Masjid Al-Aqsa

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Masjid al-Aqsa. Mengelilingi masjid yang pernah menjadi kiblat pertama kaum Muslimin dalam shalat, yang menyelinap dalam pikiran dan perasaan adalah kekaguman terhadap arsitekturnya yang unik. Dibangun jauh sebelum adanya semen, masjid ini terdiri atas kubus batu-batu besar, yang entah bagaimana dulu mereka mengangkat dan menyusunnya sehingga sangat kokoh. Bangunan masjid tidak hanya terdiri atas satu lantai dasar, tetapi juga mencakup lantai bawah tanah dengan beberapa ruangan masjid, termasuk ruangan yang dipercayai sebagai tempat Nabi Muhammad SAW mengimami para nabi lain sebelum Mikraj.

Arsitektur yang sama juga terlihat pada Masjid Qubbah al-Sakhrah, yang mencakup ruang gua yang dilindungi batu menggantung seperti kubah. Inilah tempat yang dipercayai sebagai titik Rasulullah bertolak melakukan Mikraj; kini ada lubang dengan bau wangi yang tersisa di tangan peziarah yang memasukkan tangannya-mengingatkan peziarah pada Hajar Aswad di Masjid al-Haram.

Juga ada kesyahduan rohani yang dalam ketika membayangkan Rasulullah melakukan Mikraj berangkat dari Masjid al-Aqsa ini. Inilah perjalanan menuju pusat eksistensial yang menggambarkan berbagai pengalaman anak manusia dalam kehidupan masing-masing.

Berkeliling ke berbagai bagian Masjid al-Aqsa dan Qubbah al-Sakhrah, kawasan Kota Tua Jerusalem, tempat kedua bangunan historis ini berdiri adalah oasis keislaman dan sekaligus eksistensial bagi kaum Muslimin Palestina. Bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, Masjid al-Aqsa adalah tempat suci ketiga setelah Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid al-Nabawi di Madinah. Karena itu, ia juga menjadi tumpuan ziarah, termasuk dari Indonesia yang datang dalam jumlah kian banyak-memadukannya dengan perjalanan umrah.

Muhammad Majid, warga Palestina, pemandu wisata rohaniah yang menemani berkeliling, bercerita banyak tentang kesulitan hidup di Kota Tua Jerusalem. Warga Palestina merupakan ‘penduduk tetap’-bukan warga negara Israel seperti warga Arab Palestina yang tinggal di wilayah utama Israel. Sebagian mereka memiliki paspor Yordania, yang juga kian sulit mereka peroleh.

Warga Palestina di Jerusalem hampir tidak bisa lagi berhubungan dengan mereka yang tinggal di wilayah Tepi Barat; mereka terkepung tembok tinggi yang dibangun penguasa Israel, yang merupakan semacam ‘Tembok Berlin’; atau dalam istilah mantan presiden AS, Jimmy Carter, ‘simbol politik apartheid’ Israel. Mereka yang tinggal di wilayah Tepi Barat sangat sulit masuk ke Kota Tua Jerusalem, terutama untuk menjual hasil pertanian, komoditas, dan produk lain serta mencari nafkah dalam sektor konstruksi dan pekerjaan kasar lainnya. Akibatnya, kondisi ekonomi bangsa Palestina di Tepi Barat kian sulit dari hari ke hari.

Sambil menikmati teh dengan daun mint yang khas di Suq samping kiri Masjid al-Aqsa, saya mendapat briefing dari Yahav Zohar dan Majid tentang kenestapaan Palestina. Para pedagang Palestina selain menjual bahan makanan pokok kebutuhan sehari-hari, juga menawarkan banyak suvenir keagamaan. Inilah pasar yang dibangun Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-93) setelah berhasil membebaskan kembali wilayah Suriah yang mencakup Palestina sepanjang 1177-82 dari kekuasaan Laskar Salib.

Yahav, aktivis LSM Anti-Penggusuran Rumah Palestina, bercerita panjang tentang berbagai perubahan peta Palestina, khususnya wilayah Tepi Barat, yang membuat kawasan Masjid al-Aqsa terkepung di tengah terus kian meluasnya wilayah permukiman ilegal orang Yahudi. Banyak rumah warga Palestina dihancurkan; mereka tidak boleh memperbaiki apalagi membangun rumah baru. Jika membuat bangunan atau ruang tambahan, mereka segera mendapat denda berat dari penguasa Kota Jerusalem. Usaha kelompok Anti-Penggusuran Rumah Palestina tidak banyak berhasil.

Cerita yang sama juga dituturkan keluarga Khalidi yang memiliki Maktabah al-Khalidi di kawasan Kota Tua Jerusalem. Berbagai bangunan milik keluarga Khalidi yang termasuk kelompok elite Palestina selama berabad-abad disita penguasa Israel dengan ‘alasan keamanan’. Mereka harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan bangunan berlantai dua yang menyimpan banyak naskah tua dan buku klasik lainnya.

Bagaimana selanjutnya nasib Masjid al-Aqsa, Qubbah al-Sakhrah, dan wilayah Palestina lainnya? Sangat sulit memprediksikannya. Harapan memang sempat tebersit ketika Presiden AS, Barack Obama, belum lama ini memaklumkan agar Israel kembali ke batas sebelum Perang 1967. Tetapi, Obama segera ‘meralat’ pernyataannya itu, ketika PM Israel Benyamin Netanyahu menolak mentah-mentah gagasan tersebut. Perjuangan masih sangat panjang bagi bangsa Palestina untuk mewujudkan hak-hak kemanusiaannya yang

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan dimuat pada Harian Republika, 9 Juni 2011