Mahasiswa FISIP Belajar Sidang PBB di Boston

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Siapa yang tak kenal dengan Harvard University? Universitas tertua rintisan John Harvard yang berdiri sejak 1636 itu, konon, selalu berada pada ranking pertama universitas terbaik dunia, khususnya pada Jurusan Ilmu Hukum. Tahun ini, Harvard menggelar konferensi ke-57 simulasi Sidang PBB yang diikuti ribuan mahasiswa perguruan tinggi dari seluruh penjuru dunia, termasuk UIN Jakarta.

“Kebanggaan”, kata itu mungkin yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan kelima delegasi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta semester empat dan delapan, yang pada 17-20 Februari 2011 lalu mengunjungi Harvard University, Boston, Amerika Serikat. Kelimanya diundang untuk mengikuti konferensi ke-57 simulasi persidangan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang digelar melalui program Harvard National Model United Nation (HNMUN) di Hotel Boston Park Plaza, berjarak sekitar dua kilometer dari Kampus Harvard University. Mereka adalah Mike Martaleta, Muhammad Nabil, Nadya I. Sabran, Riana Mardila, dan Rizky Al Huda Adrianus serta seorang dosen pembimbing, Arisman MSi.

Namun, peserta konferensi tak hanya dari UIN Jakarta. Beberapa perguruan tinggi lain dari Indonesia seperti Unsoed, Unair, UI, ITB, Unpad, Unpar, dan Undip, juga turut serta.

Konferensi HNMUN merupakan agenda tahunan  Harvard University. Program tersebut diselenggarakan atas kerja sama Harvard University dengan PBB. Setiap tahun, ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia berpartisipasi dan menjadi wakil dari salah satu negara anggota PBB. Tahun ini jumlah peserta yang berpartisipasi tercatat ada 3.000 mahasiswa dari seluruh dunia, termasuk di antaranya dari Amerika. Mereka merepresentasikan ke-192 negara anggota PBB. Uniknya, selama konferensi berlangsung, setiap delegasi justru tidak mewakili negara masing-masing melainkan saling mewakili negara lain. Sebagai contoh, delegasi Indonesia pada konferensi ini  diwakili India, sedangkan delegasi Indonesia mewakili Republik San Marino, sebuah negara terkecil kelima di dunia yang dikelilingi Italia.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan simulasi sidang PBB dibagi ke dalam empat komite besar: General Assembly, Economic and Social Council, Regional Bodies, dan Specialized Agencies. Dari empat komite besar tersebut para delegasi dikelompokkan lagi ke dalam sub-sub komite dengan jumlah 22 komite, seperti Disarmament and International Security Committee, Social Culture and Humanitarian Committee, dan World Trade Organization di bawah General Assembly.

Adapun tema HNMUN 2011 mengangkat tentang pencapaian Millenium Development Goalf (MDGs 2015). Karena itu semua topik yang dibahas masih dalam kerangka MDGs 2015. Selain itu, ada pula tema-tema universal seperti Hak-hak Asasi Manusia,  Keamanan Internasional, dan Ekonomi dan Perdagangan.

Selain kegiatan yang bersifat formal persidangan, para delegasi juga mengadakan delegate dance dan cocktail hour, yakni ajang saling perkenalan dan bertukar kebudayaan masing-masing negara peserta.

Bagi mahasiswa, program HNMUN sangat positif, terutama untuk mengasah kemampuan berdiplomasi, bernegosiasi, berkomunikasi, dan mengembangkan jaringan pergaulan internasional. Kegiatan HNMUN sebenarnya tak hanya diikuti oleh kalangan mahasiswa ilmu-ilmu sosial atau ilmu politik, melainkan oleh semua disiplin ilmu. Hal itu terlihat dari tema-tema yang dibahas dalam penyelenggaraan konferensi, misalnya tentang isu-isu global dan kontemporer, seperti teknologi, perubahan iklim, dan kesehatan. (ns/rizky al-huda adrianus/muhammad nabil)