Masa Turki Usmani, Akhlak Dijunjung Tinggi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Elly Afriani

Aula SPs, UIN Online — Pada masa kekhalifahan Turki Usmani, Islam berada pada puncak kejayaan. Islam pengaruhnya sangat kuat pada saat itu. Orang-orang Turki pada saat itu sangat memegang teguh al-Quran dan Hadis, termasuk soal akhlak dan kebiasaan.

Hal ini dikemukakan Direktur Fethullah Gulen Chair UIN Dr Ali Unsal kuliah umum bertajuk The Moral Values in Ottoman di Aula Sekolah Pascasarjana (SPs), Selasa (22/12).

Ali memaparkan nilai moral yang sangat dipegang teguh, seperti kebersihan, kejujuran, tanggung jawab dan kesopanan. Orang-orang Turki Usmani pada saat itu sangat menjaga kebersihan. Mereka menerapkan hadits, kebersihan sebagian dari iman.

Ini terbukti dengan adanya kebiasaan melepas sepatu sebelum masuk ke rumah, tidak memelihara hewan di dalam rumah, memisahkan ruang khusus untuk mandi dan buang air. Ini berbeda dengan kebiasaan bangsa Eropa yang mandi seperlunya saja.

“Kebersihan ini datangnya dari Islam, dan muslim sangat menyukai kebersihan. Kita membersihkan diri kita lima kali sehari, dengan wudhu sebelum shalat. Ini tidak hanya membuat kita bersih secara fisik tetapi juga spiritual,” jelasnya.

Orang Turki Usmani sangat jujur sebab sejak kecil, anak-anak sudah diajarkan akhlak Islami berbasis al-Quran dan as-Sunnah. Menurut kesaksian para turis yang mengunjungi Turki pada masa Kekhalifahan Turki Usmani, jika ada dompet atau uang yang tidak sengaja tertinggal tidak ada yang berani mengambilnya. Dompet dan uang itu akan dikembalikan kepada pemiliknya.

“Jika ada yang terbukti berbohong, maka dahinya akan diberi cap agar masyarakat tahu bahwa dia pembohong,” tambahnya.

Ia mencontohkan, para pedagang yang sangat bertanggung jawab, tidak akan menjual barang yang di bawah kualitas aslinya. Sikap tersebut mempresentasikan bahwa muslim dapat dipercaya.

Kesopanan juga tercermin dari akhlak masyarakat Islam di bawah pemerintahan Turki Usmani. Tidak ada menganggu satu sama lain, merendahkan suara, saling rendah hati. Mereka tidak hanya menghargai manusia tapi juga tumbuhan dan hewan.

Sehingga, tidak heran banyak yayasan yang diperuntukkan untuk membantu sesama, melestarikan lingkungan dan hewan. Tidak ada diskriminasi, semua golongan dihormati, walaupun bukan dari kalangan muslim. Bahkan, musafir atau turis yang berasal dari luar sangat dihormati, dengan adanya tempat-tempat yang menyediakan penginapan, makanan, dan minuman secara gratis.

“Saya bisa simpulkan di bawah kepemimpinan Turki Usmani selama enam abad kerukunan, keamanan dan keberagaman sangat dijaga dengan akhlak Islami yang diterapkan semua masyarakat saat itu,” imbuhnya.

 

 

Masa Turki Usmani, Akhlak Dijunjung Tinggi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Elly Afriani

Aula SPs, UIN Online — Pada masa kekhalifahan Turki Usmani, Islam berada pada puncak kejayaan. Islam pengaruhnya sangat kuat pada saat itu. Orang-orang Turki pada saat itu sangat memegang teguh al-Quran dan Hadis, termasuk soal akhlak dan kebiasaan.

Hal ini dikemukakan Direktur Fethullah Gulen Chair UIN Dr Ali Unsal kuliah umum bertajuk The Moral Values in Ottoman di Aula Sekolah Pascasarjana (SPs), Selasa (22/12).

Ali memaparkan nilai moral yang sangat dipegang teguh, seperti kebersihan, kejujuran, tanggung jawab dan kesopanan. Orang-orang Turki Usmani pada saat itu sangat menjaga kebersihan. Mereka menerapkan hadits, kebersihan sebagian dari iman.

Ini terbukti dengan adanya kebiasaan melepas sepatu sebelum masuk ke rumah, tidak memelihara hewan di dalam rumah, memisahkan ruang khusus untuk mandi dan buang air. Ini berbeda dengan kebiasaan bangsa Eropa yang mandi seperlunya saja.

“Kebersihan ini datangnya dari Islam, dan muslim sangat menyukai kebersihan. Kita membersihkan diri kita lima kali sehari, dengan wudhu sebelum shalat. Ini tidak hanya membuat kita bersih secara fisik tetapi juga spiritual,” jelasnya.

Orang Turki Usmani sangat jujur sebab sejak kecil, anak-anak sudah diajarkan akhlak Islami berbasis al-Quran dan as-Sunnah. Menurut kesaksian para turis yang mengunjungi Turki pada masa Kekhalifahan Turki Usmani, jika ada dompet atau uang yang tidak sengaja tertinggal tidak ada yang berani mengambilnya. Dompet dan uang itu akan dikembalikan kepada pemiliknya.

“Jika ada yang terbukti berbohong, maka dahinya akan diberi cap agar masyarakat tahu bahwa dia pembohong,” tambahnya.

Ia mencontohkan, para pedagang yang sangat bertanggung jawab, tidak akan menjual barang yang di bawah kualitas aslinya. Sikap tersebut mempresentasikan bahwa muslim dapat dipercaya.

Kesopanan juga tercermin dari akhlak masyarakat Islam di bawah pemerintahan Turki Usmani. Tidak ada menganggu satu sama lain, merendahkan suara, saling rendah hati. Mereka tidak hanya menghargai manusia tapi juga tumbuhan dan hewan.

Sehingga, tidak heran banyak yayasan yang diperuntukkan untuk membantu sesama, melestarikan lingkungan dan hewan. Tidak ada diskriminasi, semua golongan dihormati, walaupun bukan dari kalangan muslim. Bahkan, musafir atau turis yang berasal dari luar sangat dihormati, dengan adanya tempat-tempat yang menyediakan penginapan, makanan, dan minuman secara gratis.

“Saya bisa simpulkan di bawah kepemimpinan Turki Usmani selama enam abad kerukunan, keamanan dan keberagaman sangat dijaga dengan akhlak Islami yang diterapkan semua masyarakat saat itu,” imbuhnya.