Memaafkan Kunci Ketenangan Hidup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Elly Afriani

 

Aula Madya, UINJKT Online — Memaafkan memang mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Tapi dengan memaafkan berarti memutuskan masa lalu yang kurang baik, untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

 

Dosen pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Ichsan Malik, menambahkan pernyataannya dengan kalimat yang dipopulerkan oleh Rohaniwan Afrika Selatan Desmond Tutu “No future without forgiveness”.

 

”Dengan memaafkan terjadi perubahan mental dari mental seorang korban menjadi mental seorang survivor,” jelas Ichsan Malik pada Studium General Fakutas Psikologi bertajuk Forgiveness Sebagai Salah Satu Terapi Psikologis di Aula Madya, Selasa (16/12).

 

Mental terdiri dari tiga tahap, tahap pertama mental korban (victim), tahap kedua mental survivor dan tahap ketiga mental leader.

 

Seseorang yang memiliki mental korban, akan selalu mengingat kesalahan orang lain terhadap dirinya. Mereka akan terus menderita mengingat penderitaannya yang diakibatkan orang lain.

 

Sementara, orang yang bermental survivor akan menolong diri sendiri dari rasa marah dan memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang bermental leader, selain menolong dirinya sendiri dan mudah memaafkan orang lain, tapi juga akan menolong dirinya.

 

Ada lima reaksi atas peristiwa traumatik, terkejut atau penyangkalan, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan penerimaan.

 

Selain itu, untuk bisa memaafkan orang lain dan menjadikan sikap itu permanen ada lima tahap yang dilalui. Pertama, mungkin belum ada niat untuk berubah. Selanjutnya, mulai berpikir serius untuk berubah. Lalu, pernyataan komitmen untuk berubah. Selanjutnya, kreasi baru untuk melakukan perubahan. Dan terakhir, lahirnya perilaku yang menetap. [Nif/Ed]

Memaafkan Kunci Ketenangan Hidup

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Elly Afriani

 

Aula Madya, UINJKT Online — Memaafkan memang mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Tapi dengan memaafkan berarti memutuskan masa lalu yang kurang baik, untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.

 

Dosen pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Ichsan Malik, menambahkan pernyataannya dengan kalimat yang dipopulerkan oleh Rohaniwan Afrika Selatan Desmond Tutu “No future without forgiveness”.

 

”Dengan memaafkan terjadi perubahan mental dari mental seorang korban menjadi mental seorang survivor,” jelas Ichsan Malik pada Studium General Fakutas Psikologi bertajuk Forgiveness Sebagai Salah Satu Terapi Psikologis di Aula Madya, Selasa (16/12).

 

Mental terdiri dari tiga tahap, tahap pertama mental korban (victim), tahap kedua mental survivor dan tahap ketiga mental leader.

 

Seseorang yang memiliki mental korban, akan selalu mengingat kesalahan orang lain terhadap dirinya. Mereka akan terus menderita mengingat penderitaannya yang diakibatkan orang lain.

 

Sementara, orang yang bermental survivor akan menolong diri sendiri dari rasa marah dan memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang bermental leader, selain menolong dirinya sendiri dan mudah memaafkan orang lain, tapi juga akan menolong dirinya.

 

Ada lima reaksi atas peristiwa traumatik, terkejut atau penyangkalan, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan penerimaan.

 

Selain itu, untuk bisa memaafkan orang lain dan menjadikan sikap itu permanen ada lima tahap yang dilalui. Pertama, mungkin belum ada niat untuk berubah. Selanjutnya, mulai berpikir serius untuk berubah. Lalu, pernyataan komitmen untuk berubah. Selanjutnya, kreasi baru untuk melakukan perubahan. Dan terakhir, lahirnya perilaku yang menetap. [Nif/Ed]