Media Cetak Memasuki Era Mediamorfosis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Ekawati

Fidkom, UIN Online – CEO Hikmah Publishing House M Deden Ridwan mengungkapkan, peluang dan tantangan bisnis media cetak kini memasuki era mediamorfosis. Semua bentuk media komunikasi baru dan lama akan berkembang bersama.

”Media lama tidak mungkin langsung mati dengan munculnya media baru. Karena itu, sebuah industri media tidak hanya berspekulasi seputar how to make atau how to sale a book,” jelas Deden pada Kuliah Umum Konsentrasi Jurnalistik di Ruang Teater Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom), Kamis (19/11).

Mengutip Roger Fidler (2003), Deden menjelaskan, mediamorfosis merupakan perkembangan media secara intens. Sebuah industri media akan terus berkembang, jika konten dalam produknya banyak mengandung posibility atau berbagai macam alasan pembeli berminat membeli sebuah produk.

Hal yang penting diperhatikan penerbit bukan semata faktor isi, melainkan model kemasan, penggunaan bahasa, spesifikasi produk, disain isi, tipografi, hingga sensitivitas harga. ”Ini akan menentukan laris tidaknya sebuah buku,” tegasnya.

Di samping itu, lanjut Deden, industri media juga harus menciptakan awareness, persuasi, dan personal image bagi seorang tokoh. ”Karena itu, marketing dari kata-kata seorang public figure lebih cepat diikuti masyarakat ketimbang marketing by design yang diciptakan penerbit,” pungkasnya. []

Media Cetak Memasuki Era Mediamorfosis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Ekawati

Fidkom, UIN Online – CEO Hikmah Publishing House M Deden Ridwan mengungkapkan, peluang dan tantangan bisnis media cetak kini memasuki era mediamorfosis. Semua bentuk media komunikasi baru dan lama akan berkembang bersama.

”Media lama tidak mungkin langsung mati dengan munculnya media baru. Karena itu, sebuah industri media tidak hanya berspekulasi seputar how to make atau how to sale a book,” jelas Deden pada Kuliah Umum Konsentrasi Jurnalistik di Ruang Teater Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidkom), Kamis (19/11).

Mengutip Roger Fidler (2003), Deden menjelaskan, mediamorfosis merupakan perkembangan media secara intens. Sebuah industri media akan terus berkembang, jika konten dalam produknya banyak mengandung posibility atau berbagai macam alasan pembeli berminat membeli sebuah produk.

Hal yang penting diperhatikan penerbit bukan semata faktor isi, melainkan model kemasan, penggunaan bahasa, spesifikasi produk, disain isi, tipografi, hingga sensitivitas harga. ”Ini akan menentukan laris tidaknya sebuah buku,” tegasnya.

Di samping itu, lanjut Deden, industri media juga harus menciptakan awareness, persuasi, dan personal image bagi seorang tokoh. ”Karena itu, marketing dari kata-kata seorang public figure lebih cepat diikuti masyarakat ketimbang marketing by design yang diciptakan penerbit,” pungkasnya. []