok penunjang pembahasan. Dengan outline itulah capres mengelaborasi berbagai dinamisasi diskusi sehingga mampu meyakinkan pihak lain bahwa dirinya mampu menjelaskan. Dari keempat tipologi itu, tentu akan terlihat capres mana yang mampu menguasai forum sehingga bisa menjadi salah satu indikator yang dapat terbaca.

Basis Rasionalitas

Indikator kedua yang dapat dinilai oleh khalayak tentu saja adalah rasionalitas. Dalam konteks ini, diperlukan skema berpikir yang logis, proporsional, analitis, dan berbasis data. Debat harus berorientasi pada penyelesaian masalah ketimbang sekadar berorientasi citra. Hal pertama yang harus dibangun adalah meyakinkan publik mengenai basis orientasi rasionalitas dari para capres dalam berpolitik.

Merujuk pada tradisi neo-Weberian, rasionalitas terbagi ke dalam rasionalitas substantif dan rasionalitas instrumental. Rasionalitas substantif menghayati keterlibatan politik sebagai bagian pelaksanaan prinsip, keyakinan, atau idealisme tertentu. Berpolitik menjadi bagian integral identitas luhur dirinya yang tak bisa begitu saja dikorbankan menjadi sekadar instrumen reproduksi. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi berwujud sebagai cara (means) sekaligus tujuan (ends).

Di lain pihak, terdapat rasionalitas instrumental yang memahami aktivitas berpolitik lebih sebagai pragmatisme memperoleh atau mempertahankan kekuasaan. Karena itu, bangunan rasionalitas ini lebih mendasarkan diri pada kalkulasi, taktik, strategi, kontrol, dan dominasi untuk menghasilkan keefektifan serta efisiensi. Prioritasnya hasil yang paling maksimal, yakni kemenangan kontestasi, meski harus mencederai prinsip-prinsip demokrasi dan menjatuhkan pihak lain.

Kedua rasionalitas tersebut tidaklah dikotomis (dualisme), melainkan berada dalam suatu kontinum. Masing-masing ada secara bersama, namun kadar pengaruhnya berbeda-beda, bergantung pada pilihan para capres yang bertarung. Tentu saja, dalam debat tersebut, para capres harus mampu menunjukkan kepada khalayak bahwa kadar rasionalitas substantifnya lebih tinggi dibanding rasionalitas instrumental yang ada pada dia. Potensi emansipatoris dari rasionalitas itu, oleh Jurgen Habermas, disebut sebagai rasionalitas komunikatif. Dalam debat, seluruh jargon besar sloganistik yang elitis seperti selama ini banyak dikemukakan mereka sudah harus beralih pada indikator-indikator nyata. Debat mampu menghadirkan apa dan bagaimana program masing-masing capres dalam mengurai benang kusut pengelolaan negeri ini lima tahun ke depan.

”Rhetorically Sensitive”

Indikator ketiga yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan para capres yang akan berdebat adalah sensitivitas retoris. Sebagai konsekuensi dari terlibatnya capres dalam perdebatan, harus ada kesiapan mental untuk dikritik oleh capres lain. Oleh karena itu, sangat tidak pada tempatnya jika para capres didominasi sifat agresi yang berlebihan.

Dominic Ifanta, dalam bukunya Argumentativness and Verbal Agressivness (1996), mengemukakan ada dua sifat agresi yang seyogianya dikendalikan. Terlebih dalam suatu perdebatan di muka umum yang ditayangkan oleh media massa. Kedua sifat itu ialah kesukaan berdebat dan keagresifan verbal. Kesukaan berdebat merupakan tendensi mengajak pihak lain untuk berdebat mengenai topik-topik yang kontroversial. Sementara keagresifan verbal adalah kebiasaan menyerang ide, keyakinan, ego, atau konsep diri di mana argumen bernalar.

Hanya saja, agresi verbal ini biasanya juga menyertakan taktik penghinaan, kata-kata ancaman, dan ledekan emosional yang dapat menghasilkan kemarahan, keadaan memalukan, menyakiti perasaan, dan reaksi negatif lainnya. Debat mengenai isu-isu kontroversial tentu tak akan terhindarkan dari perdebatan. Hanya saja, jangan sampai capres terjabak pada agresi verbal yang menyudutkan pihak lain melalui ancaman, ledekan emosional, lebih-lebih mempermalukan capres lain. Perilaku seperti itu justru akan menjadi efek bumerang berkurangnya simpati khalayak.

Dalam debat, para capres harus mengesankan diri sebagai tipe komunikator yang memiliki sensitivitas retoris. Menurut Darnell dan Wayne Brockriede yang merujuk pada pendapat Roderick P Hart (1972), ada tiga tipe umum komunikator. Pertama, tipe noble selves. Tipe yang mengagungkan ideal personal tanpa kemampuan beradaptasi. Menggap dirinya superior, sehingga sulit menerima kritik. Kedua, tipe rhetorically reflector, yakni innividu-individu yang membentuk dirinya pada keinginan orang lain tanpa keberatan-keberatan personal. Inilah tipe capres yang mudah ditumpangi pihak-pihak lain. Sementara tipe rhetorically sensitive merupakan tipe yang mau mendengar dan menerima masukan. Berupaya mewujudkan kepentingan sendiri, orang lain dan sikap situasional, sehingga mampu menciptakan kesepahaman.

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Jakarta, 18 Juni 2009

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute