Media Sangat Berpengaruh Terhadap Bangsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung Fidikom, UIN Online - Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto MSi mengatakan, peran media kini sangat berpengaruh bagi kehidupan bangsa Indonesia. Terlebih media industri memiliki peran untuk bisa memberikan budaya populer, terutama televisi, ke masyarakat.

“Sering kita lihat tayangan di TV, seperti reality show yang secara tidak langsung bisa membuat orang lain melakukan sesuatu senekad mungkin dalam melakukan tuntutan media,” kata Gun Gun dalam Diskusi Publik Budaya Populer di Media Massa yang diadakan BEM Konsentrasi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom) di ruang teater Fidkom, (3/12).

Menurut Gun Gun, bertahan atau tidaknya suatu media sangat ditentukan oleh publik sendiri. Media, lanjut Gun Gun, bisa bertahan setidaknya memiliki unsur terkait seperti keseragaman bentuk, adaptabilitas, dan orientasi dari media sendiri.

“Semuanya itu bergantung dari publik, apakah masih menyukai tayangan dari TV atau tidak. Karena publik bisa menentukan tayangan TV, di samping ada kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI),” ujar Gun Gun yang juga dosen ilmu komunikasi politik Fidikom.

Keseragaman bentuk dimaksud, sebuah ciptaan manusia yang menjadi tren akhirnya diikuti oleh banyak penjiplak. sedangkan adaptabilitas, sebuah budaya populer mudah dinikmati dan diadopsi oleh publik. Sementara orientasi industri media, merujuk pada kebutuhan costumer (publik) yang mencakup aspek kualitas, lingkungan pesaing, juga bergantung tingkat harapan masyarakat.

“Perlu diingat, media massa juga dapat merekonstruksi sosial kepada publik dalam memahami atau melihat kejadian yang ada,” lanjut Gun Gun. Rekonstruksi sosial dimaksud, proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.

Sementara itu Direktur International Office UIN Prof Dr Andi Faisal Bakti mengakui, peran media tetap diakui dalam mempengaruhi publik kepada perubahan yang terjadi. Menurut Andi, media populer yang mempengaruhi publik seperti tv, majalah, film, dan musik.

Andi juga meyanyangkan KPI yang telah “memberhentikan” tayangan program Empat Mata di Trans-7 beberapa waktu lalu. Bagi Andi, tayangan seperti itu dapat merugikan informasi yang seharusnya diterima publik. “Boleh jadi tayangan itu diberhentikan ada manfaatnya, baik untuk ilmu pengetahuan maupun hiburan,” jelas Andi yang juga dosen ilmu komunikasi Fidikom ini.

 

 

 

 

 

 

 

Media Sangat Berpengaruh Terhadap Bangsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Jaenuddin Ishaq

Gedung Fidikom, UIN Online - Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto MSi mengatakan, peran media kini sangat berpengaruh bagi kehidupan bangsa Indonesia. Terlebih media industri memiliki peran untuk bisa memberikan budaya populer, terutama televisi, ke masyarakat.

“Sering kita lihat tayangan di TV, seperti reality show yang secara tidak langsung bisa membuat orang lain melakukan sesuatu senekad mungkin dalam melakukan tuntutan media,” kata Gun Gun dalam Diskusi Publik Budaya Populer di Media Massa yang diadakan BEM Konsentrasi Jurnalistik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom) di ruang teater Fidkom, (3/12).

Menurut Gun Gun, bertahan atau tidaknya suatu media sangat ditentukan oleh publik sendiri. Media, lanjut Gun Gun, bisa bertahan setidaknya memiliki unsur terkait seperti keseragaman bentuk, adaptabilitas, dan orientasi dari media sendiri.

“Semuanya itu bergantung dari publik, apakah masih menyukai tayangan dari TV atau tidak. Karena publik bisa menentukan tayangan TV, di samping ada kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI),” ujar Gun Gun yang juga dosen ilmu komunikasi politik Fidikom.

Keseragaman bentuk dimaksud, sebuah ciptaan manusia yang menjadi tren akhirnya diikuti oleh banyak penjiplak. sedangkan adaptabilitas, sebuah budaya populer mudah dinikmati dan diadopsi oleh publik. Sementara orientasi industri media, merujuk pada kebutuhan costumer (publik) yang mencakup aspek kualitas, lingkungan pesaing, juga bergantung tingkat harapan masyarakat.

“Perlu diingat, media massa juga dapat merekonstruksi sosial kepada publik dalam memahami atau melihat kejadian yang ada,” lanjut Gun Gun. Rekonstruksi sosial dimaksud, proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif.

Sementara itu Direktur International Office UIN Prof Dr Andi Faisal Bakti mengakui, peran media tetap diakui dalam mempengaruhi publik kepada perubahan yang terjadi. Menurut Andi, media populer yang mempengaruhi publik seperti tv, majalah, film, dan musik.

Andi juga meyanyangkan KPI yang telah “memberhentikan” tayangan program Empat Mata di Trans-7 beberapa waktu lalu. Bagi Andi, tayangan seperti itu dapat merugikan informasi yang seharusnya diterima publik. “Boleh jadi tayangan itu diberhentikan ada manfaatnya, baik untuk ilmu pengetahuan maupun hiburan,” jelas Andi yang juga dosen ilmu komunikasi Fidikom ini.