Memaafkan Itu Mulia dan Menyehatkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

DARI pengamatan saya, ada pelajaran sangat menarik dari mereka yang usianya sudah lanjut,yaitu senang bersilaturahmi dan setiap ketemu teman lama saling memaafkan.

Mereka ingin sekali ketika suatu saat meninggalkan kampung dunia,lalu berpindah ke kampung akhirat, tidak lagi ada utangpiutang moral maupun material. Tradisi baik ini sangat disenangi Tuhan. Banyak ayat Alquran maupun Hadis yang memuji sikap pemaaf. Tuhan bahkan memiliki sifat pemaaf. Secara psikologis, saling memaafkan itu sehat dan menyehatkan. Yang mendapatkan keuntungan pertama dari sikap memaafkan adalah pihak yang memaafkan,bukan yang dimaafkan.

Ketika seseorang memaafkan orang yang dibenci, seketika itu juga beban emosinya berkurang. Berat-ringannya memaafkan orang itu berkaitan dengan besar-kecilnya rasa kesal atau dendam kita kepada seseorang. Semakin dalam rasa kekesalan,kebencian, dan permusuhan kita kepada seseorang, semakin berat kita untuk memaafkannya. Namun, kalau kita bisa memaafkan, muncul rasa lega dan dada terasa lapang.

Bukankah menyimpan rasa benci dan dendam merupakan beban di manapun kita berada? Rasa benci itu juga bagaikan luka. Bila kebencian sudah berubah menjadi dendam yang menuntut balas, luka itu semakin perih sebelum dendam itu terlaksana. Namun, ketika dendam terlaksana, benarkah luka dan beban berat yang dipikul ke mana-mana tadi akan hilang? Pengalaman seharihari akan mengatakan, “Tidak,” dan permusuhan akan meningkat, yang berarti semakin dalam kita menyayat kulit hati yang telah terluka dan perih tadi.

Jadi, bukankah sesungguhnya memaafkan itu suatu terapi jitu untuk kesehatan kita sendiri? Begitu kita memaafkan seseorang, beban berkurang, luka membaik. Bila benci serta dendam telah hilang sama sekali dari hati kita, kehidupan menjadi sehat dan ringan kita jalani. Orang yang memelihara kebencian dalam dirinya seperti orang yang memelihara penyakit.Itu sungguh suatu tindakan yang bodoh dan konyol. Kalau ingin sehat, jadilah pribadi pemaaf.

Jangan biarkan berlamalama dendam dan kebencian bersemayam di hati. Jangan segansegan mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf serta saling memaafkan setiap hari. Namun, mesti dijalani secara tulus agar hati kita terputihkan. Di Indonesia tradisi maaf memaafkan secara massal telah dilembagakan dalam acara Hari Raya Lebaran. Yang muda berkunjung kepada saudara ataupun tetangga yang lebih tua. Ini tradisi sangat bagus yang mesti dilestarikan dari generasi ke generasi.

Pesta Lebaran tidak saja peristiwa sosial budaya, tapi juga peristiwa spiritual sebagai acara syukuran sehabis menunaikan ibadah puasa. Lebaran juga memiliki aspek ekonomis. Bisa jadi banyak pedagang yang tidak berpuasa bahkan lebih banyak mengambil keuntungan ekonomi dari peristiwa Lebaran daripada mereka yang berpuasa. Lihat saja betapa ramainya pusat-pusat perbelanjaan pada hari-hari menjelang Lebaran. Dari sini sudah terlihat bahwa meskipun berpuasa Ramadan dikenakan pada umat Islam, orang lain juga mendapat rahmat dari ibadah puasa.

Mestinya sikap keberagamaan itu, di luar acara puasa dan Lebaran, senantiasa mendatangkan manfaat dan kedamaian bagi orang lain, apa pun agamanya. Ketika orang berpuasa sesungguhnya juga dilatih dan digembleng untuk menjadi orang yang jujur.Bukankah sikap jujur sangat dibutuhkan oleh profesi apa pun? Jadi, baik puasa maupun Lebaran sesungguhnya terkandung pesan dan perbaikan sosial.Antara lain untuk menumbuhkan dan mewujudkan solidaritas sosial sebagaimana diisyaratkan oleh perintah zakat fitrah.

Inti dan semangat zakat adalah menutupi jurang perbedaan kelas sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Jika tujuan sosial ini tercapai, ibadah seseorang telah berfungsi dalam kehidupan riil sehari-hari. Dalam kaitan itu kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan kepada orang-orang kota yang secara ekonomis telah sukses dan mereka pada waktu Lebaran pulang mudik adalah, mereka membawa berkah atau fitnah kepada orang desa?

Kalau pulang malah ternyata menimbulkan iri hati dan kecemburuan sosial, berarti Lebaran telah menimbulkan fitnah berupa keresahan psikologi bagi orang-orang kampung. Karena itu, barangkali bagi orang yang pulang kampung, kapan pun waktunya, bertingkahlah bijaksana dan simpatik sehingga Lebaran benar-benar membawa berkat, menimbulkan keakraban hati antara sesama sanak famili maupun kawan lama yang sudah sekian bulan atau tahun tidak berjumpa.

Inilah arti silaturahmi, yaitu silah berarti tali penghubung atau pengikat, rahmi artinya kasih sayang yang tulus. Nah, peristiwa Lebaran mestinya juga merupakan media penghubung dan bertatap muka secara fisik dan sekaligus antarhati sanubari yang dalam dan tulus. Dalam istilah agama Lebaran disebut Idul Fitri, yaitu suatu doa, cita, dan harapan bahwa mereka yang telah selesai menunaikan ibadah puasa dan kemudian saling memaafkan, suasana psikologis mereka menjadi bersih,ikhlas,dan lugas bagaikan bayi. Betapa indahnya perilaku bayi.

Apapun yang dilakukan serbaindah dan alami. Orang tua tak akan marah meskipun sang bayi kencing sewaktu dipondong. Mengapa begitu? Salah satu sebabnya adalah hati sang bayi terbebas dari rasa benci. Hatinya tulus dan segala perbuatannya serbalugas. Sementara orang tua pun begitu. Mereka selalu bersikap mencintai dan pemaaf kepada bayinya. Ketika bayi semakin besar, kalaupun orang tuanya kadang kala marah, itu bukan karena benci, tetapi karena cintanya yang diwujudkan dalam bentuk marah untuk mendidik anak.

Alangkah indahnya kalau saja dalam lingkungan keluarga dan pergaulan kita selalu terjalin hubungan cinta kasih yang tulus, yang satu selalu siap memaafkan yang lain. Pribadi yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta kasih biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat. Dan memaafkan itu cerminan kebesaran jiwa seseorang dan sekaligus mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.(*)

Memaafkan Itu Mulia dan Menyehatkan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

DARI pengamatan saya, ada pelajaran sangat menarik dari mereka yang usianya sudah lanjut,yaitu senang bersilaturahmi dan setiap ketemu teman lama saling memaafkan.

Mereka ingin sekali ketika suatu saat meninggalkan kampung dunia,lalu berpindah ke kampung akhirat, tidak lagi ada utangpiutang moral maupun material. Tradisi baik ini sangat disenangi Tuhan. Banyak ayat Alquran maupun Hadis yang memuji sikap pemaaf. Tuhan bahkan memiliki sifat pemaaf. Secara psikologis, saling memaafkan itu sehat dan menyehatkan. Yang mendapatkan keuntungan pertama dari sikap memaafkan adalah pihak yang memaafkan,bukan yang dimaafkan.

Ketika seseorang memaafkan orang yang dibenci, seketika itu juga beban emosinya berkurang. Berat-ringannya memaafkan orang itu berkaitan dengan besar-kecilnya rasa kesal atau dendam kita kepada seseorang. Semakin dalam rasa kekesalan,kebencian, dan permusuhan kita kepada seseorang, semakin berat kita untuk memaafkannya. Namun, kalau kita bisa memaafkan, muncul rasa lega dan dada terasa lapang.

Bukankah menyimpan rasa benci dan dendam merupakan beban di manapun kita berada? Rasa benci itu juga bagaikan luka. Bila kebencian sudah berubah menjadi dendam yang menuntut balas, luka itu semakin perih sebelum dendam itu terlaksana. Namun, ketika dendam terlaksana, benarkah luka dan beban berat yang dipikul ke mana-mana tadi akan hilang? Pengalaman seharihari akan mengatakan, “Tidak,” dan permusuhan akan meningkat, yang berarti semakin dalam kita menyayat kulit hati yang telah terluka dan perih tadi.

Jadi, bukankah sesungguhnya memaafkan itu suatu terapi jitu untuk kesehatan kita sendiri? Begitu kita memaafkan seseorang, beban berkurang, luka membaik. Bila benci serta dendam telah hilang sama sekali dari hati kita, kehidupan menjadi sehat dan ringan kita jalani. Orang yang memelihara kebencian dalam dirinya seperti orang yang memelihara penyakit.Itu sungguh suatu tindakan yang bodoh dan konyol. Kalau ingin sehat, jadilah pribadi pemaaf.

Jangan biarkan berlamalama dendam dan kebencian bersemayam di hati. Jangan segansegan mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf serta saling memaafkan setiap hari. Namun, mesti dijalani secara tulus agar hati kita terputihkan. Di Indonesia tradisi maaf memaafkan secara massal telah dilembagakan dalam acara Hari Raya Lebaran. Yang muda berkunjung kepada saudara ataupun tetangga yang lebih tua. Ini tradisi sangat bagus yang mesti dilestarikan dari generasi ke generasi.

Pesta Lebaran tidak saja peristiwa sosial budaya, tapi juga peristiwa spiritual sebagai acara syukuran sehabis menunaikan ibadah puasa. Lebaran juga memiliki aspek ekonomis. Bisa jadi banyak pedagang yang tidak berpuasa bahkan lebih banyak mengambil keuntungan ekonomi dari peristiwa Lebaran daripada mereka yang berpuasa. Lihat saja betapa ramainya pusat-pusat perbelanjaan pada hari-hari menjelang Lebaran. Dari sini sudah terlihat bahwa meskipun berpuasa Ramadan dikenakan pada umat Islam, orang lain juga mendapat rahmat dari ibadah puasa.

Mestinya sikap keberagamaan itu, di luar acara puasa dan Lebaran, senantiasa mendatangkan manfaat dan kedamaian bagi orang lain, apa pun agamanya. Ketika orang berpuasa sesungguhnya juga dilatih dan digembleng untuk menjadi orang yang jujur.Bukankah sikap jujur sangat dibutuhkan oleh profesi apa pun? Jadi, baik puasa maupun Lebaran sesungguhnya terkandung pesan dan perbaikan sosial.Antara lain untuk menumbuhkan dan mewujudkan solidaritas sosial sebagaimana diisyaratkan oleh perintah zakat fitrah.

Inti dan semangat zakat adalah menutupi jurang perbedaan kelas sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Jika tujuan sosial ini tercapai, ibadah seseorang telah berfungsi dalam kehidupan riil sehari-hari. Dalam kaitan itu kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan kepada orang-orang kota yang secara ekonomis telah sukses dan mereka pada waktu Lebaran pulang mudik adalah, mereka membawa berkah atau fitnah kepada orang desa?

Kalau pulang malah ternyata menimbulkan iri hati dan kecemburuan sosial, berarti Lebaran telah menimbulkan fitnah berupa keresahan psikologi bagi orang-orang kampung. Karena itu, barangkali bagi orang yang pulang kampung, kapan pun waktunya, bertingkahlah bijaksana dan simpatik sehingga Lebaran benar-benar membawa berkat, menimbulkan keakraban hati antara sesama sanak famili maupun kawan lama yang sudah sekian bulan atau tahun tidak berjumpa.

Inilah arti silaturahmi, yaitu silah berarti tali penghubung atau pengikat, rahmi artinya kasih sayang yang tulus. Nah, peristiwa Lebaran mestinya juga merupakan media penghubung dan bertatap muka secara fisik dan sekaligus antarhati sanubari yang dalam dan tulus. Dalam istilah agama Lebaran disebut Idul Fitri, yaitu suatu doa, cita, dan harapan bahwa mereka yang telah selesai menunaikan ibadah puasa dan kemudian saling memaafkan, suasana psikologis mereka menjadi bersih,ikhlas,dan lugas bagaikan bayi. Betapa indahnya perilaku bayi.

Apapun yang dilakukan serbaindah dan alami. Orang tua tak akan marah meskipun sang bayi kencing sewaktu dipondong. Mengapa begitu? Salah satu sebabnya adalah hati sang bayi terbebas dari rasa benci. Hatinya tulus dan segala perbuatannya serbalugas. Sementara orang tua pun begitu. Mereka selalu bersikap mencintai dan pemaaf kepada bayinya. Ketika bayi semakin besar, kalaupun orang tuanya kadang kala marah, itu bukan karena benci, tetapi karena cintanya yang diwujudkan dalam bentuk marah untuk mendidik anak.

Alangkah indahnya kalau saja dalam lingkungan keluarga dan pergaulan kita selalu terjalin hubungan cinta kasih yang tulus, yang satu selalu siap memaafkan yang lain. Pribadi yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta kasih biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat. Dan memaafkan itu cerminan kebesaran jiwa seseorang dan sekaligus mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.(*)