Malaysia-Indonesia Miliki Hubungan Sejarah Kuat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Gedung FEIS, UINJKT Online – Malaysia dan Indonesia, sebagai dua negara serumpun, memiliki hubungan sejarah yang cukup kuat. Sejarah itu misalnya, Indonesia adalah satu di antara negara pertama yang membuka hubungan diplomatik dengan Malaysia sejak negara ini merdeka tahun 1957.

Hal itu dikatakan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia Mohammad Nurhisyam Mohammad Yusof dalam diskusi tentang prospek hubungan bilateral Malaysia-Indonesia yang digelar Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS) di gedung FEIS, Selasa (8/7). Turut hadir Dekan FEIS Drs Mohammad Faisal Badroen MBA dan Ketua Jurusan HI Nazaruddin Nasution SH MA.

“Namun, hubungan Malaysia-Indonesia belakangan ini sempat terganggu oleh berbagai isu yang muncul ke permukaan, seperti TKI, pembalakan liar, klaim perbatasan, dan seni budaya,” katanya.

Meski demikian, menurut Yusof, berbagai isu dan kasus yang muncul itu sejauh ini masih dapat diatasi oleh pemerintah kedua negara. Bahkan, kedua negara telah saling memahami posisi masing-masing. “Masalah TKI misalnya, hampir tak dipungkiri bahwa kehadiran TKI di Malaysia telah memberikan kontribusi bagi peningkatan ekonomi Indonesia selain membantu dalam pembangunan Malaysia,” kilahnya. Ia menambahkan, Malaysia sejauh ini tak melarang sejumlah TKI bekerja di Malaysia asal dilakukan dengan cara legal dan mematuhi peraturan serta hukum yang berlaku.

Menyinggung soal klaim Malaysia terhadap berbagai produk seni budaya Indonesia seperti lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, angklung, dan batik, Yusof membantah bahwa pemerintahnya telah melakukan tindakan “membajak” hak cipta. Secara kebetulan, katanya, batik Malaysia dan Indonesia memiliki kesamaan namun berbeda dari sisi motif. “Jadi, tak ada pernyataan bukti bahwa Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange, batik, Reog Ponorogo, dan angklung sebagai miliknya,” tandasnya.

Yusof berharap berbagai masalah yang mengganggu hubungan Malaysia-Indonesia dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan ia juga berharap hubungan keduanya di masa mendatang dapat terjalin dengan lebih baik dalam kerangka ASEAN.

Malaysia-Indonesia Miliki Hubungan Sejarah Kuat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Gedung FEIS, UINJKT Online – Malaysia dan Indonesia, sebagai dua negara serumpun, memiliki hubungan sejarah yang cukup kuat. Sejarah itu misalnya, Indonesia adalah satu di antara negara pertama yang membuka hubungan diplomatik dengan Malaysia sejak negara ini merdeka tahun 1957.

Hal itu dikatakan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia Mohammad Nurhisyam Mohammad Yusof dalam diskusi tentang prospek hubungan bilateral Malaysia-Indonesia yang digelar Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial (FEIS) di gedung FEIS, Selasa (8/7). Turut hadir Dekan FEIS Drs Mohammad Faisal Badroen MBA dan Ketua Jurusan HI Nazaruddin Nasution SH MA.

“Namun, hubungan Malaysia-Indonesia belakangan ini sempat terganggu oleh berbagai isu yang muncul ke permukaan, seperti TKI, pembalakan liar, klaim perbatasan, dan seni budaya,” katanya.

Meski demikian, menurut Yusof, berbagai isu dan kasus yang muncul itu sejauh ini masih dapat diatasi oleh pemerintah kedua negara. Bahkan, kedua negara telah saling memahami posisi masing-masing. “Masalah TKI misalnya, hampir tak dipungkiri bahwa kehadiran TKI di Malaysia telah memberikan kontribusi bagi peningkatan ekonomi Indonesia selain membantu dalam pembangunan Malaysia,” kilahnya. Ia menambahkan, Malaysia sejauh ini tak melarang sejumlah TKI bekerja di Malaysia asal dilakukan dengan cara legal dan mematuhi peraturan serta hukum yang berlaku.

Menyinggung soal klaim Malaysia terhadap berbagai produk seni budaya Indonesia seperti lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo, angklung, dan batik, Yusof membantah bahwa pemerintahnya telah melakukan tindakan “membajak” hak cipta. Secara kebetulan, katanya, batik Malaysia dan Indonesia memiliki kesamaan namun berbeda dari sisi motif. “Jadi, tak ada pernyataan bukti bahwa Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange, batik, Reog Ponorogo, dan angklung sebagai miliknya,” tandasnya.

Yusof berharap berbagai masalah yang mengganggu hubungan Malaysia-Indonesia dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan ia juga berharap hubungan keduanya di masa mendatang dapat terjalin dengan lebih baik dalam kerangka ASEAN.