Membaca Ayat-Ayat Tuhan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Salah satu jalan untuk menelusuri jejak kehadiran dan karya Tuhan adalah melalui kitab suci (kitabiyah). Bagi umat Islam tentu saja Alquran. Namun, Alquran menunjuk paling tidak ada tiga macam ayat Tuhan yang mesti dibaca dan dikaji, yaitu ayat-ayat kauniyah berupa hamparan alam semesta ini.

Keindahan dan kebesaran semesta ini tandatanda keindahan dan kebesaran Sang Penciptanya. Lainnya lagi Alquran juga menyatakan, ayat Tuhan itu tertulis dalam diri manusia (nafsiyah) yang kadang disebut mikro kosmos atau jagat cilik. Dalam diri manusia terdapat keunikan luar biasa, yang tak pernah habis-habisnya digali oleh berbagai disiplin ilmu. Puluhan ilmu pengetahuan menempatkan manusia sebagai objek kajiannya dan selalu saja berkembang dari waktu ke waktu serta memperoleh temuan baru, khususnya dalam bidang neurologi dan biomolekuler.

Satu lagi ayat-ayat kebesaran Tuhan yang terlihat dalam peristiwa-peristiwa sejarah(tarikhiyah). Berulangkali Alquran menyuruh umat Islam agar mempelajari sejarah untuk mengetahui perjalanan pasang surut sebuah bangsa. Kekuasaan Allah akan terlihat dalam peristiwaperistiwa sejarah bagi mereka yang mempelajarinya dengan melibatkan mata hati (bashirah). Empat macam ayat-ayat Tuhan tersebut saling menafsirkan, menjelaskan, dan menguatkan yang satu terhadap yang lain.

Di situlah salah satu keunikan Alquran, dirinya menyuruh agar umat Islam tidak berhenti membaca lembaran-lembaran Alquran, tapi juga mempelajari sains yang tersimpan dan tertulis di alam semesta untuk membuka dan mengetahui pesan dan kebenaran ayatayat kitabiyah, kauniyah, nafsiyah,dan tarikhiyah. Dengan demikian, bagi umat Islam, tak ada hambatan mencari ilmu pengetahuan di mana pun dan kepada siapa pun karena semua ilmu itu sumbernya dari Allah.

Kalaupun terjadi konflik antara bangsa dan umat beragama, biasanya bukan bersumber dari ilmu pengetahuan, melainkan dari dahaga dan ambisi politik serta kekuasaan. Mereka yang mendalami ilmu kedokteran dan Alquran akan sangat mudah mempertemukan atau mengintegrasikan statement kitab suci serta proses kejadian dan pertumbuhan janin. Belakangan ini bahkan ditemukan data kuantitatif yang paralel antara jumlah kata daratan dan lautan dalam Alquran berbanding sama dengan luasnya lautan dan daratan pada planet Bumi ini.

Atau pernyataan Alquran bahwa di dalam lautan terdapat pulung dengan air tawar yang jernih dan segar membuat beberapa peneliti terkaget-kaget, bagaimana bisa Alquran yang terhimpun di abad ke-6 dan Muhammad (SAW) yang hidup di padang pasir mampu membuat pernyataan demikian. Demikianlah, kemukjizatan Alquran sebagai kitab tertulis memang merupakan konsumsi dan objek penalaran, bukan mukjizat yang menantang penglihatan sebagaimana mukjizat para rasul sebelumnya.

Konsekuensi dari mukjizat kitabiyah adalah mendorong riset dan tafsiran atas kehendak Tuhan yang tersimpan di dalam teks. Maka itu, salah satu ciri budaya Islam adalah budaya teks. Alquran ditafsirkan oleh Hadits yaitu teks himpunan sabda Rasul Muhammad, sementara Alquran dan Hadits ditafsirkan terus-menerus oleh para ulama sehingga melahirkan sekian banyak mazhab.

Dalam bidang teologi, filsafat, tasawuf, fikih, politik, semuanya terdapat mazhab (school of thought) sebagai produk penafsiran atas ayat-ayat kitabiyah dan ayat tarikhiyah. Semua mazhab itu menunjukkan kekayaan, kebebasan, dan kreativitas ulama dalam upaya memahami pesan ayatayat Tuhan yang tumbuh dalam dunia Islam. Mereka sepakat pada sumber pokok ajaran Islam yaitu Alquran yang mengajarkan tauhid, namun berbeda tafsiran ketika menyangkut kontekstualisasi mengingat perbedaan zaman dan ruang serta masyarakat yang dihadapi.

Ketika umat Islam berkembang di daerah masyarakat bahari yang banyak tinggal di lautan atau sebagian umat Islam yang hidupnya lebih banyak melakukan penerbangan dari negara yang satu ke negara lain tentu kitab fikih yang disusun penduduk daratan di wilayah padang pasir dalam beberapa hal tidak cocok. Misalnya dalam hal bagaimana menentukan waktu salat dan puasa.

Begitupun fikih politik dalam sebuah negara kesultanan Islam, sistem republik seperti di Indonesia, atau pemerintahan sekuler seperti di Barat diperlukan tafsiran kontekstual terhadap ayat-ayat kitabiyah dan tarikhiyah. Karena namanya ijtihad dan tafsiran, hasilnya tidak absolut, namun merupakan usaha optimal berdasarkan nalar dan ayat-ayat Tuhan untuk meraih kebenaran.

Mengingat begitu beragam cabang ilmu dan begitu banyak intelektual dan ulama, sangat logis lalu muncul beragam pendapat. Itu sebuah kewajaran dari dinamika ilmu dan sosial. Bisa dimaklumi kalau masyarakat awam kadang menjadi bingung mau memilih pendapat yang mana. Belum lagi kadang terjadi perdebatan yang kurang bijak dari sebagian orang yang mengaku ulama untuk memaksakan kehendaknya sehingga membuat masyarakat semakin bingung.

Semua itu pada urutannya akan memperkaya khazanah pengalaman dan pengetahuan sejarah bagaimana manusia membaca ayat-ayat Tuhan untuk mendapatkan kebenaran dan memantapkan iman.