Media Harus Berikan Manfaat bagi Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Apristia Krisna Dewi

Ruang Diorama, BERITA UIN Online - Perkembangan media yang semakin pesat di era globalisasi memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif media adalah memberikan akses komunikasi dan  informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat serta menyatukan masyarakat lewat jejaring sosial. Sedangkan dampak negatifnya yakni dapat merusak moral masyarakat, terutama lewat cybercrime akibat tak terbatasnya akses serta mendorong masyarakat untuk hidup konsumtif dan hedonis. Namun, hingga kini masyarakat menganggap media lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dampak positif. Sehingga media tidak memberikan nilai penting dalam kehidupan sosial.

Permasalahan tersebut terungkap dalam diskusi panel “Media and Values, Cherising Commonalities and Differences” yang diselenggarakan Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta di Ruang Diorama, Rabu (30/3). Diskusi panel yang dipandu Rahmat Baihaqi MA (Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi)  menghadirkan narasumber Jon Paul Ph.D (The Lutheran Theological Seminary at Philadelphia), Prof Radhi al-Mabuk (University of Northern Iowa), dan Hakan Yesilova (The Fountain Magazine).

Besarnya pengaruh media tak lepas dari peran sarana penyampaian media. Dalam diskusi tersebut dikemukakan, sedikitnya 75 persen masyarakat modern menikmati media melalui sarana televisi, 10 persen dari internet, 10 persen dari media cetak, dan sisanya 5 persen dari lembaga pendidikan baik formal maupun informal.

Namun, peran media bagi masyarakat modern dewasa ini dianggap tidak mewakili nilai-nilai penting yang berlaku dalam kehidupan sosial dan budaya. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat modern sebagai konsumen utama media lebih memanfaatkan media massa. Internet misalnya, sebagai sarana  untuk mengabdikan diri kepada modernisasi, eksistensi, dan konsumerisme. Hal itu jelas tidak akan memberikan makna bagi kehidupan manusia itu sendiri.

“Seharusnya masuknya media ke dalam kehidupan masyarakat tidak boleh melupakan nilai-nilai penting seperti agama, sosial, dan budaya. Karena itu, media diharapkan dapat menghidupkan nilai positif dan membuang nilai-negatif,” ungkap Prof Radhi al-Mabuk.

Senada dengan Prof Radhi al-Mabuk, Jon Paul Ph.D mengatakan, hilangnya nilai-nilai penting media dalam masyarakat disebabkan karena  kurang terkendalinya manusia dalam menikmati media. Akibatnya media dianggap lebih banyak memberikan dampak negatif dan melupakan sisi positif.

“Media yang dikuasai oleh kapitalis pada umumnya lebih berorientasi pada nilai pasar untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, sehingga jelas terlihat media sudah menggeser kedudukan kehidupan tradisional menjadi modern serta melupakan nilai-nilai etis dan religius,” katanya.

Jon Paul melanjutkan, tak jarang media menimbulkan kemerosotan moral pada masyarakat yang ditandai dengan maraknya pornografi dan cybercrime. Karena itu, untuk mengembalikan nilai-nilai media dapat dilakukan dengan berbagai upaya di antaranya mengembangkan media melalui pendekatan religius, kekeluargaan, kehidupan masyarakat di mana mengembangkan media dengan prinsip moralitas dan kebaikan, pendekatan pendidikan di sekolah serta pendekatan lewat dialog keagamaan.

Sementara itu, Hakan Yesilova dari The Fountain Magazine mengungkapkan, untuk mengembalikan nilai-nilai esensi media dalam masyarakat adalah dengan melalui pendekatan sains dan spiritual. Ia juga prihatin dengan banyaknya produk media baik itu media cetak maupun elektronik yang tidak mengandung nilai spritual dan sains demi komersialitas dan eksistensi.

“Sebenarnya sangat penting bagi media modern untuk menanamkan prinsip  sains dan spiritualitas untuk membangkitkan motivasi akan pentingnya nilai positif bagi kehidupan manusia. Dan, saya yakin media cetak The Fountain Magazine memberikan manfaat tersebut bagi masyarakat,” tuturnya tanpa bermaksud mempromosikan majalah tersebut.[]

Media Harus Berikan Manfaat bagi Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Apristia Krisna Dewi

Ruang Diorama, BERITA UIN Online - Perkembangan media yang semakin pesat di era globalisasi memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif media adalah memberikan akses komunikasi dan  informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat serta menyatukan masyarakat lewat jejaring sosial. Sedangkan dampak negatifnya yakni dapat merusak moral masyarakat, terutama lewat cybercrime akibat tak terbatasnya akses serta mendorong masyarakat untuk hidup konsumtif dan hedonis. Namun, hingga kini masyarakat menganggap media lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dampak positif. Sehingga media tidak memberikan nilai penting dalam kehidupan sosial.

Permasalahan tersebut terungkap dalam diskusi panel “Media and Values, Cherising Commonalities and Differences” yang diselenggarakan Fethullah Gulen Chair UIN Jakarta di Ruang Diorama, Rabu (30/3). Diskusi panel yang dipandu Rahmat Baihaqi MA (Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi)  menghadirkan narasumber Jon Paul Ph.D (The Lutheran Theological Seminary at Philadelphia), Prof Radhi al-Mabuk (University of Northern Iowa), dan Hakan Yesilova (The Fountain Magazine).

Besarnya pengaruh media tak lepas dari peran sarana penyampaian media. Dalam diskusi tersebut dikemukakan, sedikitnya 75 persen masyarakat modern menikmati media melalui sarana televisi, 10 persen dari internet, 10 persen dari media cetak, dan sisanya 5 persen dari lembaga pendidikan baik formal maupun informal.

Namun, peran media bagi masyarakat modern dewasa ini dianggap tidak mewakili nilai-nilai penting yang berlaku dalam kehidupan sosial dan budaya. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat modern sebagai konsumen utama media lebih memanfaatkan media massa. Internet misalnya, sebagai sarana  untuk mengabdikan diri kepada modernisasi, eksistensi, dan konsumerisme. Hal itu jelas tidak akan memberikan makna bagi kehidupan manusia itu sendiri.

“Seharusnya masuknya media ke dalam kehidupan masyarakat tidak boleh melupakan nilai-nilai penting seperti agama, sosial, dan budaya. Karena itu, media diharapkan dapat menghidupkan nilai positif dan membuang nilai-negatif,” ungkap Prof Radhi al-Mabuk.

Senada dengan Prof Radhi al-Mabuk, Jon Paul Ph.D mengatakan, hilangnya nilai-nilai penting media dalam masyarakat disebabkan karena  kurang terkendalinya manusia dalam menikmati media. Akibatnya media dianggap lebih banyak memberikan dampak negatif dan melupakan sisi positif.

“Media yang dikuasai oleh kapitalis pada umumnya lebih berorientasi pada nilai pasar untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, sehingga jelas terlihat media sudah menggeser kedudukan kehidupan tradisional menjadi modern serta melupakan nilai-nilai etis dan religius,” katanya.

Jon Paul melanjutkan, tak jarang media menimbulkan kemerosotan moral pada masyarakat yang ditandai dengan maraknya pornografi dan cybercrime. Karena itu, untuk mengembalikan nilai-nilai media dapat dilakukan dengan berbagai upaya di antaranya mengembangkan media melalui pendekatan religius, kekeluargaan, kehidupan masyarakat di mana mengembangkan media dengan prinsip moralitas dan kebaikan, pendekatan pendidikan di sekolah serta pendekatan lewat dialog keagamaan.

Sementara itu, Hakan Yesilova dari The Fountain Magazine mengungkapkan, untuk mengembalikan nilai-nilai esensi media dalam masyarakat adalah dengan melalui pendekatan sains dan spiritual. Ia juga prihatin dengan banyaknya produk media baik itu media cetak maupun elektronik yang tidak mengandung nilai spritual dan sains demi komersialitas dan eksistensi.

“Sebenarnya sangat penting bagi media modern untuk menanamkan prinsip  sains dan spiritualitas untuk membangkitkan motivasi akan pentingnya nilai positif bagi kehidupan manusia. Dan, saya yakin media cetak The Fountain Magazine memberikan manfaat tersebut bagi masyarakat,” tuturnya tanpa bermaksud mempromosikan majalah tersebut.[]