Mari Bersikap Optimistis

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Anda ingin mengeluh, mencaci,dan frustrasi? Banyak hal bisa dijadikan sasaran caci maki dan banyak alasan bisa dibangun secara logis untuk mendukung sikap frustrasi. Kehidupan memang selalu menyimpan tragedi.

Kitab suci pun merekam tragedi kehidupan yang dimulai sejak Adam.Dia terusir dari surga, lalu anaknya, Kabil dan Habil, bertarung dan salah satunya meninggal. Sejarah kehidupan selalu diwarnai pesta kemenangan dan kekalahan. Tetapi jika Anda mau bersikap sebaliknya, yaitu optimistis dan positif,tak kalah banyak fakta dan argumen untuk mendukungnya. Hidup kita kadang memang diposisikan untuk membuat penilaian, adakah ”gelas itu setengah penuh atau setengah kosong”.

Bersikap optimistis dan positif tidak berarti mengabaikan pikiran kritis. Dengan optimistis dan berpikir positif justru terbuka berbagai peluang untuk maju dan bermunculan pikiran alternatif. Saya selalu menyadari bahwa usia republik ini masih sangat muda dibanding negara maju yang sering dijadikan acuan modernisasi dan demokrasi. Sebagai negara muda yang mencakup wilayah yang demikian luas dengan ribuan pulau, ratusan bahasa, adat istiadat, serta agama dan aliran kepercayaan yang sedemikian majemuk, siapa pun pemimpinnya pasti akan menghadapi tantangan berat.

Bangsa ini memang dikenal ramah dan senang gotongroyong. Namun, itu lebih menonjol dalam konteks komunalisme ketika berhubungan dengan sesama warga daerahnya atau kelompoknya. Tetapi, kesadaran dan tradisi sebagai citizen atau ”warga negara” dari sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia masih sangat rendah.

Terdapat jarak yang mesti didekatkan antara sentimen dan loyalitas etnis-kedaerahan menjadi warga negara yang diikat dengan kesadaran hukum dan semangat keindonesiaan, melebihi loyalitas kelompok etnis, golongan, dan agama. Namun, ini tidak berarti tradisi dan kebajikan lokal dan keagamaan lalu dibuang. Jika dilihat ke belakang, jauh sebelum kelahiran RI, terbayang serangkaian konflik dan perang antarkerajaan dan suku di bumi Nusantara ini. Juga perang melawan penjajah.

Begitu pun setelah merdeka, ternyata berbagai pemberontakan dan gejolak politik susul-menyusul sejak yang berskala nasional yang memuncak pada peristiwa G-30-S dan masih terjadi lagi tragedi Mei 1998. Setelah itu konflik antarkelompok etnis dan agama juga terjadi di berbagai wilayah Indonesia.Dan ingatan kita masih segar bagaimana serangkaian bom bunuh diri mengharubiru perasaan kita semua.

Melihat itu semua jelas cukup alasan bagi kita untuk bersikap pesimistis-negatif terhadap kondisi bangsa dan negara. Belum lagi berita korupsi, kecelakaan lalu lintas, peredaran narkoba, dan pengangguran yang setiap hari disajikan media massa. Meski begitu, sesungguhnya jauh lebih banyak alasan bagi kita untuk bersikap optimistis dan mensyukuri kondisi yang ada sebagai modal untuk bangkit mengisi lembaran-lembaran baru kehidupan berbangsa dengan cerita yang indah.

Dibandingkan negaranegara Timur Tengah yang tengah bergejolak menuntut penerapan demokrasi akibat penguasa yang tiran, alhamdulillah, Indonesia telah berhasil melampauinya. Jabatan presiden dibatasi maksimal hanya dua kali.Masyarakat memiliki ruang terbuka untuk mendirikan partai politik guna menyalurkan aspirasinya dalam mengatur jalannya pemerintahan. Meskipun terdapat kebocoran anggaran dan kebijakan politik yang kadang tidak jelas dan tegas,bagaimanapun pemerintah berjalan stabil dan memperoleh kepercayaan dunia.

Kelompok dan gerakan ekstremisme-radikalisme, apa pun ideologinya, semakin tidak populer, ruang geraknya kian menyempit. Masyarakat sudah semakin dewasa bahwa berbagai paham keagamaan yang menyebarkan kebencian dan permusuhan dengan sesamanya ujungnya hanya akan menyengsarakan diri, para ulama pun tidak menaruh simpati dan pembenaran atas paham dan gerakan mereka.

Jika semua ini diterima sebagai pembelajaran secara cerdas dan serius, akan berlaku formula bahwa sebuah bangsa akan tumbuh besar hanya setelah lulus mengalahkan berbagai problem dan tantangan besar yang menghadangnya. Sebagai anak bangsa saya berbangga dan salut pada para pendahulu dan pejuang negeri ini yang telah lulus mengalahkan tantangan pada zamannya. Hanya mengeluh dan mencaci tanpa ikut bekerja keras memecahkan problem bangsa adalah sikap yang tidak terpuji.

Malu terhadap para pendahulu kita yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dan menjaga tegaknya republik ini. Termasuk sikap tidak terpuji, bahkan pengkhianat, adalah mereka yang diberi kepercayaan dan jabatan mulia untuk melipatgandakan amal baktinya untuk negeri, tetapi malah korupsi, hanya memikirkan kepentingan dirinya. Pejabat seperti ini mestinya mundur atau diundurkan saja segera.