Memahami Islam di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

Banyak kalangan Barat merasa semakin perlu memahami Islam di Indonesia atau yang juga disebut sebagai Islam Indonesia. Dorongan dan keperluan itu disebabkan kian dikenalnya Indonesia sebagai negara paling banyak memiliki penduduk beragama Islam. Bahkan, sering juga Indonesia disebut sebagai negara Muslim terbesar di dunia Islam. Kenyataannya, Indonesia dalam 10 tahun terakhir juga merupakan negara demokrasi terbesar di muka bumi setelah India dan AS. Hal tersebut memperkuat dorongan untuk lebih memahami Islam di negeri ini.

Dalam konteks itu, Robert Pringle, seorang Amerika yang pernah bertugas sebagai diplomat pada awal 1970-an di Indonesia, menjadi contoh terakhir lewat karyanya Understanding Islam in Indonesia: Politics and Diversity (Singapore: Editions Didier Millet, 2010). Meski Pringle dalam karyanya ini memakai istilah ‘Islam in Indonesia’, ia juga menggunakan istilah ‘Islam Indonesia’ secara bergantian. Istilah terakhir ini mengisyaratkan, dia melihat distingsi Islam Indonesia yang khas, khususnya dalam politik dan keragaman [budaya], yang tidak ditemukan di tempat-tempat lain di dunia Muslim.

Sebenarnya, banyak orang asing, baik akademisi, diplomat, maupun masyarakat umumnya, bahkan masyarakat Indonesia sendiri, tidak memahami Islam Indonesia dengan baik dan akurat. Hal seperti itu disimpulkan dalam buku tersebut, Persepsi-persepsi populer tentang Islam di negara mayoritas Muslim terbesar [di muka bumi] mencerminkan stereotipe yang saling bertentangan. Sebagian orang melihatnya sebagai mistikal dan jinak. Sebagian lainnya ketakutan karena [bagi mereka] para ekstremis Islam telah berada pada jalan untuk mendominasi demokrasi Indonesia yang tengah bergulat.

Bagi Pringle, orang harus melangkah ke luar dari persepsi-persepsi stereotipe dan berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia dewasa ini. Untuk itu, orang perlu mengetahui berbagai aspek masyarakat Indonesia dan khususnya tentang peristiwa-peristiwa historis tertentu yang memiliki kekuatan penjelasan. Untuk kepentingan itu, Pringle berusaha mengungkapkan perjalanan historis Islam Indonesia yang begitu panjang, sejak kedatangan dan penyebaran Islam di kawasan ini, masa penjajahan Belanda dan Jepang, sampai masa presiden Soekarno, Soeharto, dan dinamika terkini.

Dalam kurun begitu panjang, perjalanan Islam Indonesia dalam politik penuh berbagai peristiwa tidak selalu menyenangkan dan traumatik, yang memengaruhi secara signifikan aktualisasi Islam politik.

Pengalaman traumatik itu terjadi tidak hanya pada masa Belanda, tetapi juga masa menjelang dan setelah kemerdekaan. Memang, dalam waktu relatif pendek, pada masa Jepang, para pemimpin Muslim terekrut ke dalam pergumulan politik. Namun, kemudian, terkesampingkan oleh para pemimpin lain yang biasa disebut sebagai nasionalis yang secara tipikal diwakili Soekarno. Pada masa terakhir ini, Pringle menemukan akar-akar marginalisasi Islam sejak dari penghapusan Piagam Jakarta dari Pembukaan UUD 1945, tersudutnya Islam karena pemberontakan DI/TII, sampai kegagalan partai-partai Islam mendapatkan suara mayoritas dalam Pemilu 1955: [partai] NU, Masyumi, dan PSII hanya mampu mendapatkan suara 42 persen.

Dalam masa presiden Soeharto, Islam politik bukan hanya mengalami marginalisasi. Pringle lebih jauh lagi menggunakan ungkapan ‘Islam ditindas’ yang berujung pada ‘lenyapnya’ Islam politik. Akan tetapi, justru di tengah situasi ini, Islam yang biasa disebut sebagai Islam kultural mengalami kebangkitan. Dalam pengamatan Pringle, Islam mengalami ekspansi luar biasa berkat pertumbuhan ekonomi, yang menimbulkan perubahan sangat cepat dan berdampak panjang dalam bidang sosial, kultural, dan keagamaan. Hasilnya, menjelang jatuhnya pemerintahan presiden Soeharto, berbagai lembaga baru Islam lengkap dengan gaya dan praktik baru Islam pun juga merebak sampai ke tingkat yang tidak bisa dimundurkan lagi.

Maka, kerangka Gertzian yang sangat disukai banyak kalangan Indonesianis yang membelah kaum Muslim menjadi ‘santri’ dan ‘abangan’ menjadi tidak relevan lagi. Bagi Pringle, kerangka ini justru bertanggung jawab atas terjadinya distorsi dalam memahami Islam Indonesia. Kategori Muslim abangan yang misalnya dilekatkan kepada para petani Jawa tidak lagi eksis dalam kehidupan keagamaan. Mereka telah tersapu peningkatan kesalehan Islam, tulis Pringle.

Pringle memang tidak memiliki pretensi untuk menulis karya yang murni akademis; tetapi sebaliknya lebih populer, tanpa harus kehilangan makna ilmiahnya. Bagi saya, pendekatan Pringle ini memiliki kekuatan tertentu: karya menjadi lebih mudah dibaca meski mengandung argumen-argumen yang dapat melibatkan diskusi dan perdebatan akademis intens, yang tentu saja sangat rumit.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 15 April 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Memahami Islam di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh Azyumardi Azra

Banyak kalangan Barat merasa semakin perlu memahami Islam di Indonesia atau yang juga disebut sebagai Islam Indonesia. Dorongan dan keperluan itu disebabkan kian dikenalnya Indonesia sebagai negara paling banyak memiliki penduduk beragama Islam. Bahkan, sering juga Indonesia disebut sebagai negara Muslim terbesar di dunia Islam. Kenyataannya, Indonesia dalam 10 tahun terakhir juga merupakan negara demokrasi terbesar di muka bumi setelah India dan AS. Hal tersebut memperkuat dorongan untuk lebih memahami Islam di negeri ini.

Dalam konteks itu, Robert Pringle, seorang Amerika yang pernah bertugas sebagai diplomat pada awal 1970-an di Indonesia, menjadi contoh terakhir lewat karyanya Understanding Islam in Indonesia: Politics and Diversity (Singapore: Editions Didier Millet, 2010). Meski Pringle dalam karyanya ini memakai istilah ‘Islam in Indonesia’, ia juga menggunakan istilah ‘Islam Indonesia’ secara bergantian. Istilah terakhir ini mengisyaratkan, dia melihat distingsi Islam Indonesia yang khas, khususnya dalam politik dan keragaman [budaya], yang tidak ditemukan di tempat-tempat lain di dunia Muslim.

Sebenarnya, banyak orang asing, baik akademisi, diplomat, maupun masyarakat umumnya, bahkan masyarakat Indonesia sendiri, tidak memahami Islam Indonesia dengan baik dan akurat. Hal seperti itu disimpulkan dalam buku tersebut, Persepsi-persepsi populer tentang Islam di negara mayoritas Muslim terbesar [di muka bumi] mencerminkan stereotipe yang saling bertentangan. Sebagian orang melihatnya sebagai mistikal dan jinak. Sebagian lainnya ketakutan karena [bagi mereka] para ekstremis Islam telah berada pada jalan untuk mendominasi demokrasi Indonesia yang tengah bergulat.

Bagi Pringle, orang harus melangkah ke luar dari persepsi-persepsi stereotipe dan berusaha memahami apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia dewasa ini. Untuk itu, orang perlu mengetahui berbagai aspek masyarakat Indonesia dan khususnya tentang peristiwa-peristiwa historis tertentu yang memiliki kekuatan penjelasan. Untuk kepentingan itu, Pringle berusaha mengungkapkan perjalanan historis Islam Indonesia yang begitu panjang, sejak kedatangan dan penyebaran Islam di kawasan ini, masa penjajahan Belanda dan Jepang, sampai masa presiden Soekarno, Soeharto, dan dinamika terkini.

Dalam kurun begitu panjang, perjalanan Islam Indonesia dalam politik penuh berbagai peristiwa tidak selalu menyenangkan dan traumatik, yang memengaruhi secara signifikan aktualisasi Islam politik.

Pengalaman traumatik itu terjadi tidak hanya pada masa Belanda, tetapi juga masa menjelang dan setelah kemerdekaan. Memang, dalam waktu relatif pendek, pada masa Jepang, para pemimpin Muslim terekrut ke dalam pergumulan politik. Namun, kemudian, terkesampingkan oleh para pemimpin lain yang biasa disebut sebagai nasionalis yang secara tipikal diwakili Soekarno. Pada masa terakhir ini, Pringle menemukan akar-akar marginalisasi Islam sejak dari penghapusan Piagam Jakarta dari Pembukaan UUD 1945, tersudutnya Islam karena pemberontakan DI/TII, sampai kegagalan partai-partai Islam mendapatkan suara mayoritas dalam Pemilu 1955: [partai] NU, Masyumi, dan PSII hanya mampu mendapatkan suara 42 persen.

Dalam masa presiden Soeharto, Islam politik bukan hanya mengalami marginalisasi. Pringle lebih jauh lagi menggunakan ungkapan ‘Islam ditindas’ yang berujung pada ‘lenyapnya’ Islam politik. Akan tetapi, justru di tengah situasi ini, Islam yang biasa disebut sebagai Islam kultural mengalami kebangkitan. Dalam pengamatan Pringle, Islam mengalami ekspansi luar biasa berkat pertumbuhan ekonomi, yang menimbulkan perubahan sangat cepat dan berdampak panjang dalam bidang sosial, kultural, dan keagamaan. Hasilnya, menjelang jatuhnya pemerintahan presiden Soeharto, berbagai lembaga baru Islam lengkap dengan gaya dan praktik baru Islam pun juga merebak sampai ke tingkat yang tidak bisa dimundurkan lagi.

Maka, kerangka Gertzian yang sangat disukai banyak kalangan Indonesianis yang membelah kaum Muslim menjadi ‘santri’ dan ‘abangan’ menjadi tidak relevan lagi. Bagi Pringle, kerangka ini justru bertanggung jawab atas terjadinya distorsi dalam memahami Islam Indonesia. Kategori Muslim abangan yang misalnya dilekatkan kepada para petani Jawa tidak lagi eksis dalam kehidupan keagamaan. Mereka telah tersapu peningkatan kesalehan Islam, tulis Pringle.

Pringle memang tidak memiliki pretensi untuk menulis karya yang murni akademis; tetapi sebaliknya lebih populer, tanpa harus kehilangan makna ilmiahnya. Bagi saya, pendekatan Pringle ini memiliki kekuatan tertentu: karya menjadi lebih mudah dibaca meski mengandung argumen-argumen yang dapat melibatkan diskusi dan perdebatan akademis intens, yang tentu saja sangat rumit.

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 15 April 2010

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta