Membaca Model Komunikasi Gus Dur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Satu hal lain yang menarik dari sosok Gus Dur sebagai tokoh sekaligus aktor politik sangat berpengaruh di ranah politik Indonesia kontemporer adalah model komunikasi politik yang dipraktikkannya. Gus Dur ibarat oase di tengah gersanganya komunikasi para elit negeri ini. Di saat kebanyakan elit politik kita nyaris seragam didominasi oleh budaya high context culture yang ditandai dengan politik harmoni, Gus Dur justru kerapkali hadir dengan gayanya yang di luar mainstream. Banyak pesan yang diproduksi Gus Dur, menghadirkan kedalaman wacana dan mengundang minat untuk menjadi perbincangan publik. Komunikasi penuh warna ala Gus Dur tidak sekedar memenuhi formalitas kehadiran sang tokoh di ranah publik, melainkan juga kaya dengan bahan diskursus mulai dari warung kopi hingga kajian ilmiah di berbagai kampus maupun pusat-pusat studi.

Model Interaksional

Model komunikasi pertama yang dominan dipraktikkan Gus Dur adalah model interaksional. Model ini, menempatkan diri komunikator dalam posisi sejajar dengan komunikator lain sehingga terjadi interplay yang demokratis dalam kuadran komunikasi saling memberi dan menerima. Dia tidak alergi untuk bertemu banyak orang, mendengar dan membangun kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan orang atau kekuatan politik yang pernah bersebrangan dengannya.

Membaca Gus Dur ibarat skenario cerita yang diwarnai oleh interaksi aktor di banyak kejadian tidak terduga. Hal ini pula, yang membuka peluang bagi munculnya multitafsir atas berbagai gaya yang ditampilkan Gus Dur. Misalnya, pada Pemilu 2004 tidak ada yang mengira Gus Dur akan membangun komunikasi politik secara intensif dengan Partai Golkar dan Wiranto. Siapapun tahu, bahwa Gus Dur sempat disakiti oleh Partai Golkar terutama saat dirinya dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden RI. Begitu juga dengan Wiranto, di antara keduanya pernah mengalami ketidakcocokan. Sewaktu menjadi Presiden, Gus Dur dengan berani memberhentikan Wiranto dari jajaran kabinetnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaannya dengan Golkar dan Wiranto tidak lantas membuat Gus Dur bersikap kaku dalam berkomunikasi politik.

Sikap politik Gus Dur yang lentur, menjadikan dirinya sebagai kekuatan yang selalu diperhitungkan oleh siapapun. Pada Pemilu 2004, saat dirinya tidak lolos menjadi calon presiden akibat persyaratan yang dibuat KPU, Gus Dur memilih untuk Golput. Secara bersamaan dia juga merestui pasangan Wiranto-Solahuddin untuk didukung kaum Nahdliyin.

Dengan tegas Gus Dur menyatakan tidak akan bekerjasama dengan Megawati karena dianggap telah melakukan kesalahan konstitusional. Namun, lagi-lagi Gus Dur melakukan hal yang tak terduga. Setelah Pilpres putaran pertama yang berlangsung 5 Juli 2004 menempatkan SBY-JK dan Megawati-Hasyim sebagai pasangan kandidat yang akan maju ke putaran ke dua, Gus Dur dengan sangat santai kembali bertemu dan berdialog dengan Megawati. Begitupun sikapnya terhadap tokoh-tokoh lain seperti Amien Rais dan SBY. Meski kerapkali bersebrangan dan saling mengkritik, secara pribadi Gus Dur tetap bisa berhubungan baik dengan kedua tokoh ini.

Model interaksional juga dipraktikkan Gus Dur dalam membangun semangat pularisme dan multikulturalisme. Dia membangun komunikasi yang harmonis dengan banyak tokoh dan komunitas lintas agama, lintas etnis bahkan lintas ideologi. Melindungi kelompok minoritas tidak hanya dalam retorika tetapi juga dalam berbagai aktivitas dan kebijakan nyata baik saat dia di luar maupun di dalam kekuasaan. Tidak banyak tokoh muslim kontemporer yang mampu menjembatani pluralisme di level aksi, terlebih di hal-hal tertentu yang kontroversial dan bertentangan dengan mainstream.

Gus Dur telah sukses mengomunikasikan ajaran Islam damai dan rahmat bagi semesta alam dalam sebuah pemahaman bersama (mutual understanding) melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di tengah menguatnya radikalisme atas nama agama termasuk jaringan terorisme yang kian aktual di Indonesia dan dunia, Gus Dur tidak bosan-bosanya memerankan diri sebagai pembawa pesan bahwa inklusivisme Islam adalah keharusan.

Model Transaksional

Satu hal lagi yang tidak bisa kita nafikan saat membaca komunikasi politik Gus Dur adalah model transaksional. Gus Dur adalah satu diantara aktor politik yang banyak memberi pelajaran berharga mengenai bagaimana seharusnya kita menegosiasikan ide, gagasan, pemikiran dan tindakan sosial politik kita di tengah lingkungan yang kian kompetitif. Gus Dur kerap membuka diskursus di media massa tentang banyak hal, termasuk yang oleh sebagian orang dianggap sebagai isu sensitif.

Bagi Gus Dur, mengkritik dan bersikap oposan terhadap orang dan kelompok tertentu yang dianggap menyeleweng adalah hal yang lumrah, meski terhadap kelompok mayoritas sekalipun. Kita tentu ingat, bagaimana kegigihan Gus Dur memperjuangan demokratisasi meski harus berhadapan dengan tembok kekuasaan Orde Baru. Melalui berbagai ceramah, tulisan, sentilan joke dan lain-lain Gus Dur menjadi salah satu pengkritik utama pemerintahan Soeharto.

Secara Secara umum ada dua kecenderungan komunikasi yang dilakukan Gus Dur dalam mengimplementasikan model transaksional ini. Pertama, kebiasaan Gus Dur memproduksi pesan politik yang mengharuskan penerima pesan mengurai sendiri substansi maknanya. Komunikan harus menduga dan memberi tafsir, daripada menangkap penjelasan maknanya secara langsung. Misalnya beberapa tahun lalu, Gus Dur menyebut inisial “ES” sebagai dalang kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat di tanah air. Sebuah upaya mengalihkan sekaligus meminimalisir konflik horisontal di masyarakat yang kian eskalatif dan membahayakan ratusan nyawa, ke konflik di level elit.

Kedua, kebiasaan Gus Dur untuk membawa ranah perdebatan pada topik-topik dan kebijakan kontroversial. Misalnya saat Gus Dur melindungi Ahmadiyah, berbagai cercaan dan perdebatan mengemuka. Di berbagai kesempatan, Gus Dur justru tampil konsisten dan berani berdebat mengapa kelompok Ahmadiyah layak dia dibela.

Ide besar yang selalu diusung Gus Dur selama ini adalah proses demokratisasi di Indonesia yang sedang mengalami peralihan. Sehingga kalau kita perhatikan, Gus Dur sebisa mungkin selalu membuat berbagai dikursus di ruang publik untuk menjelaskan aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan konsolidasi demokrasi di negeri ini. Komunikasi politik Gus Dur menekankan pada pengordinasian tata nilai politik yang diinginkan, sehingga mencapai tingkat kesepahaman yang tinggi antar elemen bangsa.

Hingga saat ini, masih banyak orang yang tidak bisa menangkap metakomunikasi dari pesan yang disampaikan dan diartikulasikan  oleh Gus Dur. Sehingga, bagi yang tak mengenal sosok Gus Dur secara baik, akan muncul asumsi bahwa dia adalah simbol ketidakkonsistenan. Gus Dur memang identik dengan gaya komunikasi verbal agresif. Hal ini bisa diamati dari kebiasaanya menyerang ide, keyakinan, ego atau konsep diri dimana argumen bernalar, namun demikian biasanya Gus Dur melakukan ini dengan pertimbangan nilai luhur.  Misalnya, karena Gus Dur harus melindungi kelompok minoritas yang terancam, mengalihkan konflik di tingkat akar rumput ke konflik elit, atau saat dibutuhkan terapi kejut bagi orang dan kekuatan politik tertentu yang tidak lagi memerhatikan etika dan aturan politik yang disepakati.

Gus Dur adalah sebuah fenomena, tokoh dengan sejuta makna dari komunikasi politik yang telah dicatatkannya dalam perjalanan negeri ini. Giliran kita memaknai fenomena tersebut, hingga kita memahami substansi pesan di balik komunikasi yang telah disumbangkan Gus Dur untuk rakyat di negeri ini.

Tulisan ini telah dimuat di Harian Jogja, Jum’at 8 Januari 2010

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik di UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute.

Membaca Model Komunikasi Gus Dur

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Satu hal lain yang menarik dari sosok Gus Dur sebagai tokoh sekaligus aktor politik sangat berpengaruh di ranah politik Indonesia kontemporer adalah model komunikasi politik yang dipraktikkannya. Gus Dur ibarat oase di tengah gersanganya komunikasi para elit negeri ini. Di saat kebanyakan elit politik kita nyaris seragam didominasi oleh budaya high context culture yang ditandai dengan politik harmoni, Gus Dur justru kerapkali hadir dengan gayanya yang di luar mainstream. Banyak pesan yang diproduksi Gus Dur, menghadirkan kedalaman wacana dan mengundang minat untuk menjadi perbincangan publik. Komunikasi penuh warna ala Gus Dur tidak sekedar memenuhi formalitas kehadiran sang tokoh di ranah publik, melainkan juga kaya dengan bahan diskursus mulai dari warung kopi hingga kajian ilmiah di berbagai kampus maupun pusat-pusat studi.

Model Interaksional

Model komunikasi pertama yang dominan dipraktikkan Gus Dur adalah model interaksional. Model ini, menempatkan diri komunikator dalam posisi sejajar dengan komunikator lain sehingga terjadi interplay yang demokratis dalam kuadran komunikasi saling memberi dan menerima. Dia tidak alergi untuk bertemu banyak orang, mendengar dan membangun kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan orang atau kekuatan politik yang pernah bersebrangan dengannya.

Membaca Gus Dur ibarat skenario cerita yang diwarnai oleh interaksi aktor di banyak kejadian tidak terduga. Hal ini pula, yang membuka peluang bagi munculnya multitafsir atas berbagai gaya yang ditampilkan Gus Dur. Misalnya, pada Pemilu 2004 tidak ada yang mengira Gus Dur akan membangun komunikasi politik secara intensif dengan Partai Golkar dan Wiranto. Siapapun tahu, bahwa Gus Dur sempat disakiti oleh Partai Golkar terutama saat dirinya dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden RI. Begitu juga dengan Wiranto, di antara keduanya pernah mengalami ketidakcocokan. Sewaktu menjadi Presiden, Gus Dur dengan berani memberhentikan Wiranto dari jajaran kabinetnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaannya dengan Golkar dan Wiranto tidak lantas membuat Gus Dur bersikap kaku dalam berkomunikasi politik.

Sikap politik Gus Dur yang lentur, menjadikan dirinya sebagai kekuatan yang selalu diperhitungkan oleh siapapun. Pada Pemilu 2004, saat dirinya tidak lolos menjadi calon presiden akibat persyaratan yang dibuat KPU, Gus Dur memilih untuk Golput. Secara bersamaan dia juga merestui pasangan Wiranto-Solahuddin untuk didukung kaum Nahdliyin.

Dengan tegas Gus Dur menyatakan tidak akan bekerjasama dengan Megawati karena dianggap telah melakukan kesalahan konstitusional. Namun, lagi-lagi Gus Dur melakukan hal yang tak terduga. Setelah Pilpres putaran pertama yang berlangsung 5 Juli 2004 menempatkan SBY-JK dan Megawati-Hasyim sebagai pasangan kandidat yang akan maju ke putaran ke dua, Gus Dur dengan sangat santai kembali bertemu dan berdialog dengan Megawati. Begitupun sikapnya terhadap tokoh-tokoh lain seperti Amien Rais dan SBY. Meski kerapkali bersebrangan dan saling mengkritik, secara pribadi Gus Dur tetap bisa berhubungan baik dengan kedua tokoh ini.

Model interaksional juga dipraktikkan Gus Dur dalam membangun semangat pularisme dan multikulturalisme. Dia membangun komunikasi yang harmonis dengan banyak tokoh dan komunitas lintas agama, lintas etnis bahkan lintas ideologi. Melindungi kelompok minoritas tidak hanya dalam retorika tetapi juga dalam berbagai aktivitas dan kebijakan nyata baik saat dia di luar maupun di dalam kekuasaan. Tidak banyak tokoh muslim kontemporer yang mampu menjembatani pluralisme di level aksi, terlebih di hal-hal tertentu yang kontroversial dan bertentangan dengan mainstream.

Gus Dur telah sukses mengomunikasikan ajaran Islam damai dan rahmat bagi semesta alam dalam sebuah pemahaman bersama (mutual understanding) melalui penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Di tengah menguatnya radikalisme atas nama agama termasuk jaringan terorisme yang kian aktual di Indonesia dan dunia, Gus Dur tidak bosan-bosanya memerankan diri sebagai pembawa pesan bahwa inklusivisme Islam adalah keharusan.

Model Transaksional

Satu hal lagi yang tidak bisa kita nafikan saat membaca komunikasi politik Gus Dur adalah model transaksional. Gus Dur adalah satu diantara aktor politik yang banyak memberi pelajaran berharga mengenai bagaimana seharusnya kita menegosiasikan ide, gagasan, pemikiran dan tindakan sosial politik kita di tengah lingkungan yang kian kompetitif. Gus Dur kerap membuka diskursus di media massa tentang banyak hal, termasuk yang oleh sebagian orang dianggap sebagai isu sensitif.

Bagi Gus Dur, mengkritik dan bersikap oposan terhadap orang dan kelompok tertentu yang dianggap menyeleweng adalah hal yang lumrah, meski terhadap kelompok mayoritas sekalipun. Kita tentu ingat, bagaimana kegigihan Gus Dur memperjuangan demokratisasi meski harus berhadapan dengan tembok kekuasaan Orde Baru. Melalui berbagai ceramah, tulisan, sentilan joke dan lain-lain Gus Dur menjadi salah satu pengkritik utama pemerintahan Soeharto.

Secara Secara umum ada dua kecenderungan komunikasi yang dilakukan Gus Dur dalam mengimplementasikan model transaksional ini. Pertama, kebiasaan Gus Dur memproduksi pesan politik yang mengharuskan penerima pesan mengurai sendiri substansi maknanya. Komunikan harus menduga dan memberi tafsir, daripada menangkap penjelasan maknanya secara langsung. Misalnya beberapa tahun lalu, Gus Dur menyebut inisial “ES” sebagai dalang kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat di tanah air. Sebuah upaya mengalihkan sekaligus meminimalisir konflik horisontal di masyarakat yang kian eskalatif dan membahayakan ratusan nyawa, ke konflik di level elit.

Kedua, kebiasaan Gus Dur untuk membawa ranah perdebatan pada topik-topik dan kebijakan kontroversial. Misalnya saat Gus Dur melindungi Ahmadiyah, berbagai cercaan dan perdebatan mengemuka. Di berbagai kesempatan, Gus Dur justru tampil konsisten dan berani berdebat mengapa kelompok Ahmadiyah layak dia dibela.

Ide besar yang selalu diusung Gus Dur selama ini adalah proses demokratisasi di Indonesia yang sedang mengalami peralihan. Sehingga kalau kita perhatikan, Gus Dur sebisa mungkin selalu membuat berbagai dikursus di ruang publik untuk menjelaskan aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan konsolidasi demokrasi di negeri ini. Komunikasi politik Gus Dur menekankan pada pengordinasian tata nilai politik yang diinginkan, sehingga mencapai tingkat kesepahaman yang tinggi antar elemen bangsa.

Hingga saat ini, masih banyak orang yang tidak bisa menangkap metakomunikasi dari pesan yang disampaikan dan diartikulasikan  oleh Gus Dur. Sehingga, bagi yang tak mengenal sosok Gus Dur secara baik, akan muncul asumsi bahwa dia adalah simbol ketidakkonsistenan. Gus Dur memang identik dengan gaya komunikasi verbal agresif. Hal ini bisa diamati dari kebiasaanya menyerang ide, keyakinan, ego atau konsep diri dimana argumen bernalar, namun demikian biasanya Gus Dur melakukan ini dengan pertimbangan nilai luhur.  Misalnya, karena Gus Dur harus melindungi kelompok minoritas yang terancam, mengalihkan konflik di tingkat akar rumput ke konflik elit, atau saat dibutuhkan terapi kejut bagi orang dan kekuatan politik tertentu yang tidak lagi memerhatikan etika dan aturan politik yang disepakati.

Gus Dur adalah sebuah fenomena, tokoh dengan sejuta makna dari komunikasi politik yang telah dicatatkannya dalam perjalanan negeri ini. Giliran kita memaknai fenomena tersebut, hingga kita memahami substansi pesan di balik komunikasi yang telah disumbangkan Gus Dur untuk rakyat di negeri ini.

Tulisan ini telah dimuat di Harian Jogja, Jum’at 8 Januari 2010

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik di UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute.