Masjid Al-Hikmah Den Haag

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid Al-Hikmah Den Haag. Inilah masjid kedua yang dimiliki komunitas Muslim Indonesia dalam diaspora Barat, persisnya Eropa. Satunya lagi adalah masjid yang juga bernama Masjid Al-Hikmah di wilayah diaspora New York; terletak di kawasan Queens, salah satu borough New York City.

Masjid Al-Hikmah Den Haag semula adalah gereja yang dibeli pengusaha Probosutedjo pada 1996, kemudian diserahkan pengelolaannya kepada KBRI Den Haag bersama komunitas Muslim Indonesia Belanda. Sebelumnya, Masjid Al-Hikmah New York, yang semula adalah gudang, dibeli tatkala presiden Soeharto lewat Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila dan Departemen Agama di bawah menteri agama Tarmizi Taher ‘menambahi’ dana yang telah dikumpulkan masyarakat Muslim Indonesia New York selama bertahun-tahun sehingga memadai untuk membeli bangunan tersebut.

Saya cukup sering datang ke masjid-masjid itu untuk mengisi pengajian. Biasanya, saya mengunjunginya sekalian untuk urusan konferensi. Keduanya adalah masjid yang cukup besar dengan bangunan representatif, indah, resik, dan terpelihara baik. Tak kurang pentingnya, dua masjid itu selalu ramai dengan jamaah, bukan hanya kaum Muslim Indonesia, melainkan juga Muslimin bangsa-bangsa lain yang tinggal berdekatan dengan masjid-masjid tersebut. Bahkan, setiap waktu shalat, kedua masjid hampir selalu dipenuhi jamaah Muslim dari berbagai bangsa.

Ketika masuk ke Masjid Al-Hikmah Den Haag, tidak lagi terlihat bahwa masjid ini sebelumnya adalah gereja. Konon, sekarang ini kian sulit bagi kaum Muslim di Belanda membeli gereja yang tidak digunakan lagi untuk mengubahnya menjadi masjid. Ada sentimen keagamaan di sini. Bangunan gereja boleh dibeli, tetapi digunakan untuk kepentingan bisnis dan semacamnya. Sebab itu, bagi komunitas Muslim Indonesia Belanda, terbelinya gereja tersebut menjadi masjid merupakan berkah yang terus-menerus mereka syukuri. Apalagi, kalaupun ingin membeli sekarang ini, harganya pasti sangat tinggi dan tentu tidak mungkin lagi terbeli.

Saya kembali lagi ke Masjid Al-Hikmah Den Haag untuk memberi ceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad akhir Februari 2010 lalu seusai mengikuti sebuah konferensi di Brussels. Seperti lazimnya komunitas Muslim Indonesia di diaspora, setiap acara keagamaan boleh dikatakan juga merupakan kesempatan baik untuk silaturahim dan ‘temu kangen’. Karena itu, acara semacam ini secara tipikal ditandai juga dengan makan bersama sekaligus merupakan kesempatan menikmati makanan Indonesia, khususnya bagi mereka yang hidup di perantauan dan tanpa keluarga sehingga sehari-hari jarang menemukan makanan Tanah Air.

Bagaimanapun komunitas Islam Indonesia dalam diaspora tetaplah jamaah yang khas, yang menampilkan berbagai ekspresi  living Islam yang khas pula. Saya juga menemukan ekspresi keagamaan yang khas itu dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad di Masjid Al-Hikmah Den Haag. Yaitu, pembacaan shalawat Nabi SAW dan barzanji yang dipimpin seorang Muslimah muda yang kebetulan juga adalah qariah. Dengan fasih dan syahdu, dia memimpin pembacaan shalawat dan barzanji secara bersama-sama sambil berdiri, lalu diikuti para jamaah yang bukan hanya Muslim Indonesia, melainkan juga Muslim yang berasal dari tempat-tempat lain.

Bagi sebagian Muslim, khususnya di Timur Tengah, mungkin masih kontroversial dan bahkan belum bisa diterima jika seorang Muslimah memimpin bacaan barzanji. Bahkan, masih banyak yang menolak perempuan membaca Alquran di ranah publik, termasuk di masjid. Salah satu alasan pokok bagi keberatan itu adalah suara perempuan termasuk ‘aurat’. Secara fikiyah, ‘aurat’ adalah bagian-bagian tubuh manusia yang dapat mendorong bangkitnya birahi alias syahwat.

Ketika berceramah di lingkaran akademik Universitas Leiden beberapa hari setelah Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Hikmah Den Haag, saya juga menceritakan pembacaan shalawat Nabi SAW dan barzanji yang dipimpin seorang perempuan. Bagi mereka, hal ini sangat mengagetkan, khususnya bagi sahabat saya, seorang Belanda yang menulis disertasi PhD tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad di Afrika Utara, yang melibatkan kontroversi tentang boleh atau tidak membaca shalawat dan barzanji sambil berdiri dan tentu saja dipimpin laki-laki. Memang, pada awal abad ke-20, kontroversi itu terjadi di banyak bagian dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Dapat dibayangkan kontroversi bakal tambah menjadi-jadi kalau perempuan yang memimpin pembacaan shalawat dan barzanji secara berjamaah.

Tentu saja, kini tidak ada lagi kontroversi tentang hal-hal semacam itu, khususnya tentang kebolehan Muslimah tampil di ranah publik. Kaum Muslimah Indonesia pastilah masih menghadapi banyak masalah, baik internal di dunia perempuan sendiri maupun dalam kaitannya dengan lingkungan sosial lebih luas. Tapi, semua masalah itu hendaknya tidak menutupi kenyataan tentang keluasan ruang gerak kaum Muslimah di nusantara ini. Tidak ada segregasi, apalagi penindasan bersifat ideologis dari kaum laki-laki ataupun adanya struktur-struktur sosial yang bisa membuat kaum perempuan tidak bisa berkutik.

Karena itu, banyak yang patut kita syukuri dengan realitas dan dinamika Islam dan Muslimin-Muslimat Indonesia. Tindak lanjut dari rasa syukur itu adalah tetap berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim Indonesia tanpa memandang gender. Dengan begitu, kita bisa terus memperkuat kebanggaan kita pada tradisi Islam dan Muslimin-Muslimat di nusantara ini.

(-)

Masjid Al-Hikmah Den Haag

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid Al-Hikmah Den Haag. Inilah masjid kedua yang dimiliki komunitas Muslim Indonesia dalam diaspora Barat, persisnya Eropa. Satunya lagi adalah masjid yang juga bernama Masjid Al-Hikmah di wilayah diaspora New York; terletak di kawasan Queens, salah satu borough New York City.

Masjid Al-Hikmah Den Haag semula adalah gereja yang dibeli pengusaha Probosutedjo pada 1996, kemudian diserahkan pengelolaannya kepada KBRI Den Haag bersama komunitas Muslim Indonesia Belanda. Sebelumnya, Masjid Al-Hikmah New York, yang semula adalah gudang, dibeli tatkala presiden Soeharto lewat Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila dan Departemen Agama di bawah menteri agama Tarmizi Taher ‘menambahi’ dana yang telah dikumpulkan masyarakat Muslim Indonesia New York selama bertahun-tahun sehingga memadai untuk membeli bangunan tersebut.

Saya cukup sering datang ke masjid-masjid itu untuk mengisi pengajian. Biasanya, saya mengunjunginya sekalian untuk urusan konferensi. Keduanya adalah masjid yang cukup besar dengan bangunan representatif, indah, resik, dan terpelihara baik. Tak kurang pentingnya, dua masjid itu selalu ramai dengan jamaah, bukan hanya kaum Muslim Indonesia, melainkan juga Muslimin bangsa-bangsa lain yang tinggal berdekatan dengan masjid-masjid tersebut. Bahkan, setiap waktu shalat, kedua masjid hampir selalu dipenuhi jamaah Muslim dari berbagai bangsa.

Ketika masuk ke Masjid Al-Hikmah Den Haag, tidak lagi terlihat bahwa masjid ini sebelumnya adalah gereja. Konon, sekarang ini kian sulit bagi kaum Muslim di Belanda membeli gereja yang tidak digunakan lagi untuk mengubahnya menjadi masjid. Ada sentimen keagamaan di sini. Bangunan gereja boleh dibeli, tetapi digunakan untuk kepentingan bisnis dan semacamnya. Sebab itu, bagi komunitas Muslim Indonesia Belanda, terbelinya gereja tersebut menjadi masjid merupakan berkah yang terus-menerus mereka syukuri. Apalagi, kalaupun ingin membeli sekarang ini, harganya pasti sangat tinggi dan tentu tidak mungkin lagi terbeli.

Saya kembali lagi ke Masjid Al-Hikmah Den Haag untuk memberi ceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad akhir Februari 2010 lalu seusai mengikuti sebuah konferensi di Brussels. Seperti lazimnya komunitas Muslim Indonesia di diaspora, setiap acara keagamaan boleh dikatakan juga merupakan kesempatan baik untuk silaturahim dan ‘temu kangen’. Karena itu, acara semacam ini secara tipikal ditandai juga dengan makan bersama sekaligus merupakan kesempatan menikmati makanan Indonesia, khususnya bagi mereka yang hidup di perantauan dan tanpa keluarga sehingga sehari-hari jarang menemukan makanan Tanah Air.

Bagaimanapun komunitas Islam Indonesia dalam diaspora tetaplah jamaah yang khas, yang menampilkan berbagai ekspresi  living Islam yang khas pula. Saya juga menemukan ekspresi keagamaan yang khas itu dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad di Masjid Al-Hikmah Den Haag. Yaitu, pembacaan shalawat Nabi SAW dan barzanji yang dipimpin seorang Muslimah muda yang kebetulan juga adalah qariah. Dengan fasih dan syahdu, dia memimpin pembacaan shalawat dan barzanji secara bersama-sama sambil berdiri, lalu diikuti para jamaah yang bukan hanya Muslim Indonesia, melainkan juga Muslim yang berasal dari tempat-tempat lain.

Bagi sebagian Muslim, khususnya di Timur Tengah, mungkin masih kontroversial dan bahkan belum bisa diterima jika seorang Muslimah memimpin bacaan barzanji. Bahkan, masih banyak yang menolak perempuan membaca Alquran di ranah publik, termasuk di masjid. Salah satu alasan pokok bagi keberatan itu adalah suara perempuan termasuk ‘aurat’. Secara fikiyah, ‘aurat’ adalah bagian-bagian tubuh manusia yang dapat mendorong bangkitnya birahi alias syahwat.

Ketika berceramah di lingkaran akademik Universitas Leiden beberapa hari setelah Maulid Nabi SAW di Masjid Al-Hikmah Den Haag, saya juga menceritakan pembacaan shalawat Nabi SAW dan barzanji yang dipimpin seorang perempuan. Bagi mereka, hal ini sangat mengagetkan, khususnya bagi sahabat saya, seorang Belanda yang menulis disertasi PhD tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad di Afrika Utara, yang melibatkan kontroversi tentang boleh atau tidak membaca shalawat dan barzanji sambil berdiri dan tentu saja dipimpin laki-laki. Memang, pada awal abad ke-20, kontroversi itu terjadi di banyak bagian dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Dapat dibayangkan kontroversi bakal tambah menjadi-jadi kalau perempuan yang memimpin pembacaan shalawat dan barzanji secara berjamaah.

Tentu saja, kini tidak ada lagi kontroversi tentang hal-hal semacam itu, khususnya tentang kebolehan Muslimah tampil di ranah publik. Kaum Muslimah Indonesia pastilah masih menghadapi banyak masalah, baik internal di dunia perempuan sendiri maupun dalam kaitannya dengan lingkungan sosial lebih luas. Tapi, semua masalah itu hendaknya tidak menutupi kenyataan tentang keluasan ruang gerak kaum Muslimah di nusantara ini. Tidak ada segregasi, apalagi penindasan bersifat ideologis dari kaum laki-laki ataupun adanya struktur-struktur sosial yang bisa membuat kaum perempuan tidak bisa berkutik.

Karena itu, banyak yang patut kita syukuri dengan realitas dan dinamika Islam dan Muslimin-Muslimat Indonesia. Tindak lanjut dari rasa syukur itu adalah tetap berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim Indonesia tanpa memandang gender. Dengan begitu, kita bisa terus memperkuat kebanggaan kita pada tradisi Islam dan Muslimin-Muslimat di nusantara ini.

(-)