Mayoritas Pesantren Salafiyah di Banten Ajarkan Ilmu Magis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Humaidi

Auditorium SPs, BERITA UIN Online Mayoritas pesantren salafiyah di Banten mengajarkan dan mempraktekkan ilmu magis kepada santrinya dan masyarakat umum. Selain pesantren terdapat pula tempat-tempat lain seperti padepokan silat dan padepokan debus. Hal itu diungkapkan oleh Sholahuddin al-Ayyubi, mahasiswa Program Doktor UIN Jakarta, pada sidang promosi doktor di Auditorium Sekolah Pascarjanara (SPs), Rabu (9/11).

Kesimpulan tersebut didapatkan Sholahuddin berdasarkan hasil penelitian disertasinya yang berjudul “Magi di Lingkungan Pesantren: Studi Magi dalam Kitab Mujarrabat al-Dairabi al-Kabir karya Sheikh Ahmad al-Dairabi al-Shafi’i di Pondok Pesantren Salafiyah Banten.”

Menurut dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten itu, pengajaran dan praktek ilmu magis di lingkungan pesantren sangat berbeda dengan praktek magis pada umumnya seperti perdukunan. “Di pesantren, para kiai dan santrinya memegang teguh al-Quran dan sunnah Nabi serta kitab-kitab kuning karya para ulama salaf sebagai sandaran,” jelasnya.

Di samping memegang teguh al-Quran dan sunnah Nabi, pengajaran dan praktek ilmu magis di lingkungan pesantren harus melalui proses ijazah dari seorang guru atau kiai kepada santrinya. Ijazah merupakan simbol penyerahan, pewarisan, dan diperbolehkannya seorang santri untuk mengamalkan ilmu magis tersebut. “Tanpa ijazah, seorang santri sulit untuk memperoleh khasiat ilmu tersebut, bahkan diyakini tidak akan dapat barakah dan dapat membahayakan jiwanya,” katanya.

Penelitian disertasi tersebut, menurut Doktor ke-481 dari SPs itu, menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologis. Sumber primer yang digunakan adalah kitan Mujarrabat al-Kabir, karya Sheikh Ahmad ak-Dairabi. Sumber primer lainnya adalah kitab-kitab hikmat, observasi, dan wawancara dengan para kiai, ustadz, santri, dan masyarakat.

Hadir sebagai penguji dan sekaligus promotor Direktur Sekolah Pascasarja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Azyumardi Azra, Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta  Prof Dr Bambang Pranowo. Penguji lain adalah Prof Dr Mohammad Atho Mudzhar, Prof Dr Mulyadhi Kartanegara, dan Prof Dr Soetjipto.

Dalam kesempatan itu, promovendus yang memulai studi di SPs sejak 2006 dinyatakan lulus dengan IPK 3,25, atau sangat memuaskan.[]