Media Sangat Berperan dalam Revolusi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Aula Student Center, BERITA UIN Online - Wartawan al-Jazirah-Indonesia Dr Dimyati Basori, MA menegaskan,  peran media baik internet, tv, radio, koran, twitter, dan facebook dalam sebuah revolusi sangat berarti sekali. Tanpa media, revolusi suatu bangsa niscaya tak akan sampai ke tangan pemerintah dan diketahui masyarakat luas.

Demikian benang merah yang dapat ditarik dalam seminar internasional bertajuk “Menguak Revolusi Timur-Tengah” yang diselenggarakan dalam rangka UIN Book Fair 2011 oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas (DPMU) berkerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (BEM FKIK), BEMJ MIPA, BEMJ Akutansi, BEMJ Pendidikan Dokter di Aula Student Center, Kamis (12/5).

Wartawan  al-Jazirah-Indonesia ini menilai, sampai saat ini, media al-Jazirah mampu mengangkat dan meng-cover peristiwa atau kejadian-kejadian yang sesuai dengan kenyataan di lapangan seperti di Tunisia, Qatar, dan Mesir. Walaupan ada beberapa wartawan al-Jazirah yang pernah ditangkap oleh Amerika dan sekutunya akan tetapi publikasi ke media massa tidak pernah berhenti. Bahkan di Timur Tengah media al-Jazirah paling banyak diakses karena beritanya yang selalu update.

Dimyati menambahkan, revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya.

Menurut Dimyati, kurang lebih 20 juta Zionis Amerika dan sekutunya tersebar di seluruh penjuru dunia, sebab mereka mampu menguasai dan merancang sistem keuangan dan media massa secara global. Oleh karena itu, peran media massa tergantung siapa yang memilikinya. “Jika orang baik maka publikasinya baik bahkan sebaliknya,” katanya.

Ia menuturkan, inisial revolusi itu berangkat dari sebuah pemikiran masyarakat yang menginginkan kebebasan yang menjamin kehidupan mereka.  Tanpa revolusi kehidupan tidak akan berubah dan terus menerus dibawah otoriter pemerintah.

Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Indonesia pun pernah mengalami revolusi. Namun, revolusi itu hanya tinggal nama dan kenangan saja sebab kondisi masyarakat belum berubah, bahkan sebagian wilayah Indonesia diakui negara tetangga.

“Kewajiban kita sekarang hanya belajar dengan tekun, bersatu, dan mempererat ushul (dasar) bukan furu’(cabang), sebab cabang itu dibutuhkan dalam hal toleransi, dan kerjasama saja bukan masalah tauhid,” ungkapnya. []