Membeli Gaya Hidup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SETIAP masyarakat memiliki strata- strata sosial.Strata atau kelas ini referensinya berbeda-beda. Ada yang berdasarkan keturunan raja atau darah biru. Mereka yang terlahir dengan darah biru akan diposisikan pada strata sosial tinggi.

Dalam masyarakat Jawa ada keluarga yang mengawetkan strata ini dengan mencantumkan gelar raden atau yang lebih tinggi lagi, yang menunjukkan bahwa dia keturunan keraton. Di lingkungan masyarakat Hindu strata ini berdasarkan paham dan keyakinan tentang kasta misalnya kasta Brahma terjaga secara turun-temurun. Tak ketinggalan juga di lingkungan pesantren anak kiai sering dipanggil Gus, menunjukkan bahwa dia masih keturunan darah biru yang mesti dicintai dan dihormati oleh kalangan santri dan masyarakat.

Dengan kemajuan dunia pendidikan, strata sosial yang berlandaskan referensi primordial yaitu keunggulan hanya berdasarkan kelahiran dan keturunan mulai tergeser oleh keunggulan prestasi akademis-keilmuan yang kemudian diabadikan dengan titel kesarjanaan. Kalau dulu orang bangga dengan titel raden yang disingkat Rd, sekarang tersaingi oleh titel kampus doktor dengan singkatan Dr.

Di kalangan militer strata ini sangat dijaga. Untuk mendaki ke strata yang lebih tinggi perlu perjuangan berat sebagaimana untuk meraih doktor atau profesor. Di birokrasi pun demikian, strata sosial birokrasi ini sangat besar pengaruhnya karena memiliki efek kekuasaan dan ekonomi.

Hanya saja, masa berlakunya tidak melekat permanen,sebatas legalitas yang sah. Cerita-cerita di atas hanya ingin menekankan satu hal bahwa setiap komunitas selalu melahirkan format piramidal dengan referensi dan rasionalitas yang beraneka ragam. Orang boleh saja memperjuangkan ideologi masyarakat tanpa kelas, semua sama kedudukannya di depan hukum dan Tuhan, tapi strata dan hierarki sosial selalu saja ada.

Strata Sosial dan Gaya Hidup

Dalam sebuah obrolan ringan seorang ibu dari kelas menengah pada kategori ekonomi bercerita, sekarang ini banyak ibu yang ingin dirinya naik ke strata sosial atas atau setidaknya agar dipandang sebagai bagian dari komunitas strata atas. Lalu apa yang mereka lakukan? Menurutnya, mereka membeli “tangga naik” yang dapat dijadikan pijakan ke atas berupa barang- barang bermerek dengan harga yang mahal.

Dengan menggunakan aksesori berkelas dunia, seseorang lalu merasa sudah menjadi bagian dari strata atas. Maka apa yang dipakai mulai dari tas, baju, sepatu, jam tangan, mobil dan aksesori lain selalu yang mahal dan berkelas. Celakanya, uang itu didapat tidak selalu dengan cara halal, tapi diambil dari hak orang lain dengan jalan korupsi. Ketika seseorang sudah merasa di strata pelataran atas yang memerlukan biaya mahal, posisinya ibarat seseorang yang pergi ke sebuah mal besar.

Untuk menuju ke sana, perjuangan sekadar bersabar mengatasi jalan macet. Tetapi begitu seseorang telah masuk mal besar yang menawarkan dagangan sangat beragam dengan harga puluhan dan ratusan juta tiba- tiba seseorang menjadi miskin. Berapa pun kekayaan seseorang akan selalu merasa kurang untuk berbelanja barang-barang yang sesungguhnya bukan masuk kategori kebutuhan dasar, melainkan hanya membeli gaya hidup.

Mereka yang terjebak ke domain ini tidak sadar bahwa dengan menggunakan barang-barang mahal seakan dirinya menjadi ikut naik kualitas pribadi dan hidupnya, padahal yang berharga itu aksesorinya, bukan diri pribadinya. Orang semacam ini mesti diingatkan dan dikasihani. Mereka terkena krisis kepercayaan diri dan kepribadian.

Coba saja amati apa yang terjadi dalam masyarakat kita sebagaimana yang diberitakan oleh media massa. Berbagai skandal korupsi dan kasus-kasus keluarga yang berantakan semuanya berakar ketika seseorang terjebak untuk membeli gaya hidup agar dirinya dipandang sebagai bagian dari strata sosial atas. Padahal sejak dari tradisi di desa, sekolah, dan perguruan tinggi, harga diri seseorang itu karena ilmunya, pribadinya, dan kontribusinya pada masyarakat banyak.

Bukan pada gaya hidupnya yang menjadikan materi dan pangkat sebagai topeng pemanis diri dan pendongkrak status sosial. Naiknya seseorang dalam jabatan dan kekayaan ternyata tidak selalu dibarengi dengan semakin dewasanya dalam memaknai, menjalani, dan menghayati kehidupan agar semakin otentik.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 9 Juli 2010

Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

 

 

Membeli Gaya Hidup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

SETIAP masyarakat memiliki strata- strata sosial.Strata atau kelas ini referensinya berbeda-beda. Ada yang berdasarkan keturunan raja atau darah biru. Mereka yang terlahir dengan darah biru akan diposisikan pada strata sosial tinggi.

Dalam masyarakat Jawa ada keluarga yang mengawetkan strata ini dengan mencantumkan gelar raden atau yang lebih tinggi lagi, yang menunjukkan bahwa dia keturunan keraton. Di lingkungan masyarakat Hindu strata ini berdasarkan paham dan keyakinan tentang kasta misalnya kasta Brahma terjaga secara turun-temurun. Tak ketinggalan juga di lingkungan pesantren anak kiai sering dipanggil Gus, menunjukkan bahwa dia masih keturunan darah biru yang mesti dicintai dan dihormati oleh kalangan santri dan masyarakat.

Dengan kemajuan dunia pendidikan, strata sosial yang berlandaskan referensi primordial yaitu keunggulan hanya berdasarkan kelahiran dan keturunan mulai tergeser oleh keunggulan prestasi akademis-keilmuan yang kemudian diabadikan dengan titel kesarjanaan. Kalau dulu orang bangga dengan titel raden yang disingkat Rd, sekarang tersaingi oleh titel kampus doktor dengan singkatan Dr.

Di kalangan militer strata ini sangat dijaga. Untuk mendaki ke strata yang lebih tinggi perlu perjuangan berat sebagaimana untuk meraih doktor atau profesor. Di birokrasi pun demikian, strata sosial birokrasi ini sangat besar pengaruhnya karena memiliki efek kekuasaan dan ekonomi.

Hanya saja, masa berlakunya tidak melekat permanen,sebatas legalitas yang sah. Cerita-cerita di atas hanya ingin menekankan satu hal bahwa setiap komunitas selalu melahirkan format piramidal dengan referensi dan rasionalitas yang beraneka ragam. Orang boleh saja memperjuangkan ideologi masyarakat tanpa kelas, semua sama kedudukannya di depan hukum dan Tuhan, tapi strata dan hierarki sosial selalu saja ada.

Strata Sosial dan Gaya Hidup

Dalam sebuah obrolan ringan seorang ibu dari kelas menengah pada kategori ekonomi bercerita, sekarang ini banyak ibu yang ingin dirinya naik ke strata sosial atas atau setidaknya agar dipandang sebagai bagian dari komunitas strata atas. Lalu apa yang mereka lakukan? Menurutnya, mereka membeli “tangga naik” yang dapat dijadikan pijakan ke atas berupa barang- barang bermerek dengan harga yang mahal.

Dengan menggunakan aksesori berkelas dunia, seseorang lalu merasa sudah menjadi bagian dari strata atas. Maka apa yang dipakai mulai dari tas, baju, sepatu, jam tangan, mobil dan aksesori lain selalu yang mahal dan berkelas. Celakanya, uang itu didapat tidak selalu dengan cara halal, tapi diambil dari hak orang lain dengan jalan korupsi. Ketika seseorang sudah merasa di strata pelataran atas yang memerlukan biaya mahal, posisinya ibarat seseorang yang pergi ke sebuah mal besar.

Untuk menuju ke sana, perjuangan sekadar bersabar mengatasi jalan macet. Tetapi begitu seseorang telah masuk mal besar yang menawarkan dagangan sangat beragam dengan harga puluhan dan ratusan juta tiba- tiba seseorang menjadi miskin. Berapa pun kekayaan seseorang akan selalu merasa kurang untuk berbelanja barang-barang yang sesungguhnya bukan masuk kategori kebutuhan dasar, melainkan hanya membeli gaya hidup.

Mereka yang terjebak ke domain ini tidak sadar bahwa dengan menggunakan barang-barang mahal seakan dirinya menjadi ikut naik kualitas pribadi dan hidupnya, padahal yang berharga itu aksesorinya, bukan diri pribadinya. Orang semacam ini mesti diingatkan dan dikasihani. Mereka terkena krisis kepercayaan diri dan kepribadian.

Coba saja amati apa yang terjadi dalam masyarakat kita sebagaimana yang diberitakan oleh media massa. Berbagai skandal korupsi dan kasus-kasus keluarga yang berantakan semuanya berakar ketika seseorang terjebak untuk membeli gaya hidup agar dirinya dipandang sebagai bagian dari strata sosial atas. Padahal sejak dari tradisi di desa, sekolah, dan perguruan tinggi, harga diri seseorang itu karena ilmunya, pribadinya, dan kontribusinya pada masyarakat banyak.

Bukan pada gaya hidupnya yang menjadikan materi dan pangkat sebagai topeng pemanis diri dan pendongkrak status sosial. Naiknya seseorang dalam jabatan dan kekayaan ternyata tidak selalu dibarengi dengan semakin dewasanya dalam memaknai, menjalani, dan menghayati kehidupan agar semakin otentik.(*)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia, Jumat, 9 Juli 2010

Penulis adalah Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta