Membuat Daur Ulang Kertas, Menyelamatkan Bumi?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

ANDA pusing dengan tumpukan kertas yang tak berguna? Tak perlu dibuang ke tong sampah atau dijual kiloan dulu. Sebab, kertas tak berguna akan menjadi barang bernilai ekonomis jika berada di tangan orang yang kreatif. Bahkan, ikut pula menyelamatkan bumi.

Di kampus UIN Jakarta, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia, membuat sebuah inspirasi baru bagaimana sampah kertas didaur-ulang hingga menjadi kertas baru yang berguna. Hasilnya memang tak terlalu sempurna. Namun, cara itu setidaknya dapat mengurangi tumpukan sampah kertas sekaligus menyelamatkan lingkungan dari ancaman limbah sampah organik itu.

Menurut Samsul Umar, staf Arkadia, sampah-sampah organik sebenarnya sangat mudah dimanfaatkan kembali. Selain dapat dijadikan kompos atau media tanam, sampah organik seperti kertas juga bisa disulap menjadi kertas baru yang berguna. “Di lingkungan kita pasti banyak sampah kertas. Nah, jika didaur-ulang, tentu akan bermanfaat seperti untuk menulis atau sebagai alat pembungkus,” ujarnya saat ditemui UIN Online di tempat workshop peragaan kertas daur ulang di lapangan Student Center, Selasa (8/6).

Namun, kata dia, pemanfaatan kembali kertas bekas tak semata untuk tujuan ekonomis, tetapi yang paling penting adalah ikut serta menyelamatkan bumi. Dengan mendaur-ulang kertas, misalnya, hal itu berarti dapat mengurangi penebangan pohon sebagai bahan baku utama kertas. “Bayangkan, jika pohon banyak ditebangi, bukan saja hutan menjadi gundul tapi bumi juga kian panas,” dalih mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora semester akhir ini.

Karena itu, agar bumi terselamatkan, sejumlah langkah penghematan penggunaan kertas dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, setiap mencetak sedapat mungkin menggunakan kertas di kedua sisi (timbal balik) atau kertas bekas. Kedua, menggunakan kertas daur ulang, dan ketiga memanfaatkan alat elektronik (digital file) seperti komputer dan internet baik untuk kepentingan surat-menyurat (e-mail) maupun penyimpanan arsip.

Untuk penggunaan kertas hasil daur ulang, Samsul menyarankan agar tak buru-buru dulu  membeli di toko kertas yang belakangan banyak dijual. Sebab, pembuatan daur ulang kertas dapat dilakukan sendiri secara mudah dan dengan alat sederhana.

Dia menjelaskan, beberapa cara untuk membuat daur ulang kertas itu dapat dilakukan sebagai berikut. Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti papan triplek kain tipis, screen (biasa digunakan sebagai alat menyablon) dengan kerapatan 36 atau 38 berukuran 25 x 25 centimeter atau 35 x 45 centimeter, rakel (alat perata), blender, bak besar berukuran 60 x 70 centimeter atau ember, kertas-lertas bekas (limbah), pewarna alami atau buatan, pemutih, dan lem kayu.

Langkah pertama dalam pembuatan kertas daur ulang, kertas bekas seperti koran, hvs berbagai ukuran, atau karton terlebih dahulu disobek-sobek kecil dan direndam dalam air selama sekitar dua hingga empat jam (bergantung jenis kertas, semakin tebal semakin membutuhkan waktu lama perendaman). Untuk memperoleh hasil kertas baru yang baik, rendaman kertas juga dapat dilakukan dengan blender hingga halus dan menjadi bubur (pulp) dengan perbandingan 1 gelas kertas dan 3 gelas air. Blender juga sekitar satu setengah sendok teh lem kayu sebagai perekat. Langkah kedua, masukkan bubur kertas ke dalam bak persegi berisi air dengan perbandingan 15 liter air dan 3 liter bubur kertas.

Langkah ketiga, masukkan screen yang sudah dibingkai persegi (ukuran disesuaikan) ke dalam bak hingga terendam dan angkat (tiriskan). Pastikan bubur kertas merata di atas permukaan screen. Setelah itu, siapkan dan pasang papan triplek yang sudah dibasahi air dengan kemiringan 45 derajat. Tempelkan screen pada papan tadi lalu gosok beberapa kali dengan rakel di atas permukaan screen hingga airnya turun. Jika sudah selesai jemur dan keringkan. Kemudian kertas pun siap dipergunakan.

Ulangi semua langkah di atas dengan cara yang sama untuk memperoleh jumlah kertas daur ulang yang diinginkan. Hanya saja, hasil tersebut kemungkinan kurang optimal, misalnya tekstur dan permukaan kertas yang tidak merata atau halus. Jika ingin menghasilkan kertas berwarna, dapat juga diberi zat pewarna alami seperti kunyit (kuning), daun jadi (merah), gambir (hitam), daun pandan (hijau), dan pacar cina (merah muda).

“Jadi, caranya memang praktis dan mudah meskipun menggunakan alat sederhana,” kata Samsul seraya memperlihatkan beberapa kertas hasil daur ulang yang dibuat tim Arkadia.

Meski demikian, kertas daur ulang yang dibuat tim Arkadia hingga kini tidak diproduksi secara massal, apalagi untuk kepentingan komersil. Tim Arkadia hanya ingin memperlihatkan kepada publik bahwa dengan cara seperti itulah kertas-kertas yang tak berguna di kantor, sekolah, dan bahkan di rumah dapat didaur-ulang. “Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan lagi sambil berkreasi. Di samping itu, juga untuk menyelamatkan bumi yang kini sudah panas akibat hilangnya sebagian pohon karena ditebang maupun dibalak,” seloroh Samsul tanpa bermaksud mempromosikan Arkadia, lembaga kemahasiswaan yang concern terhadap lingkungan. (Nanang Syaikhu)

 

 

 

 

 

 

 

Membuat Daur Ulang Kertas, Menyelamatkan Bumi?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

ANDA pusing dengan tumpukan kertas yang tak berguna? Tak perlu dibuang ke tong sampah atau dijual kiloan dulu. Sebab, kertas tak berguna akan menjadi barang bernilai ekonomis jika berada di tangan orang yang kreatif. Bahkan, ikut pula menyelamatkan bumi.

Di kampus UIN Jakarta, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia, membuat sebuah inspirasi baru bagaimana sampah kertas didaur-ulang hingga menjadi kertas baru yang berguna. Hasilnya memang tak terlalu sempurna. Namun, cara itu setidaknya dapat mengurangi tumpukan sampah kertas sekaligus menyelamatkan lingkungan dari ancaman limbah sampah organik itu.

Menurut Samsul Umar, staf Arkadia, sampah-sampah organik sebenarnya sangat mudah dimanfaatkan kembali. Selain dapat dijadikan kompos atau media tanam, sampah organik seperti kertas juga bisa disulap menjadi kertas baru yang berguna. “Di lingkungan kita pasti banyak sampah kertas. Nah, jika didaur-ulang, tentu akan bermanfaat seperti untuk menulis atau sebagai alat pembungkus,” ujarnya saat ditemui UIN Online di tempat workshop peragaan kertas daur ulang di lapangan Student Center, Selasa (8/6).

Namun, kata dia, pemanfaatan kembali kertas bekas tak semata untuk tujuan ekonomis, tetapi yang paling penting adalah ikut serta menyelamatkan bumi. Dengan mendaur-ulang kertas, misalnya, hal itu berarti dapat mengurangi penebangan pohon sebagai bahan baku utama kertas. “Bayangkan, jika pohon banyak ditebangi, bukan saja hutan menjadi gundul tapi bumi juga kian panas,” dalih mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora semester akhir ini.

Karena itu, agar bumi terselamatkan, sejumlah langkah penghematan penggunaan kertas dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, setiap mencetak sedapat mungkin menggunakan kertas di kedua sisi (timbal balik) atau kertas bekas. Kedua, menggunakan kertas daur ulang, dan ketiga memanfaatkan alat elektronik (digital file) seperti komputer dan internet baik untuk kepentingan surat-menyurat (e-mail) maupun penyimpanan arsip.

Untuk penggunaan kertas hasil daur ulang, Samsul menyarankan agar tak buru-buru dulu  membeli di toko kertas yang belakangan banyak dijual. Sebab, pembuatan daur ulang kertas dapat dilakukan sendiri secara mudah dan dengan alat sederhana.

Dia menjelaskan, beberapa cara untuk membuat daur ulang kertas itu dapat dilakukan sebagai berikut. Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti papan triplek kain tipis, screen (biasa digunakan sebagai alat menyablon) dengan kerapatan 36 atau 38 berukuran 25 x 25 centimeter atau 35 x 45 centimeter, rakel (alat perata), blender, bak besar berukuran 60 x 70 centimeter atau ember, kertas-lertas bekas (limbah), pewarna alami atau buatan, pemutih, dan lem kayu.

Langkah pertama dalam pembuatan kertas daur ulang, kertas bekas seperti koran, hvs berbagai ukuran, atau karton terlebih dahulu disobek-sobek kecil dan direndam dalam air selama sekitar dua hingga empat jam (bergantung jenis kertas, semakin tebal semakin membutuhkan waktu lama perendaman). Untuk memperoleh hasil kertas baru yang baik, rendaman kertas juga dapat dilakukan dengan blender hingga halus dan menjadi bubur (pulp) dengan perbandingan 1 gelas kertas dan 3 gelas air. Blender juga sekitar satu setengah sendok teh lem kayu sebagai perekat. Langkah kedua, masukkan bubur kertas ke dalam bak persegi berisi air dengan perbandingan 15 liter air dan 3 liter bubur kertas.

Langkah ketiga, masukkan screen yang sudah dibingkai persegi (ukuran disesuaikan) ke dalam bak hingga terendam dan angkat (tiriskan). Pastikan bubur kertas merata di atas permukaan screen. Setelah itu, siapkan dan pasang papan triplek yang sudah dibasahi air dengan kemiringan 45 derajat. Tempelkan screen pada papan tadi lalu gosok beberapa kali dengan rakel di atas permukaan screen hingga airnya turun. Jika sudah selesai jemur dan keringkan. Kemudian kertas pun siap dipergunakan.

Ulangi semua langkah di atas dengan cara yang sama untuk memperoleh jumlah kertas daur ulang yang diinginkan. Hanya saja, hasil tersebut kemungkinan kurang optimal, misalnya tekstur dan permukaan kertas yang tidak merata atau halus. Jika ingin menghasilkan kertas berwarna, dapat juga diberi zat pewarna alami seperti kunyit (kuning), daun jadi (merah), gambir (hitam), daun pandan (hijau), dan pacar cina (merah muda).

“Jadi, caranya memang praktis dan mudah meskipun menggunakan alat sederhana,” kata Samsul seraya memperlihatkan beberapa kertas hasil daur ulang yang dibuat tim Arkadia.

Meski demikian, kertas daur ulang yang dibuat tim Arkadia hingga kini tidak diproduksi secara massal, apalagi untuk kepentingan komersil. Tim Arkadia hanya ingin memperlihatkan kepada publik bahwa dengan cara seperti itulah kertas-kertas yang tak berguna di kantor, sekolah, dan bahkan di rumah dapat didaur-ulang. “Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan lagi sambil berkreasi. Di samping itu, juga untuk menyelamatkan bumi yang kini sudah panas akibat hilangnya sebagian pohon karena ditebang maupun dibalak,” seloroh Samsul tanpa bermaksud mempromosikan Arkadia, lembaga kemahasiswaan yang concern terhadap lingkungan. (Nanang Syaikhu)

 

 

 

 

 

 

 

Membuat Daur Ulang Kertas, Menyelamatkan Bumi?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

ANDA pusing dengan tumpukan kertas yang tak berguna? Tak perlu dibuang ke tong sampah atau dijual kiloan dulu. Sebab, kertas tak berguna akan menjadi barang bernilai ekonomis jika berada di tangan orang yang kreatif.

Di kampus UIN Jakarta, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia, membuat sebuah inspirasi baru bagaimana sampah kertas didaur-ulang hingga menjadi kertas baru yang berguna. Hasilnya memang tak terlalu sempurna. Namun, cara itu setidaknya dapat mengurangi tumpukan sampah kertas sekaligus menyelamatkan lingkungan dari ancaman limbah sampah organik itu.

Menurut Samsul Umar, staf Arkadia, sampah-sampah organik sebenarnya sangat mudah dimanfaatkan kembali. Selain dapat dijadikan kompos atau media tanam, sampah organik seperti kertas juga bisa disulap menjadi kertas baru yang berguna. “Di lingkungan kita pasti banyak sampah kertas. Nah, jika didaur-ulang, tentu akan bermanfaat seperti untuk menulis atau sebagai alat pembungkus,” ujarnya saat ditemui UIN Online di tempat workshop peragaan kertas daur ulang di lapangan Student Center, Selasa (8/6).

Namun, kata dia, keselamatan lingkungan yang paling penting berkurangnya penebangan pohon sebagai bahan baku utama kertas. “Bayangkan, jika pohon banyak ditebangi, bukan saja hutan menjadi gundul tapi bumi juga kian panas,” dalih mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora semester akhir ini.

Karena itu, agar bumi terselamatkan, sejumlah langkah penghematan penggunaan kertas dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, setiap mencetak sedapat mungkin menggunakan kertas di kedua sisi (timbal balik) atau kertas bekas. Kedua, menggunakan kertas daur ulang, dan ketiga memanfaatkan alat elektronik (digital file) seperti komputer dan internet baik untuk kepentingan surat-menyurat (e-mail) maupun penyimpanan arsip.

Untuk penggunaan kertas hasil daur ulang, Samsul menyarankan agar tak buru-buru dulu  membeli di toko kertas yang belakangan banyak dijual. Sebab, pembuatan daur ulang kertas dapat dilakukan sendiri secara mudah dan dengan alat sederhana.

Dia menjelaskan, beberapa cara untuk membuat daur ulang kertas itu dapat dilakukan sebagai berikut. Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti papan triplek kain tipis, screen (biasa digunakan sebagai alat menyablon) dengan kerapatan 36 atau 38 berukuran 25 x 25 centimeter atau 35 x 45 centimeter, rakel (alat perata), blender, bak besar berukuran 60 x 70 centimeter atau ember, kertas-lertas bekas (limbah), pewarna alami atau buatan, pemutih, dan lem kayu.

Langkah pertama dalam pembuatan kertas daur ulang, kertas bekas seperti koran, hvs berbagai ukuran, atau karton terlebih dahulu disobek-sobek kecil dan direndam dalam air selama sekitar dua hingga empat jam (bergantung jenis kertas, semakin tebal semakin membutuhkan waktu lama perendaman). Untuk memperoleh hasil kertas baru yang baik, rendaman kertas juga dapat dilakukan dengan blender hingga halus dan menjadi bubur (pulp) dengan perbandingan 1 gelas kertas dan 3 gelas air. Blender juga sekitar satu setengah sendok teh lem kayu sebagai perekat. Langkah kedua, masukkan bubur kertas ke dalam bak persegi berisi air dengan perbandingan 15 liter air dan 3 liter bubur kertas.

Langkah ketiga, masukkan screen yang sudah dibingkai persegi (ukuran disesuaikan) ke dalam bak hingga terendam dan angkat (tiriskan). Pastikan bubur kertas merata di atas permukaan screen. Setelah itu, siapkan dan pasang papan triplek yang sudah dibasahi air dengan kemiringan 45 derajat. Tempelkan screen pada papan tadi lalu gosok beberapa kali dengan rakel di atas permukaan screen hingga airnya turun. Jika sudah selesai jemur dan keringkan. Kemudian kertas pun siap dipergunakan.

Ulangi semua langkah di atas dengan cara yang sama untuk memperoleh jumlah kertas daur ulang yang diinginkan. Hanya saja, hasil tersebut kemungkinan kurang optimal, misalnya tekstur dan permukaan kertas yang tidak merata atau halus. Jika ingin menghasilkan kertas berwarna, dapat juga diberi zat pewarna alami seperti kunyit (kuning), daun jadi (merah), gambir (hitam), daun pandan (hijau), dan pacar cina (merah muda).

“Jadi, caranya memang praktis dan mudah meskipun menggunakan alat sederhana,” kata Samsul seraya memperlihatkan beberapa kertas hasil daur ulang yang dibuat tim Arkadia.

Meski demikian, kertas daur ulang yang dibuat tim Arkadia hingga kini tidak diproduksi secara massal, apalagi untuk kepentingan komersil. Tim Arkadia hanya ingin memperlihatkan kepada publik bahwa dengan cara seperti itulah kertas-kertas yang tak berguna di kantor, sekolah, dan bahkan di rumah dapat didaur-ulang. “Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan lagi sambil berkreasi. Di samping itu, juga untuk menyelamatkan bumi yang kini sudah panas akibat hilangnya sebagian pohon karena ditebang maupun dibalak,” seloroh Samsul tanpa bermaksud mempromosikan Arkadia, lembaga kemahasiswaan yang concern terhadap lingkungan. (Nanang Syaikhu)

Membuat Daur Ulang Kertas, Menyelamatkan Bumi?

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

ANDA pusing dengan tumpukan kertas yang tak berguna? Tak perlu dibuang ke tong sampah atau dijual kiloan dulu. Sebab, kertas tak berguna akan menjadi barang bernilai ekonomis jika berada di tangan orang yang kreatif.

Di kampus UIN Jakarta, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Arkadia, membuat sebuah inspirasi baru bagaimana sampah kertas didaur-ulang hingga menjadi kertas baru yang berguna. Hasilnya memang tak terlalu sempurna. Namun, cara itu setidaknya dapat mengurangi tumpukan sampah kertas sekaligus menyelamatkan lingkungan dari ancaman limbah sampah organik itu.

Menurut Samsul Umar, staf Arkadia, sampah-sampah organik sebenarnya sangat mudah dimanfaatkan kembali. Selain dapat dijadikan kompos atau media tanam, sampah organik seperti kertas juga bisa disulap menjadi kertas baru yang berguna. “Di lingkungan kita pasti banyak sampah kertas. Nah, jika didaur-ulang, tentu akan bermanfaat seperti untuk menulis atau sebagai alat pembungkus,” ujarnya saat ditemui UIN Online di tempat workshop peragaan kertas daur ulang di lapangan Student Center, Selasa (8/6).

Namun, kata dia, keselamatan lingkungan yang paling penting berkurangnya penebangan pohon sebagai bahan baku utama kertas. “Bayangkan, jika pohon banyak ditebangi, bukan saja hutan menjadi gundul tapi bumi juga kian panas,” dalih mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora semester akhir ini.

Karena itu, agar bumi terselamatkan, sejumlah langkah penghematan penggunaan kertas dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, setiap mencetak sedapat mungkin menggunakan kertas di kedua sisi (timbal balik) atau kertas bekas. Kedua, menggunakan kertas daur ulang, dan ketiga memanfaatkan alat elektronik (digital file) seperti komputer dan internet baik untuk kepentingan surat-menyurat (e-mail) maupun penyimpanan arsip.

Untuk penggunaan kertas hasil daur ulang, Samsul menyarankan agar tak buru-buru dulu  membeli di toko kertas yang belakangan banyak dijual. Sebab, pembuatan daur ulang kertas dapat dilakukan sendiri secara mudah dan dengan alat sederhana.

Dia menjelaskan, beberapa cara untuk membuat daur ulang kertas itu dapat dilakukan sebagai berikut. Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, seperti papan triplek kain tipis, screen (biasa digunakan sebagai alat menyablon) dengan kerapatan 36 atau 38 berukuran 25 x 25 centimeter atau 35 x 45 centimeter, rakel (alat perata), blender, bak besar berukuran 60 x 70 centimeter atau ember, kertas-lertas bekas (limbah), pewarna alami atau buatan, pemutih, dan lem kayu.

Langkah pertama dalam pembuatan kertas daur ulang, kertas bekas seperti koran, hvs berbagai ukuran, atau karton terlebih dahulu disobek-sobek kecil dan direndam dalam air selama sekitar dua hingga empat jam (bergantung jenis kertas, semakin tebal semakin membutuhkan waktu lama perendaman). Untuk memperoleh hasil kertas baru yang baik, rendaman kertas juga dapat dilakukan dengan blender hingga halus dan menjadi bubur (pulp) dengan perbandingan 1 gelas kertas dan 3 gelas air. Blender juga sekitar satu setengah sendok teh lem kayu sebagai perekat. Langkah kedua, masukkan bubur kertas ke dalam bak persegi berisi air dengan perbandingan 15 liter air dan 3 liter bubur kertas.

Langkah ketiga, masukkan screen yang sudah dibingkai persegi (ukuran disesuaikan) ke dalam bak hingga terendam dan angkat (tiriskan). Pastikan bubur kertas merata di atas permukaan screen. Setelah itu, siapkan dan pasang papan triplek yang sudah dibasahi air dengan kemiringan 45 derajat. Tempelkan screen pada papan tadi lalu gosok beberapa kali dengan rakel di atas permukaan screen hingga airnya turun. Jika sudah selesai jemur dan keringkan. Kemudian kertas pun siap dipergunakan.

Ulangi semua langkah di atas dengan cara yang sama untuk memperoleh jumlah kertas daur ulang yang diinginkan. Hanya saja, hasil tersebut kemungkinan kurang optimal, misalnya tekstur dan permukaan kertas yang tidak merata atau halus. Jika ingin menghasilkan kertas berwarna, dapat juga diberi zat pewarna alami seperti kunyit (kuning), daun jadi (merah), gambir (hitam), daun pandan (hijau), dan pacar cina (merah muda).

“Jadi, caranya memang praktis dan mudah meskipun menggunakan alat sederhana,” kata Samsul seraya memperlihatkan beberapa kertas hasil daur ulang yang dibuat tim Arkadia.

Meski demikian, kertas daur ulang yang dibuat tim Arkadia hingga kini tidak diproduksi secara massal, apalagi untuk kepentingan komersil. Tim Arkadia hanya ingin memperlihatkan kepada publik bahwa dengan cara seperti itulah kertas-kertas yang tak berguna di kantor, sekolah, dan bahkan di rumah dapat didaur-ulang. “Daripada dibuang, lebih baik dimanfaatkan lagi sambil berkreasi. Di samping itu, juga untuk menyelamatkan bumi yang kini sudah panas akibat hilangnya sebagian pohon karena ditebang maupun dibalak,” seloroh Samsul tanpa bermaksud mempromosikan Arkadia, lembaga kemahasiswaan yang concern terhadap lingkungan. (Nanang Syaikhu)