Malam Idul Fitri Harus Perbanyak Ibadah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Di mana pada hari itu umat Islam merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Perayaan rutin setiap tahun ini menjadi momen sangat penting setelah berpuasa selama sebulan pada bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam merayakannya dengan suka dan cita, tak berbeda yang rajin puasa maupun yang hanya alakadarnya. Lantas, apa makna yang tersembunyi di balik Idul Fitri? Berikut petikan wawancara Muhammad Nurdin dari UINJKT Online dengan Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) Prof Dr Abuddin Nata di ruang kerjanya, Selasa (7/9).

Apa makna Idul Fitri bagi umat Islam?

Idul Fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna “kembali”, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri selalu berulang dan kembali datang setiap tahun yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Kedua, kata fitri yang bermakna berbuka atau bebas. Artinya, kata fitri di situ diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab kurang mengekspresikan makna Idul Fitri itu sendiri.

Ada makna lain?

Makna lain Idul Fitri bisa diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci, sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Selain makna di atas, Idul Fitri dapat dimaknai dengan kecendrungan kepada agama, kebaikan, dan keindahan. Pertama, dengan agama melahirkan etika, norma akhlak, dan moralitas yang akan membawa manusia pada jalan yang lurus. Kedua, dengan kebaikan akan melahirkan ilmu yang membawa kepada kemajuan seseorang. Ketiga, dengan keindahan akan melahirkan jiwa-jiwa yang mempunyai seni (estetika), berhati lembut, dan selalu memampilkan keindahan.

Adakah keterkaitan antara zakat fitrah dengan Idul Fitri?

Ya karena dengan zakat seseorang dapat mensucikan harta yang dimiliki. Sebab  boleh jadi harta yang dimiliki terdapat hak-hak fakir miskin dan anak yatim. Oleh karena itu, dengan berzakat menggambarkan sikap kepedulian sosial yang semua itu adalah hasil didikan dari puasa. Sehingga akan timbul sikap saling berbagi kebahagian, dan saling memaafkan pada hari raya. Sedangkan Idul Fitri yaitu kita kembali kepada fitrah, seperti bayi yang baru lahir. Dosa-dosa kita pun demikian kembali bersih, tanpa mempunyai dosa sedikit pun karena sudah dilebur saat bulan puasa dengan berbagai ibadah dan permohonan taubat.

Lantas, bagaimana cara mengetahui seseorang itu fitrah?

Apabila telah melewati bulan Ramadhan ada peningkatan amal maka bisa dikatakan seseorang itu suci (fitrah). Hal ini bisa dilihat dari peningkatan shalat sunnah, rajin membaca al-Qur’an, dan saling berbagi kebahagiaan. Puasa adalah bukan sebagai tradisi atau rutinitas spritual saja akan tetapi menjadi bulan peningkatan amal.

Bagaimana seharusnya umat Islam merayakan Idul Fitri?

Dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 184 sudah dijelaskan tentang etika dalam merayakan hari raya. Pertama, tidak merayakan Idul Fitri sebelum Ramadhan berakhir atau tanggal 1 Syawwal. Kedua, menghidupkan malam Idul Fitri dengan memperbanyak beribadah kepada Allah, baik itu dzikir, shalat atau membaca al-Qur’an. Melantunkan kalimat takbir juga merupakan ibadah yang dianjurkan pada malam Idul Fitri. Ketiga, memperbanyak bersyukur yang ditandai dengan saling mengunjungi sanak keluarga, teman, saling memaafkan, dan saling memberi makanan dan minuman. (ns)